Bab 18 - Gym

99 11 2
                                        


EIT, SEBELUM LANJUT, FOLLOW DULU AKUN AUTHOR YA. ENJOY!

Arumi ini otaknya ada di mana sih? Heran gue

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Arumi ini otaknya ada di mana sih? Heran gue. Gila dia tuh. Demi tebar pesona, gue di suruh operasi lasik?!! Nggak salah denger kan gue?

"Rum, udah deh. Gue nggak mau opereasi lasik. Operasi lasik tuh biar kayak artis korea, 'kan? Najis gue lagian--" belum selesai gue berbicara, Almira langsung memotong pembicaraan gue.

"Itu operasi plastik, bukan lasik. Operasi lasik itu supaya mata lo itu minusnya nol. Kalau lo operasi plastik juga gue nggak bakalan setuju kali, Ham," ralat Almira cepat.

Gue sempat termangu dengan ucapan Almira. Jika gue lebih teliti lagi, sikap Almira sedikit berbeda. Dia kayak lebih sering merhatiin gue, sering ngobrol sama gue.  Gue juga memperhatikan Almira, dibandingkan dulu waktu baru  kenal, sekarang dia lebih banyak senyum.

Ya, gue nggak mau berbesar hati dulu. Gue nggak boleh gede rasa sebelum ada klarifikasi dari Almira. Gue butuh pembuktian, gue dianggap  Almira  sebagai apa.

"Ham, kok lo diem aja, sih? Ayo balik ke asrama," ajak Arumi dan Almira bersamaan.

" Eh?" tanya gue yang langsung disambut dengan tarikan kasar dari Almira.

"Naik," katanya dingin.

Hah? Gue masih kurang ngerti deh. Masa gue dibonceng sama cewek? Apalagi kan ceweknya itu Almira. Gue nggak akan ngebiarin Almira menganggap gue beban, gue akan selalu ada di mana pun dia butuh gue.

Semenjak Almira ada dalam kehidupan gue, sejak Almira yang selalu melemparkan senyum ke gue, gue merasa terlahirkan kembali ke bumi.

Sebelum gue kenal sama Almira, hidup gue ancur. Hancur hingga membentuk serpihan debu. Bokap nggak pernah kembali setelah dinas di Korea. Gue hidup hanya bedua. Gue dan nyokap.

Bokap nggak bakal tahu rasa pedih yang gue dan nyokap rasakan. Mana janji bokap yang bakal balik ke Indonesia lima tahun lagi?

Gue nggak suka kalau bokap bohong ke gue. Katanya lima tahun lagi bakal balik ke Indonesia, mana? Ini udah delapan tahun lamanya gue menunggu, bokap nggak ada kabar lagi.

Gue mau belajar melupakannya karena satu orang yang spesial di hati gue. Satu orang yang mampu memotivasi gue. Ya. Dia Almira. Almira selalu bilang ke gue, kalau gue nggak sendirian, gue masih punya rempong boys dan Almira.

Makasih, Al. Lo udah membuat gue tahu apa arti cinta sejati. Lo buat gue ingat dengan manisnya dunia. Lo juga sukses membuat gue lupa dengan pahitnya hidup. Gue sadar, nggak selamanya hidup akan hitam putih.

***

"Nyampe," ujar Almira sambil menuruni motor sport nya. Aura yang Almira keluarkan saat dirinya melepas helm itu beda. Wangi khas miliknya nyata.

ALMIRA : JANGAN PAKSA MEMBENCIMU (SUDAH TERBIT)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang