"Jongin, pulanglah! Aku tidak mau ayahmu meneleponku lagi," desak Jongdae.
"Bukankah kau seharusnya senang mendapat telepon dari pemilik sekolah?" goda Jongin.
Ya, ayahnya memang pemilik Felicity High School. Itulah yang membuatnya bisa bersekolah disini dengan kemampuan akademisnya yang pas-pasan. Semua siswa tahu itu, makanya banyak gadis yang diam-diam mendekati Jongin, selain karena penampilan fisiknya yang di atas rata-rata. Tapi tak satupun gadis mencuri perhatian Jongin karena ia masih mau menikmati hidupnya sendirian. Ayahnya selalu mengekangnya, membuatnya begitu mendambakan kebebasan.
Jongdae berdecak. "Bukan itu masalahnya. Aku tidak mau radio ini sampai dihapus hanya gara-gara kau sering berkunjung kesini."
"Benar, Jongin, pulanglah!" Lay menimpali.
"Ah!" Jongin mengacak rambutnya frustasi. "Baiklah, baiklah. Aku akan pulang. Jangan rindukan aku!" seru Jongin lalu berjalan menuju pintu.
"Hati-hati, Kkam!" sahut Jongdae. Jongin mengangkat tangannya lalu melambai tanpa membalikkan badan. Ia membuka pintu dan keluar ruangan.
Ia berjalan di jalan yang tadi dilalui Hara. Sesampainya di lantai dasar, ia melihat ada seseorang di tengah lapangan. Ia hendak melangkahkan kakinya untuk pulang, tapi ia penasaran siapa itu. Ia memicingkan matanya untuk melihat lebih jelas.
"Bukankah itu Jung Hara?" gumamnya sambil terus memperhatikan dari jauh.
Matanya hampir copot saat tubuh Hara tiba-tiba rubuh. Spontan saja ia berlari ke tengah lapangan.
"Jung Hara! Bangunlah!"
Ia menepuk pipi Hara pelan. "Hei! Memangnya kau tidak punya rumah?"
"Hara! Kubilang, bangun!"
Diletakkannya jari telunjuknya di bawah lubang hidung Hara. Ternyata ia masih bernapas. Melihat kondisi Hara yang tak kunjung sadarkan diri, Jongin segera menggendongnya ke UKS tanpa banyak bicara lagi. Walaupun ia tak suka melihat Hara, ia tak mungkin tega membiarkan seorang gadis pingsan di tengah lapangan pada malam hari.
Untungnya, masih ada orang yang menjaga UKS sehingga Jongin tidak perlu menunggu Hara bangun. Dibaringkannya tubuh Hara di atas tempat tidur.
"Kau yakin tidak mau menunggunya?" tanya Dahee, penjaga UKS malam itu dengan hati-hati.
"Kenapa? Kau keberatan aku menitipkannya padamu?" tanya Jongin sangar.
"Bukan begitu. Hanya saja, sebentar lagi UKS akan ditutup," jawabnya sambil menunduk.
"Lalu, kau akan mengusirnya padahal ia belum sadarkan diri?" Jongin menaikkan sebelah alisnya.
"Ah, bu-bukan begitu maksudku," elak Dahee sambil melibaskan tangannya di udara.
"Sudahlah. Kau tunggu saja. Tak lama lagi ia pasti bangun," ucap Jongin final. Ia melangkah keluar UKS lalu pulang.
Dahee menghela napas berat. Ia tahu pada akhirnya yang kayalah yang berkuasa. Ia tidak bisa membantah Jongin karena Jongin anak pemilik sekolah. Ia melirik jam yang melingkar di tangannya. Ibunya sedang menjalani operasi di rumah sakit. Ia hendak bersiap kesana saat Jongin tiba-tiba membawa Hara masuk. Seharusnya ia menunggu ibunya di rumah sakit sekarang. Tapi ia hanya bisa menunggu kabar sembari berdoa.
Beberapa menit kemudian, pelupuk mata Hara bergerak menandakan ia sudah mulai mendapatkan kesadarannya kembali. Ia membuka matanya perlahan lalu melihat sekekliling. "Kenapa aku disini?" tanyanya pelan sambil mendudukkan badannya.
Dahee yang baru menyadari bahwa Hara sudah bangun langsung mendesah lega. "Syukurlah, kau sudah bangun," gumamnya. Itu berarti ia bisa ke rumah sakit sekarang.
KAMU SEDANG MEMBACA
Moonlight
ФанфикшнJung Hara, seorang remaja berusia 15 tahun yang baru saja menduduki bangku SMA di Felicity High School. Ia cantik, pintar, dan populer. Itu sebabnya ia terpilih menjadi penyiar di radio sekolah. Tanpa disadarinya, ia bisa melihat apa yang tidak oran...
