"Ayo kesana. Aku ingin bertemu dengan ibumu."
"Untuk apa? Setelah sekian lama kau baru mau menemuinya sekarang?" Nayoung mendengus.
"Aku.. Aku perlu bertemu dengan istriku," kata Jaehwan yang menyentakkan semua orang. Mata Jongin dan Jihyun seolah mau copot dari tempatnya.
"Ayah!" seru Jongin berang mendengar ayahnya memanggil ibu Nayoung dengan sebutan 'istri'.
Jaehwan menatap kedua anaknya seolah memberi sinyal bahwa semua akan baik-baik saja. Sayang, kedua anaknya tidak menangkap sinyal itu. Dalam hati Jaehwan berdoa semoga anak-anaknya mau percaya dengan dirinya yang penuh rahasia.
Perlahan Nayoung menurunkan pisaunya pertanda ia sudah melunak. Dilipatnya pisau itu dan diselipkan ke saku belakang celananya kembali. Hara menghembuskan napas lega. Chanyeol menyikut lengan Jongin dan memberi isyarat padanya untuk membebaskan Hara.
"Kenapa tidak kau saja?" tanya Jongin ketus. Bukannya Chanyeol masih menyayangi Hara?
"Dia memilihmu," tandas Chanyeol dengan nada sedih, namun ia cepat tersenyum tulus pada saingan terberatnya itu.
Jongin menatap pemuda itu ragu. Ada rasa senang saat mendengarnya barusan, tapi ia juga heran kenapa Chanyeol menyerah akan Hara. Apakah benar Hara sudah tidak menaruh perasaan terhadapnya?
Jongin melirik pemuda itu sekilas sebelum berlari ke arah Hara. Hara yang melihat pahlawannya datang langsung tersenyum senang. Jongin membuka ikatan tali pada tubuh gadis itu terlebih dahulu, lalu gadis itu membuka sendiri lakban di mulutnya.
"Kau tak apa?" tanya Jongin berusaha menutupi nada cemasnya.
Hara mengangguk pelan. "Aku tak apa."
Jongin mendesah lega. Tak bisa dipungkiri ia sangat khawatir saat ayahnya memberi tahu bahwa teman dekatnya sedang terancam. "Bisa, tidak, kau berhenti membuatku cemas?" Tak ada gunanya juga ia menutupi karena dari wajahnya saja sudah terlihat jelas kalau ia khawatir.
"Kau mencemaskanku?" tanya Hara dengan mata berbinar. Entahlah, ia merasa senang.
"Bagaimana aku tidak cemas kalau nyawamu nyaris melayang?"
Hara menyengir. "Ini di luar kendaliku. Maaf, ya, aku selalu merepotkanmu," cicitnya.
"Sudahlah, lupakan saja," ucap Jongin sebelum berbalik badan.
Hara menahan pergelangan tangannya membuat Jongin memutar kepalanya. "Kau masih marah?" tanyanya takut-takut.
Jongin menyipitkan matanya. "Apakah itu penting sekarang? Ayo pulang." Ia meraih tangan Hara dan menggenggamnya erat. Hara sempat tersentak karena gerakannya yang tiba-tiba, namun akhirnya ia membalas genggamannya sama eratnya seolah tak mau membiarkannya pergi sekali lagi.
Chanyeol yang melihat mereka hanya tersenyum pahit. Walaupun pahit, ia harus menerima kenyataan bahwa tidak ada lagi tempat untuknya di hati Hara. Ia sudah pernah mengkhianati gadis itu dan ia tidak mungkin dengan santainya meminta kesempatan kedua. Ia yakin Hara tidak akan memberikannya kesempatan kedua mengingat hatinya sekarang sudah terisi.
*
Suara racauan terdengar samar-samar dari berbagai penjuru ruangan. Ada yang bernyanyi, menggumam, bersenandung, sampai berteriak marah. Jaehwan terus berjalan bersama Jihyun, Jongin, dan Nayoung. Hara dan Chanyeol sudah pulang lebih dulu karena mereka tidak memiliki hak untuk ikut campur dalam urusan keluarga itu.
Jongin mengusap tengkuknya. "Koridor disini lebih mengerikan dari kamar mayat," gumamnya sambil bergidik. Kalau bukan karena menyelesaikan masalah keluarganya, Jongin tidak akan sudi memijakkan kakinya di tempat itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Moonlight
FanfictionJung Hara, seorang remaja berusia 15 tahun yang baru saja menduduki bangku SMA di Felicity High School. Ia cantik, pintar, dan populer. Itu sebabnya ia terpilih menjadi penyiar di radio sekolah. Tanpa disadarinya, ia bisa melihat apa yang tidak oran...
