Bab 15 - Move On

120 16 1
                                        

Gue menatap layar ponsel hampa

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Gue menatap layar ponsel hampa. Momen yang disimpan bersama Almira harus gue buang jauh - jauh. Maaf, gue nggak bisa lepas dari lo, Al. Doakan saja supaya gue bisa mengikhlaskan lo dan membuka hati untuk cewek lain.

Satu per satu chat dari Almira dihapus. Gue nggak sanggup kalau gue harus berhadapan dengan kenangan manis yang pada akhirnya pahit. Lebih baik awalnya pahit dan berakhir manis.

"Ngapain lo? Udahlah, move on aja. Lagian dari kemarin gue nanya lo, malah diem," cibir cowok di samping gue kesal. Gue menatap cowok itu sendu. Tidak semudah itu melupakan seseorang yang pernah gue cintai. Cowok di samping gue itu mengusap punggung gue pelan berusaha menenangkan. Ini kali pertama gue galau karena seorang cewek yang gue suka. Apalagi cewek itu, first love gue.

Rempong boys adalah rumah kedua gue untuk berkeluh kesah. Walau agak ngeselin, mereka berusaha menghibur tatkala salah satu anggotanya itu meneteskan air mata.
Peserta karate camp diharapkan segera berkumpul di bukit belakang sekolah, terimakasih.

Ah sialan! Siapa sih yang jadi operator. Kenapa harus menginterupsi aktivitas curhat gue?! Mendengar itu, gue berlari terbirit - birit. Tak peduli Xava yang mengejar gue. Nanti gue dihukum lagi sama Almira. Apalagi kan Almira lagi marah sama gue. Tambah murka nanti tuh anak. Sampainya di TKP, gue melihat Almira yang berdiri seorang diri di panggung. Penting banget kah urusah seperti ini?

"Wahai peserta karate camp, jadwal kita kali ini adalah pelatihan keseimbangan. Rintangan yang kalian akan lewati adalah the power of river," perintah Almira sambil menunjuk jembatan terbuat dari sebatang kayu panjang berwarna coklat yang sudah disiapkan panitia sebelumnya serta sungai dibawahnya. Gue terbelalak. Itu kayunya panjang banget, gilak!

"Semua perserta wajib melewati jembatan ini supaya naik tingkat ya! Dimulai dari Kelas 10 IPS 1. Erwin Wijaya?"

Untung saja gue kelas 11 Mipa 1, jadi nggak nomor urut pertama deh. Cowok dengan rambut di belah pinggir yang merasa terpanggil segera beranjak dari tempat ia berdiri. Dia masih kelas sepuluh tapi keyakinan untuk menyebrangi jembatan itu sangat kuat.

Kalau saja gue jatuh ke sungai yang di bawah kayu berongga kecil itu, gue akan ditertawai habis - habisan . Terlebih, gue payah dalam hal keseimbangan. Bisa saja Almira juga menertawai gue. Sialan. Gue nggak mau tahu, pokoknya kalau gue terpanggil terus gue jatuh ke sungai, gue akan menyalahkan Almira.

Deg.

Jantung gue berdetak cepat. Gue takut apa yang gue bayangkan sebelumnya benar - benar terjadi.

"Tari Putrinawaman," panggil Almira pada juniornya. Cewek berambut kuncir kuda yang bernama Tari itu beranjak dan segera menyelesaikan rintangan dihadapannya . Manik mata gue terus tertuju pada Tari. Saat ia tengah berjalan, Tari terhuyung sampai tubuh mungilnya itu tergelincir. Semua orang tercengang dengan apa yang mereka liat. Tak ada yang berani menertawai perilaku Tari yang sungguh polos. Tari menggaruk punggunya yang tak gatal.

ALMIRA : JANGAN PAKSA MEMBENCIMU (SUDAH TERBIT)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang