Seharusnya Mark paham. Saat dia sudah meminta saran dari Jeno, disitulah Mark harus super hati-hati dengan temannya yang satu itu.Seperti sekarang, seharusnya dia tidak mengiyakan rayuan Jeno untuk bertemu Yeri dengan dalih — "ya gue harus ketemu sama Yeri dan kenal dia dulu, baru gue bisa bantu lo."
Yeri dan Jeno tampak asik dengan percakapan yang tercipta diantara mereka berdua. Ini sih antara memang sefrekuensi, atau Jeno emang sebrengsek itu sampai mencoba mencari kesamaan dengan Yeri didepan Mark.
Mark harus mencari cara agar Yeri tidak masuk perangkap buaya Jeno. Dia harus membawa Yeri pergi dari hadapan Jeno secepatnya.
"Yeri udah jam 9 nih, Kak Kai nyuruh kamu pulang."
"Hm? tapi kakak belum telpon aku tuh?"
"Ini Kak Kai chat aku." jawab Mark tanpa mengalihkan pandangan dari hpnya.
"Dah yuk balik?" lanjut Mark sambil beranjak dari tempatnya duduk.
"Lah anjir cepet amat baliknya, terus gue gimana? tanggung jawab mark, lo yang ngajak gue kemari." protes Jeno.
"Telpon anak-anak yang lain kan bisa, atau lo bisa manggil cewek lo yang segudang itu. Dah gue mau balik, ayo Yeri."
"Iya deh, bye Jeno kapan-kapan kita lanjut lagi ya."
Perkataan Yeri yang mendapat tatapan tajam dari Mark ke arah Jeno
"Hati-hati ya." balas Jeno.
Sepeninggal mereka, Jeno masih mengamati Mark dan Yeri sampai akhirnya keluar dari cafe lalu ia menggelengkan kepalanya sambil tersenyum. Ia merasa lucu dengan sikap Mark yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Berhasil juga rencananya untuk membuat Mark cemburu.
---
"Jeno anaknya seru ya ternyata, pantes cewek-cewek di sekolah banyak yang naksir dia." ujar Yeri masih antusias setelah bertemu dengan Jeno diperjalanan pulang bersama Mark.
"Nggak nyangka selera ku sama dia samaan, jarang banget aku nemu orang yang suka lagu indie korea."
"Temen sekelasku ada tu yang naksir banget sama Jeno
hahaha dia pasti iri kalau aku cerita bisa ngobrol sama Jeno." lanjutnya.Mark tak menanggapi banyak, sesekali ia hanya tersenyum menjawab pertanyaan dari Yeri, selebihnya ia memilih diam dan fokus mengemudikan mobilnya. Sebenernya sih ia tengah sebal pada dirinya sendiri yang tak bisa biasa saja melihat Yeri akrab dengen Jeno tadi, ditambah lagi sejak masuk mobil Yeri tak henti-hentinya membicarakan pertemuan dengan Jeno tadi. Jangan-jangan Yeri menyukai Jeno? Ah jadi sehebat itu ya Jeno dimata para cewek. Huft menyebalkan.
Mobil Mark berhenti didepan rumah Yeri saat radio yang dinyalakan di mobilnya tengah memutar lagu milik Naif yang berjudul Jikalau.
"Udah sampai Yer." ujar Mark sesampainya mereka didepan rumah Yeri. Tak memandang Yeri ia malah sibuk dengan hpnya, membalas grupchat.
Yeri tak menanggapi, ia sibuk memandangi Mark dengan tatapan bertanya-tanya. Yeri bingung, rasanya Mark tengah marah.
Mark akhirnya menoleh saat merasakan tak ada pergerakan Yeri untuk keluar dari mobilnya. Mark malah mendapati Yeri tengah memandang kearahnya, ia pun balik memandang Yeri dengan tatapan bingung.
"nggak turun?" tanyanya."Kamu marah sama aku?" tak menjawab pertanyaan Mark, Yeri malah balik bertanya.
Mark menggerakkan bola matanya bingung, "kenapa aku harus marah?"
"Dari tadi kamu diem aja, bahkan omonganku juga nggak kamu tanggapi."
Mark menyondongkan duduknya kearah Yeri bersiap memberi jawaban, "Bukan gitu Yeri, aku cuma lagi—"
"Gara-gara Jeno?" tanya Yeri memotong apa yang ingin disampaikan Mark.
Tak menaggapi pertanyaan Yeri, Mark malah memandanginya dengan tatapan mata yang dalam. Tak mau kalah Yeri juga berbalik memandang dan bertanya sekali lagi. "Gara-gara Je–"
"Ya, gara-gara Jeno." jawab Mark cepat tanpa memalingkan pandangannya.
"Tapi kenapa? Bukannya kamu yang ngajak aku ketemu dia?"
"Aku marah sama diriku sendiri kerena nggak bisa biasa aja ngeliat kamu ngobrol sama Jeno. Maaf, nggak tau kenapa aku juga nggak suka sepanjang diperjalanan denger kamu ngomongin Jeno terus."
"Maaf, aku nggak tau kalau kamu nggak suka." tutur Yeri.
"Kamu ngga perlu minta maaf, kamu nggak salah. Aku yang minta maaf karena kayak anak kecil gini. Aku cuma khawatir kalau-kalau kamu bakal jadi mangsa Jeno selanjutnya. Anak itu suka mainin cewek dan aku nggak mau kamu dimainin sama dia."
"Tapi kalau semisal kamu pada akhirnya suka sama Jeno nggak papa, aku bakal minta dia berubah jadi yang lebih baik buat kamu." lanjut Mark.
Setelah mengucapkan itu, Mark dan Yeri sama-sama terdiam canggung dan menunduk, sibuk dengan pikiran masing-masing dalam beberapa saat.
"Mark." panggil Yeri memecah kesunyian diantara mereka, meletakkan tangan kanan dibahu Mark, melihat Mark tepat dimatanya. Ia menelan ludah cepat, berusaha mengumpulkan keberanian sebelum menyampaikan kata-kata yang sudah dari lama ingin disampaikannya.
"Aku suka kamu, bukan Jeno." lanjut Yeri yang membuat Mark membeku ditempatnya.
Melihat itu Yeri langsung buru-buru melepas seatbelt dan bergegas keluar, "makasih udah nganter pulang, hati-hati dijalan." ujarnya cepat dan setelah itu bergegas masuk kedalam rumah.
Mark yang masih setengah kaget dengan perkataan Yeri hanya sibuk senyum-senyum sendiri setelah Yeri sudah menghilang dari pandangannya.
"Ah lucunya," ujar Mark setelah mengetahui perasaannya tidak bertepuk sebelah tangan.
