Cukup lama waktu berjalan beriringan dengan banyaknya kisah yang telah Arini torehkan di dalam pondok pesantren.
Siapa yang bisa memprediksi, Arini yang dulu adalah anak yang sangat malu, kini menjadi sosok yang lebih Ceria. Seperti saat berada di rumahnya.
Mendengar dan melihat hal tersebut membuat Arham tenang, bagaimana tidak dia selalu menghawatirkan sang adik jika dia tidak bisa berbaur dengan baik oleh teman-temannya.
Dan, inilah Arini yang ceria. Jangan lupa sekarang Arini menggunakan kacamata. Bukan karena keinginannya namun keharusan untuknya, yahh matanya minus. Dan mewajibkannya memakai kacamata tersebut.
Dengan kacamata yang selalu melekat di wajahnya, membuat penampilannya semakin menarik, dia sangat manis, dengan gigi gingsul yang selalu mengintip di ketika dia tersenyum.
Dari jauh sepasang mata masih dengan setia mengamatinya. Yahh Rakha, dia sangat bahagia melihat Arini yang ceria dan berteman dengan baik.
Di Situasi yang berbeda.
Sekarang Arini sedang memperhatikan sosok Ustadzah yang sedang menjelaskan pelajaran bahasa Arab di depan kelas.
Kringgggh,,,,Kringgggh,,,,
Waktu menunjukkan pukul 17.00 itu berarti saatnya jam pelajaran berakhir, dan sekarang waktunya kembali ke kamar masing-masing.
"Baiklah anak-anak, Jam pembelajaran hari ini Ustadzah akhiri. Namun sedikit informasi sehubungan Ramadhan sisah Satu pekan lagi, kalian akan di liburkan untuk pulang ke rumah masing-masing saat Ramadan. Dan kembali pada saat pekan ke dua bulan Ramadhan, Paham Anak-anak ??"
"Paham Ustadzah" balas seluruh sanriwati yang berada di dalam ruang kelas tersebut dengan sangat antusias, Begitu juga dengan Arini.
Setelah pelajaran di tutup, seluruh sanriwati masuk ke dalam kamar mereka untuk bersiap-siap sholat Maghrib.
kamar Arini dan Asyifah
"Arini kita akan libur pekan depan, Apakah kamu ingin langsung pulang atau kita jalan-jalan saja dulu ? Rumahmu jauh, sedangkan rumahku dekat dari sini. Bagaimana kalau kita ke rumahku saja dulu, kita ajak yang lain. Bagaimana ?"
"Iyyah kita akan libur selama dua pekan. Kalau itu saya tidak bisa pastikan Asyifah, takutnya kak Arham ingin langsung pulang ke rumah. Tapi nanti aku tanya dulu sama kak Arham."
"Baiklah, selesai sholat Maghrib kita tidak ada jadwal, karena para guru akan mengadakan rapat membahas mengenai Pemulangan peserta didik."
"Yeyyyy, Bagaimana kalau kita kumpul saja dengan yang lain. Sudah lama kita tidak kumpul bersama anggota kepompong." Jawab Arini dengan senyuman yang mekar dengan sempurna.
"Baiklah kalau begitu aku siap-siap sholat Maghrib dulu, kamu tidak sholat kan ?"
"Iyya Asyifah, nanti kalau selesai sholat Maghrib jemput aku yahh, jika kak Arham ada, suruh kak Arham saja. Yahh yahh" Bujuk Arini Menampakkan pupy eyes nya.
"Iyyahhh nanti aku sampaikan. Kalau begitu aku ke musholla dulu, takut telat. Nanti di marahi Buya. Hehh."
"Baiklah hati-hati Asyifah, titip salam untuk Buya hehh."
"Nanti ku sampaikan jika aku berani, hehh jangan lupa kunci pintu kamar Arini. Aku pergi dulu assalamu'alaikum Arini."
"Hehh Baiklah dadahh, Wa'alaikumsalam Asyifah."
Author POV
Jika kalian bertanya siapa itu Buya, jawabannya adalah dia adalah kepala pondok di pesantren ini, dia baik namun banyak yang menggapnya menakutkan karena dia sangat disiplin akan waktu.
Akhirnya Asyifah telah menjalankan ibadah sholat Maghrib berjamaah dengan yang lain. Dan setelah semua kegiatan ibadah selesai dia mencari teman-teman kepompongnya untuk berkumpul di Taman baca.
Di sisi lain Arini telah membersihkan badannya juga kamarnya yang tadi berantakan karena tidak sempat di rapikan pagi tadi.
Dia telah berpenampilan sempurna dengan pakaian senada dengan jilbabnya yahh berwarna Navi, dengan bedak bayi yang menempel tipis di wajahnya. Jangan lupa dengan kacamatanya yang membuat penampilannya semakin sempurna.
Dia duduk di meja belajarnya menunggu kakanya yang akan menjemputnya atau mungkin Asyifah yang akan menjemputnya. Entahlah.
Tok,,, Tok,,, Tok,,,
"Yahh mungkin itu kak Arham atau Asyifah. Lama sekali mereka, huhh." Gumam Arini sembari melangkah untuk membuka pintu kamarnya.
Saat telah membuka pintu kamarnya Arini melihat sepasang kaki miliki laki-laki yang membuatnya mengira bahwa itu adalah kakaknya yahh Arham.
"Kak Arham !! Lama huhh, tau tidak Arini lama nunggunya. Capek tauuu." Keluh Arini sembari langsung memeluk seseorang yang dia kira adalah Arham.
Yang di pelukpun diam kaku menetralkan kondisi jantungnya saat ini. Siapapun tolong selamatkan jantung Rakha !!! Yahh dia adalah Rakha.
"Hay kacamata !! Hehh." Ucap Rakha yang membuat Arini Refleks melepaskan pelukannya dan tersenyum kaku menyembunyikan rasa malunya.
"Ra...Rakha ? Kenapa bisa Rakha ? Bukannya Arini menyuruh kak Arham atau Asyifah ? Ahhh kan Arini jadi malu. Hmmm" ucap Arini yang menunduk dengan pipinya yang merah padam
Flashback on
"Kak Arham ada di mana?" Tanya Asyifah pada anggota Kepompong.
"Anggota OSIS sedang mengadakan rapat bersama dengan staf guru membahas mengenai Pemulangan santri." Jawab Rif'at
"Ada apa dengan kak Arham?" Tanya Rakha.
"Ohh tidak, Hanya Arini ingin di jemput di kamar. Karena dia tidak sholat dia takut untuk jalan sendiri."
"Arini di kamar ?" Tanya Rakha
"Iyya dia di kamar, aku pergi menjemputnya dulu. Tunggu di sini." Balas Asyifah
"Biar aku saja, aku pergi dulu." Ucap Rakha sembari melangkah menjauh dari teman-temannya.
"Ada apa dengannya, dia menjadikan Arini sebagai adiknya sendiri. Hehh sudahlah, biarkan saja." Ucap Asyifah.
Flashback off.
"Ohh begitu, yaudah Makasih Rakha." Ucap Arini memamerkan gigi gingsulnya.
"Yaudah ayo. Kita sudah di tunggu dengan yang lain." Ucap Rakha melangkah maju mendahului Arini.
"Baiklah ayoo.!!"
Hay kacamata !!
Netra kita sama
Tertutup oleh lensa
Namun pancarannya berbeda
Netraku memancarkan kagum
Sedang kau hanya tertegun
Happy reading guys. Author lagi sibuk, jadi yahh maaf baru bisa publis. And makasih untuk vote nya. Jangan lupa komentar saran selanjutnya. 😇
KAMU SEDANG MEMBACA
Cinta di langit pesantren
Genç Kurgu"kau tau ketika gelapnya malam menutupi indahnya ketengan sinar Surya kami di sedang menulis kisah kami dipondok ini. kami torehkan pengalaman baru di hidup kami layaknya menodai sebuah kertas dengan tinta pena." Saya adalah se...
