Bab 16 - Baikan

102 17 0
                                        

SEBELUM KALIAN MEMBACA CERITA LEBIH LANJUT, FOLLOW DULU AKUN AUTHOR YAA!

SEBELUM KALIAN MEMBACA CERITA LEBIH LANJUT, FOLLOW DULU AKUN AUTHOR YAA!

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


(📸 Pinterest/ ilustrasi toko bukunya)

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

(📸 Pinterest/ ilustrasi toko bukunya)

Binar mata gue tidak bisa berhenti bersinar, sudah lama gue tidak mengunjungi tempat ini. Tempat ini mengandung sejarah dalam hidup gue. Banyak kejadian aneh yang terjadi di tempat ini. Jadi ceritanya gue lagi berada di rak buku non fiksi. Lantas, saat gue lagi mencari buku, gue merasa ada yang menguntit.

Tentu saja gue merasa tidak nyaman. Gue merasa di terror oleh orang itu.

Di dada sebelah kirinya baju seragamnya terdapat logo hati. Tampaknya itu seperti petugas di sini. Gue masih teringat jelas kelakuan si petugas toko buku.

Rambutnya ikat satu ke belakang serta ada anting mutiara di telinganya.

Gue yang penasaran menoleh dan mencoba memastikan bahwa firasat gue memang bener. Anehnya lagi, si penjaga toko malah pura - pura baca buku yang masih disegel, posisi bukunya terbalik, lha..gimana bacanya.

Jika diingat kembali, gue malah ingin menertawakan diri gue sendiri pada waktu lampau. Gue ngerasa punya pengagum rahasia. 

Kejadiannya sudah lama, tapi hal itu justru masih melekat di otak gue.

Ternyata ada petugas toko buku seceroboh itu. Gue sampai sekarang masih penasaran. Mba yang tiga tahun yang lalu telah pergi ke mana? Gue rindu dengan kecerobohannya.

Anton yang berada dibelakang gue, berdecak tak percaya. Katanya gue norak karena gue seperti orang yang belum pernah ke toko buku. Enak saja bilang begitu, gue pernah ke toko buku walau hanya numpang baca buku.

"Kita ini sebenernya lagi ngapain sih, Ham? Emang boleh ya kita berlama - lama di sini? Nanti Lo dicariin Almira lho," ancam Anton serta mengantongkan kedua tangan di saku celana miliknya.

Almira juga tengah bersenang - senang bersama para pesertanya. Dia nggak mungkin memikirkan gue. Dia cuma peduli sama Kak Baron. Gue juga tidak mengharapkan Almira kembali seperti dulu. Mungkin hati Almira akan menolak mencari gue, dia kan lagi marah sama gue.

ALMIRA : JANGAN PAKSA MEMBENCIMU (SUDAH TERBIT)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang