Rumah

53 6 0
                                    

Rumah bernuansa monokrom ini nampak sepi ketika ibu Dien, ibunya Shafira memilih meninggalkan rumah ini. Shafira sudah menginjak umur 16 tahun, sudah cukup dikatakan layak untuk mengetahui permasalahan keluarga yang lebih berat. Apalagi ini berhubungan dengan dirinya juga. Shafira tidak mengerti mengapa rumah baginya terasa sangat sepi.

Sebelum membuka pintu, Shafira melihat sebuah rumah disamping kiri rumahnya. Rumah milik Andre semewah milik Shafira. Shafira mengenal Andre. Mereka satu kelas dari kelas 10 dan mereka adalah tetangga. Namun Shafira tidak pernah bertamu ke rumahnya. Jangankan untuk bertamu, Shafira bahkan tidak pernah melempar sapa dengan Andre atau memberikan obrolan ringan. Rumah itu selalu terlihat hangat meskipun hanya melihat pekarangannya saja.

Bagaimana rasanya punya rumah sehangat itu ya?  Shafira tersenyum kecil dalam lamunanya. Netranya menangkap sosok Andre yang melihatnya juga dari pintu pagar. Dengan terburu - buru Shafira masuk ke dalam rumahnya. Shafira tidak ingin tertangkap basah sedang merasa iri dengan milik orang lain.

Shafira memandangi ruang tamu di rumahnya. Memandangi sofa berwarna hijau melon itu. Bahkan Shafira lupa kapan terakhir kali sofa itu diduduki oleh teman - temannya yang mampir. Shafira tersenyum miris. Inikah hidupnya sekarang? Dengan perasaan sedih Shafira yang tidak bisa ia jelaskan. Setelah ibunya memilih meninggalkannya di rumah ini sendirian, hanya bersama sang ayah yang saat ini belum juga ada kabar kapan pulang. Bisakah Shafira merasa tidak adil sedikit saja karena semestanya meninggalkannya sendiri. Bisakah ia protes pada semesta yang katanya berbaik hati itu?

Shafira mengurungkan niat untuk menghempaskan dirinya di sofa karena suara ketukan pintu terdengar. Ayahnya sepertinya sudah pulang

"Shafira..." benar. Itu suara ayah.

Shafira membuka pintu dengan wajah yang ia buat gembira. Senyumannya yang lebar ia tampilkan untuk menyambut sang ayah. Tak lama, sinar netranya meredup ketika matanya menangkap sosok perempuan cantik di belakang ayah.

Satu pertanyaan yang ingin Shafira lontarkan " Dia Siapa?"

Seakan - akan mengerti dengan tatapan putrinya, ayah Shafira tersenyum. Mengajak perempuan cantik itu untuk segera masuk.

"Shafira, ini tante Aruni, dia teman ayah sejak SMA. Dia ini pelatih olimpiade sains sekarang. Aruni, ini putriku Shafira. " Ayah saling memperkenalkan Aruni kepada Shafira dan sebaliknya. Shafira hanya tersenyum canggung dan menunduk ketika ayahnya memperkenalkan dirinya kepada perempuan cantik bernama Aruni itu.

"Aruni, Shafira ini anak yang pintar, semester depan dia akan ikut olimpiade sains seperti kamu dulu. Ah, kalian ini sangat mirip setelah aku pikir - pikir." Ayah melanjutkan ucapannya ketika mereka bertiga telah duduk di sofa yang sedikit berdebu.

"Ayah harap,  Shafira bisa dekat dengan tante Aruni. Kamu jangan meledek ayah ya, tante  Aruni ini akan menikah dengan ayah bulan depan, dia akan jadi ibu baru kamu, agar kamu gak merasa kesepian di rumah lagi. Lagipula tante Aruni ini menjadi pelatih olimpiade via online jadi selalu ada buat kamu dan menemani kamu dirumah" binar mata ayah dan tante Aruni terlihat bahagia. Shafira hanya terdiam. Kembali mencerna kata - kata yang ayahnya ucapkan.

Mereka ternyata akan menikah. Apa ini tidak terlalu cepat yah? Aku bahkan masih merasa wangi ibu masih ada dirumah ini. Shafira melempar senyum kecilnya dan mengangguk. Lagipula apa yang bisa dia lakukan? Tante Aruni juga terlihat seperti sosok ibu yang baik, selain mengangguk patuh atas keputusan ayah apalagi memang yang dapat Shafira lakukan?

"Maaf yah, Shafira mau istirahat dulu. Permisi tante" Shafira menunduk memberi salam  Dan Shafira memilih menghindar dari percakapan selanjutnya.

Shafira perlu membereskan ruang hatinya untuk menerima sosok ibu baru. Ceritanya dengan ibu kandungnya tidak terlalu berwarna maka Shafira perlu sebuah kanvas putih yang baru untuknya ketika menerima tante Aruni.

Shafira menyadari satu hal , sepertinya rumah Shafira mulai esok pagi tidak lagi sama dan Shafira menerima hal itu.

***

Bagaimana untuk hari ini? Saya harap kamu belum lelah untuk mau memaafkan. Memaafkan segala salah yang orang lain buat tanpa sadar.
Tak apa, menjadi pemaaf adalah hal yang hebat :)

Tetap semangat untuk menjalani harinya ❤

Peluk hangat dari Na ❤

ShafiraTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang