Bab 23 - Impian Sebenarnya

91 7 2
                                        

Pastikan, sebelum kalian baca ini, kalian harus pake banget follow akun wattpad author. Sambil denger lagu ini juga boleh kokkk. Hapyy reading..

Suasana semakin mencekam ketika semua menghalangi jalannya Rani pergi

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Suasana semakin mencekam ketika semua menghalangi jalannya Rani pergi. Suruh siapa melukai perasaan Almira? Apakah sekarang ada rasa penyesalan dari seorang Chelsea Baharani. 

"Rani, Rani, lo tega banget! Lo nggak akan tahu bagaimana rasanya. Sakit, Ran. Dan hebatnya lo lolos bisa hidup tenang. Lo malah sengaja pindah ke sekolah ini, karena lo belum puas nyakitin orang. Dasar bajingan!" sergah Rio. Rio bisa saja memukul Rani dengan tenaga ekstra, tapi ingat, Rani itu cewek. Kalau dia dikasari, dia malah mengaduh.

Gue mendesah pelan. Pertempuran macam apa ini. SGSHS perlahan akan membuat Rani menjadi kepingan debu tak berdaya. Akan gue mulai permainnanya.

Tangan Rio sudah di tahan Reyhan. Kalau tangan Rio tidak tertahan, ia bisa melukai Rani, hal itu akan menyebar luas. 

"Rani, lo tahu kan kenapa kita - kita nyamperin lo? Lo pasti sudah mengetahui jawabannya. Lo kira gue bego, nggak tahu soal kasus Disa? Gue tahu, Ran. Yang paling gue nggak nyangka, lo udah ngerusak nama Almira. Otak lo ada di mana?"

Sepi menyelimuti keadaan. Lemah, Rani tidakmau bertanggung jawab. Haha. Luluconnya cukup sampai di sini. 

"L-lo semua siapa? Gue nggak ke--" 

Lihatlah. Dia pura - pura lupa ternyata. Jangan sok- sok jadi anak yang polos, deh. Gue tahu semua kelakuan Rani. Kalau Rani menanyakan apa salahnya, dia punya kesalahan fatal. Yang pertama, dia sudah menyuruh  Disa berenang di sungai, padahal dia tahu Disa ga bisa berenang. Setelah lama, orang sudah ikhlas, melupakan, nganggap itu kecelakaan, dia muncul mengungkit lagi, memfitnah Almira yang dorong sampai Disa hanyut. 

Apakah itu yang dimaksud dengan tidak berdosa? Cih, kita lihat saja..dunia ini akan berpihak kepada siapa.

"Yo, hajar aja udah," sahut Mario. 

"Ok, kalau masalah ini tidak bisa diselesaikan dengan cara yang baik - baik, apa perlu gue menyelesaikan dengan kekerasan?  Jika jawabannya 'iya', gue dengan senang hati melakukannya."

Plakk.

Satu tamparan Rio mendarat mulus di pipi Rani. 

"Lo semua apa - apaan sih? Gue nggak ngerti, gue nggak ngerti, gue nggak paham. Gue nggak ngerti apa - apa," elak Rani. 

Rani, jangan bertingkah seolah - olah ga bersalah. 

Ketika gue hendak memukul Rani, tiba-tiba ada yang terlintas di otak gue. Gue harus berfikir lebih matang sebelum bertindak. Kalau gue pengen menjadi pengacara, gue nggak mungkin menyelesaikan masalah dengan kekerasan bukan? Lantas, kenapa gue?? Hentikan saja semua kebodohan ini. 

ALMIRA : JANGAN PAKSA MEMBENCIMU (SUDAH TERBIT)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang