Andrea akhirnya turun ke lantai bawah, ia tertidur setelah Dokter Min Ho menggantikan perban di punggungnya tadi. Jam sudah menunjukkan pukul setengah sebelas malam, ia melihat para Dokter belum tidur dan masih bekerja di laboraturium. Andrea membuka pintu dapur di lantai satu dan memasak sesuatu. Ia yakin kalau para Dokter itu mulai lapar kembali.
Dokter Lea menutup berkas yang sedang ia baca, wanita itu merenggangkan sedikit bahunya yang tegang karena lelah. Dokter Han memegangi perutnya.
“Hmm…, aku lapar kembali,” ujar Dokter Han.
“Bagaimana kalau kita turun ke dapur, siapa tahu saja ada makanan di kulkas,” usul Dokter Giselle.
“Kalau ada…, bisakah bawakan aku sekalian?,” pinta Dokter Nelson.
“Tentu…, akan kami bawakan jika ada,” Dokter Lea menjawab permintaan itu.
Ketika mereka akan membuka pintu, Andrea telah lebih dulu membuka pintu itu dan mendorong troli berisi makanan ke dalam laboraturium.
“Nona Andrea…, kau memasak?,” tanya Dokter Giselle, terkejut.
“Ya…, aku yakin kalian mulai lapar kembali,” jawab Andrea, seraya tersenyum.
“Dan kau membuat Ramyeon!!!,” seru Dokter Han, senang.
“Hmm…, aku yakin kalian butuh sesuatu yang bisa menghangatkan perut. Jadi aku membuat Ramyeon,” jawab Andrea.
“Wah, kau memang yang terbaik,” puji Dokter Nelson.
Mereka semua mulai makan bersama di laboraturium itu, Andrea memegangi berkas namun tak membacanya. Gadis itu terlihat melamun.
“Nona Andrea kau pucat sekali, ada apa denganmu?,” tanya Dr. Theo.
Andrea pun mengangkat wajahnya dan menatap Dokter Theo.
“Boleh aku jujur Dokter? Sepertinya, punggungku yang tertembak sedikit bermasalah. Aku tak bisa menahan sakitnya, rasanya menusuk sampai ke tulang,” Andrea mengakui.
Dokter Han segera meletakkan mangkuknya lalu bergegas membuka baju Andrea dan melihat terjadi pendarahan di balik perbannya. Dokter Nelson membantu untuk membaringkan Andrea pelan-pelan di atas ranjang. Dokter Min Ho yang baru keluar dari toilet sedikit kaget saat melihat Andrea kembali berbaring di ranjang dengan darah yang mengalir di punggungnya. Ia mendekat.
“Ada apa ini?,” tanya Dokter Min Ho.
“Terjadi pendarahan, Andrea tak bisa menahan rasa sakitnya,” jawab Dokter Han.
Dokter Min Ho segera mengambil peralatan bedahnya lagi. Ia kembali membuka jahitan di punggung Andrea dan membersihkan lukanya hingga benar-benar steril.
“Oke, tinggal di jahit saja. Biar aku yang jahit,” ujar Dokter Min Ho.
“Oke, kami akan makan dulu. Andrea sudah memasak untuk kami sejak tadi,” pamit Dokter Han.
Dokter Min Ho mulai menjahit luka di punggung Andrea pelan-pelan. Gadis itu berusaha menahan sakit sejak tadi.
Dokter Nelson selesai makan dan segera mendekat pada Dokter Min Ho.
“Pergilah makan, nanti Ramyeon milikmu dingin,” ujar Dokter Nelson.
“Ramyeon? Kau membuatnya?,” tanya Dokter Min Ho, pada Dokter Nelson.
“Bukan. Andrea yang membuatnya. Pergilah makan.”
Dokter Min Ho menatap ke arah Andrea.
“Hmm…, aku yang membuatnya. Pergilah makan, nanti Ramyeon-nya dingin,” ujar Andrea.
KAMU SEDANG MEMBACA
Emerald Heirs
Fiksi Ilmiah[COMPLETED] Jika berbohong bisa membuatku membuka topengmu, maka akan kulakukan kebohongan sebanyak yang kubisa. Jangan salahkan aku jika menyimpan rahasia terlalu banyak, karena rahasia yang kau sembunyikan hampir seumur hidupmu lebih keji dari yan...
