Sesungguhnya kesempurnaan duniawi itu hanya sebatas delusi. Dan seorang gadis bernama Jung Hara baru mempercayai hal itu sekarang. Kehidupan sempurna yang dimilikinya ternyata bersifat semu. Hidup serba mewah, tinggal di rumah yang besar, bersekolah di sekolah ternama. Tak pernah sekalipun terlintas di pikirannya bahwa itu semua terwujud berkat orangtua angkatnya yang selama ini bersikap selayaknya orangtua kandung.
Hara cepat-cepat mengusap air matanya yang menetes. Ia tidak tahu ia menangis karena ternyata Appa dan Eomma-nya bukan orangtua kandung atau karena kenyataan bahwa orangtua kandungnya sudah meninggal. Yang ia tahu, dadanya terasa sesak seperti dililit oleh tali lalu lilitan itu mengencang seiring langkah kakinya membawanya entah kemana.
Hara tahu tak ada tempat yang bisa didatanginya, tapi ia ingin pergi kemana saja asal bukan ke rumah. Akhirnya, kakinya membawanya ke taman di sekitar perumahannya. Ia duduk lemas di atas ayunan sekedar untuk menenangkan diri. Tangan kanannya menggenggam pegangan di sisi kanan ayunan dan kepalanya bersandar di pegangan itu.
Bahunya naik turun kala ia sesenggukan di bawah sinar rembulan. Percakapan orangtuanya tadi terus menggema di kepalanya. Ingin sekali ia menganggap tadi itu hanya khayalannya saja, namun kenyataannya adalah itu memang terjadi. Ia bukan anak kandung Appa dan Eomma. Pantas saja, mereka selalu pulang malam dan tak pernah memikirkanku, batinnya. Ia lalu berdecih.
Ia menengadah menatap bulan. Bertanya-tanya dalam hati, dimanakah orangtuanya sekarang berada? Tapi bulan tetaplah bulan. Dengan menatap bulan seperti ini, memangnya Hara bisa tahu jawabannya?
Tiba-tiba seberkas cahaya lampu senter menyorot wajah Hara, membuatnya menoleh lalu memicingkan matanya dan mencegah cahaya itu dengan telapak tangan. Cahaya itu semakin mendekat dan Hara bisa mendengar desahan napas lega dari seorang lelaki berusia 50 tahun.
"Hara-ya..." panggil Appa lirih.
Ia mematikan lampu senternya lalu duduk di ayunan sebelah Hara. Tanpa sadar, Hara memalingkan wajahnya.
"Maaf karena sudah menyakiti hatimu," ucap Appa dengan nada memohon. Dalam hati, Hara membantah. Dia tidak sakit hati, tapi kecewa. Kecewa karena Appa dan Eomma menyembunyikan hal ini selama 15 tahun. Kecewa karena orangtua yang dibanggakannya bukanlah orangtua kandungnya.
"Aku akan menjelaskan semuanya padamu. Kau tahu, Eomma-mu itu kurus, kan? Dulu, dia jauh lebih kurus dari sekarang. Dia mudah sekali terserang penyakit. Hal itu membuat rahimnya lemah, sampai dokter mengatakan bahwa sebaiknya ia tidak mengandung bayi jika ia masih ingin bernapas di dunia."
Hara sadar ibunya memang kurus untuk wanita seusianya. Pipinya sangat tirus membuatnya terlihat lebih tua. Tapi, Hara tak menyangka bahwa itu justru membuatnya tak bisa memiliki anak karena di matanya ia sangat cantik dan terlihat baik-baik saja walaupun sangat kurus.
Appa menarik napas dalam lalu melanjutkan penjelasannya dengan pandangan menerawang. "Karena dorongan dari ibuku yang ingin menimang cucu, kami memutuskan untuk mengadopsi anak dari panti asuhan. Waktu itu, kau sangat mungil dan cantik. Kau jarang menangis. Kau anak yang baik."
Tanpa terasa, air mata Hara menetes lagi mendengar penjelasan ayahnya. Ia mengatur napasnya agar tidak sesenggukan.
Appa melirik Hara lalu bangkit dari bangku ayunan. Ia melangkah pelan menuju Hara yang masih membuang muka. Tiba-tiba, Appa berlutut di hadapan Hara yang spontan melihat ayahnya karena kaget. Ia meminta ayahnya untuk berdiri, namun ayahnya malah menangis dengan kepala menunduk.
"Maafkan kami. Seharusnya kami memberi tahumu lebih awal. Tolong jangan membenci kami, Anakku," kata Appa di tengah-tengah tangisnya yang tatkala membuat Hara tak kuasa menahan emosi.
KAMU SEDANG MEMBACA
Moonlight
FanfictionJung Hara, seorang remaja berusia 15 tahun yang baru saja menduduki bangku SMA di Felicity High School. Ia cantik, pintar, dan populer. Itu sebabnya ia terpilih menjadi penyiar di radio sekolah. Tanpa disadarinya, ia bisa melihat apa yang tidak oran...
