15

203 42 15
                                    

"Bodoh." Gumam Bangchan.

Matanya membulat sempurna dan badannya kini membeku. Oh tidak.. Kenapa ia terlalu bodoh? Kenapa ia tak pernah terpikirkan jika bot itu akan bertanya mengenai hal ini? Ah, tidak, Bangchan menyesal telah memilih truth.

Eh-- tapi, sebentar.. Bot itu kok tau kecelakaan itu? Bangchan mendongak, menatap mereka satu-persatu. Tapi tidak ada yang sedang memainkan ponselnya. Lalu, bot itu siapa?

"Bang, kok diem?" Pertanyaan Hyunjin membuat Bangchan sedikit tersentak.

"E--eh.."

"Maksudnya biar kita tau kebangsatan kakak, apa, ya?" Kini Jeongin yang bertanya.

Bangchan dibuat gugup oleh pertanyaan dari Hyunjin dan Jeongin. Tapi bukan hanya itu saja yang membuatnya gugup, namun juga Minho dan Seungmin yang kini sedang menatapnya tajam, mengintimidasi.

Minho menatap Bangchan jengah, karena sedari tadi ia hanya diam tak menjawab.

"Bang, jawab dong," ujar Minho.

"Kak.. Kalo kakak ga jawab, kita bisa aja malah lebih benci lagi ke kakak." Tutur Seungmin lembut.

Bangchan menghela napas panjang, "ok, gue jawab," ada jeda sebelum ia melanjutkan kalimatnya.

"Sebenernya kecelakaan itu terjadi karena gue. Kalian selalu bilang, itu semua bukan kesalahan gua. Tapi emang bener.. Emang gue biang kerok kecelakaan itu,"

"Gu-- hhh," ia menunduk, tak berani menatap keempat temannya, "Gue sengaja ngerusak mesin mobilnya sebelum dia ngendarain mobil itu buat ke rumah orangtuanya."

Tatapan intens mereka mendadak berubah menjadi tatapan tak percaya. Terlebih Hyunjin, yang kini telah menatapnya dengan amarah.

"Hah? Jangan ngadi-ngadi deh, kak. Kak Chan yang gue kenal ga mungkin kayak gitu." Ucap Jeongin dengan tertawa renyah.

Bangchan menggeleng lesu, tatapannya masih setia ke bawah, "sayangnya bener.."

"Apa yang ngebuat kakak ngelakuin hal itu?" Tanya Seungmin dengan nada kecewa.

Bangchan kembali mendongak, menatap mereka dengan tatapan bersalah, "gue dendam, Min.. Dia udah ngerebut semuanya dari gue. Dulu gua yang notebane-nya siswa terunggul di SMA jadi turun pangkat karena kedatangan dia. Kedua orangtua gue juga lebih sayang sama dia daripada anak kandungnya sendiri, mereka lebih membanggakan temen gue, dan banyak lagi,"

"Gue bener-bener bodoh waktu itu, dan sialnya, gue baru menyadari kebodohan gue sesaat setelah kecelakaan itu terjadi. Gue yang kata kalian baik ini sebenernya orang jahat. Gue tau kalian sekarang kecewa banget, gapapa kok kalian mau benci sama gue karena emang ini kesala---"

BUGH!

"Hyunjin!/Bangchan!" Seungmin, Minho dan Jeongin lantas cepat-cepat beranjak dari duduk mereka.

Hyunjin baru saja menonjok Bangchan keras yang mengakibatkannya jatuh tersungkur bersama kursinya dan bogeman itu menghasilkan luka di sudut bibirnya.

Hyunjin sudah tak kuasa lagi membendung emosinya. Wah sekali.. Panutannya selama ini ternyata orang yang sangat kekanak-kanakan. Ia kecewa berat dengan Bangchan. Bisa-bisanya selama ini dia menutupi kebrengsekannya terhadap mereka.

Hyunjin kembali ingin menonjok Bangchan, tapi keinginannya itu langsung ditahan oleh Jeongin dan Minho, sedangkan Seungmin berjalan ke arah Bangchan berniat membantunya.

"Kak.. Tahan emosi lo, kita juga sama marahnya sama kakak. Tapi kakak ga boleh sampe gini juga." Tutur Jeongin menenangkan.

Napas Hyunjin memburu, atensinya belum terlepas dari Bangchan, ekspresi dan auranya kini sangat sangat dingin.

"Dasar childish." Ucapnya sebelum ia meninggalkan mereka. Hyunjin meninggalkan perpustakaan, melupakan niat awalnya ke sini.

Setelah kepergian Hyunjin, Seungmin membantu Bangchan berdiri. Bangchan menerima uluran tangan Seungmin.

Bangchan berdiri. Berniat memberi ucapan terimakasih kepada Seungmin, namun Seungmin terlebih dulu meninggalkannya menyusul Hyunjin, dengan mata yang berkaca-kaca.

Bangchan menatap kepergian Seungmin sendu, lalu berpindah tatapan kepada Minho dan Jeongin yang masih berdiri di hadapannya.

"Maaf.. Gue jahat, maaf.."

Minho terlihat mematikan ponselnya, lalu dia berkata, "Gue kecewa, bang. Maaf." Lirihnya sebelum akhirnya menyusul Seungmin dan Hyunjin.

Satu-satunya harapan Bangchan sekarang adalah Jeongin. Karena Jeongin berbeda dengan yang lain, ia malah tersenyum.

"Yen?"

"Gue pasti maafin lo kok, kak. Karena manusia ya tetap manusia, sebaiknya mereka, mereka pasti pernah ngelakuin kesalahan. Tapi gue masih butuh waktu buat itu. Maaf ya, kak?" Tutur Jeongin lembut dengan senyum tulus.

Bangchan mengangguk, sebuah senyum terukir di wajahnya. Setidaknya masih ada yang mau membuatnya tersenyum seperti ini.

"Makasih ya, lo emang ade yang terbaik." Jeongin mengangguk.

"Gue pergi dulu, ya, kak? Kakak jangan kelamaan di sini, serem wkwk.." Setelah berpamitan, Jeongin pun pergi meninggalkan Bangchan seorang diri.

Bangchan masih tersenyum, tetapi ketika Jeongin sudah benar-benar tak ada di perpus, ia jatuh terduduk lemas di kursi. Bangchan memijat dahinya yang terasa pusing. Juga area pipi dan mulut yang rasanya masih nyut-nyutan karena pukulan keras dari Hyunjin.

Sepi.. Bangchan sendiri dengan keadaan sepi di ruangan ini. Benar-benar sendiri, karena penjaga perpus sedang ke toilet. Mangkannya tadi  sama sekali tak ada yang menegur mereka ketika teriak-teriak.

TBC

Ngakak sendiri sama paragraf terakhir :(.. Ga padu sekali, ngapa jadi bahas penjaga perpus T^T

Truth or Dare || Stray KidsTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang