B9 | THE LITTLE PRINCE

112 15 2
                                        

Pelajaran Fisika hari itu tak banyak menarik perhatian murid di kelas. Kebanyakan dari mereka menganggap Dokter Joe – Guru Fisika – sedikit tidak waras, sehingga terkadang semua orang menganggapnya tidak ada. Jam pelajaran usai, Dokter Joe segera meninggalkan kelas itu dan keluar dari sana seakan tak pernah hadir. Axel mengejarnya keluar.

“Pak Joe…,” panggil Axel.

Dokter Joe berbalik dan menatap Axel dari balik kacamatanya yang tebal.

“Ada apa nak?,” tanya Dokter Joe.

“Aku ingin bertanya Pak, apakah anda memiliki laboraturium pribadi?,” Axel bertanya balik.

“Tentu saja aku punya, tepatnya ada di rumahku. Aku banyak mengerjakan proyek percobaan Fisika untuk makalah dan juga penelitian,” jawab Dokter Joe.

“Jika aku dan sepupuku ke rumah anda, apakah kami boleh ke laboraturium pribadi anda Pak?,” tanya Axel lagi.

“Apa yang akan kalian lakukan jika ke sana?,” tanya Dokter Joe, ingin tahu.

“Kami akan melakukan penelitian untuk melengkapi portofolio yang anda minta. Tapi kami tak bisa mengerjakannya di Sekolah, anda tentu tahu kalau laboraturium Sekolah akan tutup setelah jam Sekolah berakhir,” jawab Axel, mencoba meyakinkan.

“Baiklah…, sore ini jam empat. Aku tunggu kedatangan kalian,”Dokter Joe berbalik pergi meninggalkan Axel.

Axel kembali menuju ke kelasnya. Keenam sepupunya telah menanti untuk mendengar jawaban dari Guru Fisika mereka. Axel duduk di kursinya.

“Dia setuju. Dia menunggu kita sore ini jam empat di rumahnya,” ujar Axel.

“Yeah! Itu baru kabar terbaik yang pernah ku dengar selama berada di sini,” sambut Devan, antusias.

Vernan merangkul Fayzel dan menjahilinya seperti biasa. Azka masuk ke kelas mereka tak lama kemudian.

“Oke, hari ini kita akan membahas tentang Seni Teatrikal,” ujar Azka.

Semua siswa di kelas itu mengeluarkan buku catatan mereka untuk menulis apa yang Guru mereka catat di papan tulis.

“Helena, bisa pinjam buku referensimu?,” tanya Maya.

“Tentu…, ambilah kemari,” jawab Helena.

Maya bergegas mengambil buku tersebut dari Helena. Azka menoleh sesaat dan melihat Andrea yang begitu tenang. Gadis itu lebih banyak diam daripada biasanya. Jam pelajaran Seni berakhir setelah Azka memberikan nilai harian untuk semua siswanya.

Waktu istirahat pun tiba, mereka keluar bersama. Andrea sedang fokus pada ponselnya ketika ia melihat Fin yang telah berada di depan kelasnya. Gadis itu berhenti dan membiarkan sepupu-sepupunya yang lain pergi duluan.

“Ada apa?,” tanya Andrea.

“Kau tak melakukan apapun sejak kemarin. Apakah ada yang salah?,” tanya Fin.

“Terima kasih atas perhatiannya, tapi aku baik-baik saja. Tidak ada yang salah,” jawab Andrea singkat.

Azka keluar tak lama kemudian dari kelas itu, mereka bertiga berpapasan di depan kelas. Azka menatap pada Fin dengan sedikit rasa cemburu di hatinya.

“Andrea, mana sepupumu yang lain? Kenapa tak bersama mereka?,” tanya Azka.

Andrea menatap Azka dan mencoba pura-pura tersenyum.

“Tidakkah anda lihat Pak, aku sedang berbicara dengan sepupuku yang tertua,” jawab Andrea seraya menunjuk pada Fin.

Azka kembali menatap Fin dengan kesal.

Emerald HeirsTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang