Fin berjalan menuju asrama putera seorang diri, yang lain telah lebih dulu kembali sejak tadi. Ketika ia hampir sampai, ia melihat Andrea yang keluar dari asrama puteri diam-diam. Fin pun segera mengurungkan niatnya untuk masuk ke asrama putera dan lebih memilih mengikuti Andrea secara diam-diam.
Andrea masuk ke gedung yang tak terpakai. Ia menyalakan senter mininya dan mencoba mencari sesuatu dari seluruh dinding gedung itu. Fin mengendap-endap di belakangnya secara perlahan.
Saat tiba diujung gedung itu, akhirnya Andrea berhasil menemukan berangkas yang tercatat dalam berkas yang Adam ambil dari Nicole. Andrea menatap berangkas itu sesaat dan mencoba mengamati kuncinya. Fin mendekat.
“Bagaimana kalau kau tertangkap saat mengendap-endap seperti ini?,” tanya Fin mengejutkan Andrea.
Andrea berusaha tenang.
“Menurutmu aku bertindak seperti ini tanpa perhitungan? Aku tentu sudah mempersiapkan diri untuk melawan jika tertangkap,” jawab Andrea.
“Benarkah? Bagaimana kalau aku yang menangkapmu?,” tanya Fin.
“Kau mau menangkapku demi rahasia yang takkan bocor?,” ejek Andrea.
Fin semakin mendekat dan memojokkan Andrea seperti sebelumnya. Andrea bersandar ke dinding.
“Apa yang akan kau cari dariku? Aku hanya membawa senter mini ini,” ujar Andrea.
“Untuk mendapatkan rahasia yang takkan terbongkar itu, aku akan rela melakukan apapun Andrea, termasuk menyakitimu,” ancam Fin.
Andrea tersenyum mengejek.
“Sampai di mana keberanianmu Fin? Jujur saja aku meragukanmu sejak awal, terutama untuk soal adu bela diri,”Andrea balas mengancam.
“Menurutmu bagaimana caraku menyakiti seorang wanita Andrea? Dengan memukul? Tentu saja tidak, aku akan melakukannya dengan hati. Aku akan membuatmu sakit hati seumur hidup jika kau tidak memberitahu rahasia apa yang kau sembunyikan dariku,” Fin terus berusaha.
Andrea tersenyum lagi. Ia melingkarkan lengannya di leher Fin dengan lembut. Fin merasa jantungnya berdebar-debar seketika. Ia bertanya-tanya dalam hati, apa yang akan Andrea lakukan terhadap dirinya?
“Diamlah…, ada yang datang,” bisiknya dengan sangat pelan di telinga Fin.
Andrea lalu menarik Fin untuk masuk ke sebuah ruangan di dekat sana. Fin mengeluarkan pistolnya untuk berjaga-jaga. Sharon terlihat di sana, wanita itu menatap ke arah berangkas tersebut dan membukanya dengan mudah. Andrea mengingat kodenya meskipun sekilas.
Sharon membaca sebuah berkas dan menyalin beberapa hal yang penting ke dalam buku catatnnya. Setelah itu ia meletakkan kembali berkas tersebut ke dalam berangkas dan sebelum menutupnya Sharon melihat sebuah foto usang yang tersimpan di sana. Dia terlihat mulai terisak sebentar. Hingga akhirnya berangkas itu ditutup.
Suara langkah kaki Sharon terdengar keras dan ketika suara pintu gedung itu terdengar di tutup, Andrea dan Fin akhirnya bernafas lega. Andrea menyalakan senter mininya dan melihat-lihat di sekitar ruangan tempat mereka bersembunyi. Fin kembali mendekat pada Andrea yang sedang melihat tumpukan berkas yang sudah sangat usang.
“Bagaimana kau bisa tahu kalau ada yang datang?,” tanya Fin.
“Aku takkan memberitahumu,” jawab Andrea tak peduli.
Fin memeluk Andrea dari belakang.
“Apa yang kau lakukan?,” tanya Andrea.
“Mencoba untuk menyakitimu,” jawab Fin.
KAMU SEDANG MEMBACA
Emerald Heirs
Science Fiction[COMPLETED] Jika berbohong bisa membuatku membuka topengmu, maka akan kulakukan kebohongan sebanyak yang kubisa. Jangan salahkan aku jika menyimpan rahasia terlalu banyak, karena rahasia yang kau sembunyikan hampir seumur hidupmu lebih keji dari yan...
