5. Five

31K 1.5K 39
                                        

Kenzo mengesap puntung rokoknya yang sudah setengah lalu mengeluarkan asap menggempul dari dalam mulutnya. Mata tajamnya melihat lurus kearah orang yang sedang duduk dengan tangan terikat dan lutut sebagai tumpuan di bawah kakinya.

Kedua sudut bibir orang itu berdarah dan muka yang hampir tak berbentuk lagi. Saat ini Kenzo sedang duduk dengan kaki yang disilangkan di sebuah kursi empuk miliknya pada ruangan minim cahaya ini, Ruangan tempat dimana Kenzo bersenang-senang (?).

Kenzo itu Mafia yang berbeda seperti Mafia kebanyakan. Dimana pada umumnya Mafia akan selalu dikawal dan ditemani oleh para bodyguard berbadan tebal yang berotot dan bertulang besi. Lain dengan Kenzo yang hanya mimilih beberapa orang saja untuk bersamanya. Dijaga dengan para bodyguard hanya akan membuat dia di curigai, katanya.

Brakk

Suara bangku berbunyi saat Kenzo bangkit dari duduknya dengan kasar. Berjalan maju menghampiri orang dihadapannya dan berjongkok untuk mensejajarkan muka keduanya. “Ini mulut yang tadi mengumpatku, huh?” Kenzo mengapit dagu orang itu dan menempelkan ujung rokoknya yang menyala disana yang menimbulkan suara jeritan menahan rasa sakit keluar dari mulut orang itu.

Orang itu terus memberontak dan tidak henti-hentinya mengerang kesakitan, ingin melawan namun kondisinya sedang tidak berdaya. Berkali-kali memohon ampun dan belas kasih namun tidak di gubris. Kenzo seperti iblish yang tidak memiliki hati dan rasa iba.

“B-bunuh saja aku langsung!” pinta orang itu dengan suara yang hampir tidak kedengaran.

Lebih baik mati saja, kan? Daripada harus disiksa seperti itu. Setidaknya begitulah yang dipikirkan oleh orang itu.

“Yaaa, kau akan. Tapi tunggu, mengapa kau begitu terburu-buru sekali, tuan. Kita masih harus bersenang-senang.” Kenzo menampilkan senyum lebar dan membuat orang itu berdecih.

Kenzo seperti psychopath (?) tidak akan dia biarkan lawannya mati dengan mudah. Kenzo lebih suka jika menyiksa lawannya secara perlahan hingga mati. Hey, itu sangatlah menyenangkan, menurutnya.

“Dasar iblis!” umpat orang itu.

Kenzo sudah membuang puntung rokoknya dan menginjak benda itu hingga hancur. Tidak akan seru kalo hanya bermain dengan puntung itu, mari mencoba mainan-mainan Kenzo yang lain.

Kenzo berjalan menuju sudut ruangan yang ada meja disana. Meja itu penuh dengan mainan-mainan koleksi Kenzo. Pisau-pisau yang berbeda ukuran dan berbagai bentuk senjata illegal maupun legal terletak rapi disana, dari cutter  hingga baseball ada disana.

Kenzo mengambil mainannya yang paling ringan dan yang paling berat. Cutter dan baseball. Lalu dia berjalan menuju orang itu dengan tesenyum. “Kau berkata seakan kau itu orang baik-baik, tuan. Padahal kita tidak jauh berbeda, hanya saja aku lebih pintar dan kuat.” Kenzo menatap orang itu remeh kemudian berhenti saat jarak mereka hanya beberapa langkah lagi. “Hey, kau wajib memilih yang kau suka, tuan.” Kenzo mengangkat kedua benda yang di pegangnya lebih tinggi. “kau pilih yang mana?”

Orang itu membuang pandangan kearah lain, tidak ingin melihat muka menyebalkan Kenzo yang tidak berhenti tersenyum. “Diam? Oke, aku anggap kau memilih cutter ini, tuan.”

Tak

Baseball di lempar Kenzo dan mendarat tepat mengenai kepala orang itu hingga dia terbaring dengan kepala yang menghatam lantai dengan keras. Darah segar langsung keluar mengalir dari rongga hidung sang empunya. “Itu sebagai hukuman kau tidak memilihnya, mungkin dia marah.” Kenzo berucap seolah sedang merasa iba.

Lalu dia mulai mendekat dan berjongkok lagi di samping tubuh orang itu yang hanya terbaring lemas.

“Kau tahu, ini cutter baru aku beli beberapa bulan yang lalu. Kau akan menjadi orang pertama yang mencobanya. Berbanggalah,” ucap Kenzo bersamaan dengan cutter yang mulai membelah kulit tipis wajah orang itu yang memang sudah lebam.

Mafia's Wife [ Completed ]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang