23. My Answer

3K 353 133
                                    

Yunho menajamkan tatapan nya saat melihat dua orang paruh baya dan seorang lagi yang mungkin adalah anak nya, sedang berjalan menuju ke ruang ICU tempat dia menunggui Rio sendirian.

Tak salah lagi, rombongan itu menuju ke arah nya, ayah Park tersenyum ramah, Yunho pun langsung berdiri karena merasa mengenali.

"Tuan Park" sambut nya membungkuk, dan ayah Park pun menyalami nya, mereka kemudian duduk di bangku besi yang memang sudah disediakan oleh pihak rumah sakit.

Rose terus menunduk gelisah, di samping ibu Park, perasaan nya tak karuan, dimana dia sangat ingin segera melihat dan bertemu langsung dengan Rio, tapi dia sendiri juga belum berani, atau tak siap, sementara ayah Park sedang mengutarakan maksud kedatangan nya pada Yunho.

"Putri ku sangat mencemaskan keadaan Rio, jadi aku membawa nya kesini untuk menjenguknya, tuan tidak keberatan kan dengan kedatangan kami?" Tanya ayah Park sungkan, Yunho tersenyum hangat.

"Tentu tidak tuan, aku malah berharap Rose  mampu membawa hal positif bagi perkembangan kesehatan Rio" jawab Yunho.

"Rosie, kamu ingin bertemu Rio kan? Mari aku antar" Yunho berkata sambil memajukan tubuhnya untuk menatap ke arah Rose yang duduk di samping appa dan eomma nya.

"N-ne tuan Jung" gugup Rose, dia kemudian berdiri, melepas topi, masker dan jaket nya untuk dia titipkan pada sang ibu.

Rose, tuan Jung dan ayah Park pun berjalan menuju ke sebuah ruangan yang tak jauh dari tempat mereka duduk tadi, dan sampailah mereka di depan ruangan berdinding kaca yang lumayan lebar.

Sret

Seorang perawat dengan baju steril biru lengkap, menarik tirai nya dari dalam ruangan, dan. . .

Duar

Jantung Rose terasa seperti di hujam benda tajam, melihat pemandangan di depan nya, di mana Rio berbaring tak sadarkan diri dengan begitu banyak alat medis yang menempel di tubuh nya.

Jantung Rose terasa seperti di hujam benda tajam, melihat pemandangan di depan nya, di mana Rio berbaring tak sadarkan diri dengan begitu banyak alat medis yang menempel di tubuh nya

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Pria dingin yang biasanya terlihat gantle dan gagah saat menjalankan tugas nya itu, sekarang terlihat begitu lemah dan tak berdaya.

Tes

Air mata Rose tak terbendung lagi, ayah Park pun langsung merangkul bahu sang putri dan memeluk nya, tangis pun pecah, rasa sakit, khawatir, cemas dan takut bercampur jadi satu di hati Rose saat ini, otak nya blank, dia takut melihat kondisi Rio yang seperti tak bernyawa selama setengah bulan terakhir.

"Dia pasti akan segera sadar, Rio adalah laki-laki yang kuat" ayah Park berusaha menghibur hati sang putri, meski dalam hati dia juga merasa takut, jika hal buruk akan menimpa Rio, mengingat dia sudah lama dalam keadaan koma.

Ayah Park kembali membawa tubuh putri nya ke bangku tempat ibu Park duduk, mencoba untuk menenangkan anak gadis nya yang terlihat hancur sekarang, Rose terus menangis sesenggukan di dekapan sang ibu, tanpa merespon apa pun yang ayah dan ibu nya katakan, akhirnya mereka pun diam, membiarkan Rose terus menangis di pelukan sang ibu yang hanya bisa mengusap-usap punggung putri nya, agar lebih tenang.

Ayah Park menekati Yunho yang masih terdiam menatap Rio dari depan jendela.

"Ku dengar, pelaku sudah tertangkap di daerah Busan, apa benar itu tuan?" Tanya Yunho tanpa menoleh pada ayah Park, yang ditanya menghela nafas berat.

"Yaa, polisi berhasil melacak keberadaan nya, kami sebagai orang tua, tak akan membiarkan dia mendapatkan hukuman ringan, karena ulah nya, nyawa putri kami jadi terancam, dan Rio yang akhirnya jadi korban, bahkan nyawa nya pun tak sebanding jika ditukar dengan keadaan Rio saat ini" geram ayah Park.

"Jika terjadi sesuatu pada Rio, ku pastikan keluarga nya tak bisa hidup tenang" ancam Yunho.

Sudah sejam lebih, dan hanya ada kebisuan diantara 4 orang dewasa itu, Rose sudah berhenti menangis, dia sudah lebih tenang sekarang, meski wajahnya masih sembab.

"Appa" lirih Rose memanggil sang ayah

"Ya sayang?" Ayah Park pun mendekati sang putri.

"Aku ingin melihat Rio lebih dekat, apa boleh?" Tanya Rose memelas, ayah Park pun duduk disamping putri nya.

"Apa kamu yakin sayang? Hanya 1 orang saja yang di ijinkan masuk, appa khawatir kamu tak akan kuat di dalam sana" jelas ayah Park.

"Aku kuat, ku mohon appa" pinta Rose, ayah Park menatap pada Yunho seolah meminta ijin, dan hanya di balas anggukan kepala.

Dan Rose pun mulai memakai baju steril yang sudah disediakan, berkali-kali dia menghela nafas untuk menenangkan perasaan nya sendiri, sementara ayah dan ibu Park, serta Yunho berdiri di depan jendela, menunggu Rose memasuki ruangan ICU tempat Rio berbaring koma.

Dengan menarik nafas panjang sambil menutup kedua matanya Rose pun mulai memberanikan diri melangkah masuk, dan berjalan berlahan menuju ke tempat Rio berbaring, meski terlihat ragu, tapi Rose terus maju, berusaha menguatkan hati nya sendiri untuk mendekati orang terkasih, dan sekarang, Rose tepat berdiri disebelah kanan ranjang Rio, menatap pilu pada pengawalnya yang kini seolah tak bernyawa.

Rose menggerakan tangan kanan nya berlahan, untuk menggenggam tangan kanan pengawal nya itu, dan lagi, air mata nya menetesi lengan Rio.

"O-oppa" panggilnya dengan suara bergetar, karena menahan menangis.

"Bangunlah oppa, aku merindukan mu" lanjut Rose di tengah isakan yang gagal dia tahan.

"Aku lebih suka melihat oppa mengacuhkan ku dari pada melihat oppa yang seperti ini" Rose terus berusaha mengajak Rio bicara, meski dia tahu, sang pria tak akan merespon nya.

"Apa oppa tak ingin mendengar jawaban ku atas pernyataan oppa waktu itu?" Lanjut Rose lagi sambil menatap sendu wajah Rio, dan sedikit meremas telapak tangan nya.

Ibu Park menggiggit bibir bawah sambil menekan dada kiri nya sendiri, melihat interaksi sang putri dan pengawalnya yang begitu mengharukan.

"Oppa, hati ku membutuhkan kehadiran pemilik nya, ku mohon, jangan tinggalkan aku" Rose sesenggukan dengan tangan kiri nya yang membelai rambut sang pria, dada nya terasa sesak melihat keadaan Rio, dan bayangan kejadian penembakan itu, masih selalu hadir di dalam mimpi Rose, tatapan dan suara itu terus terngiang ditelinga nya.

Ayah dan ibu Park cemas melihat mereka dari luar, Rose pun mengakhiri perbincangan nya dengan Rio karena dia sudah tak kuat lagi.

"Appa" panggil Rose begitu keluar ruangan, wajah nya sudah basah dengan air mata.

Bruk

Rose pingsan sebelum sang ayah sempat menghampiri nya.



#TBC

The BodyguardTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang