3.maaf

97 23 1
                                    

-Happy Reading-

****

Ersya menempelkan kepalanya di meja kelas, sepanjang pelajaran Ersya hanya diam saja. Bahkan saat Tania ingin mengajaknya ke kantin dia lebih memilih tidur di kelas.

"Sya, lo sakit?." Tanya Tania yang duduk di sebelahnya.

"Enggak." Jawab Ersya sambil menoleh ke arah Tania.

"Wajah lo pucet banget Sya, mau gue anter ke UKS?."

"Gue nggak apa-apa kok Tan." Ucap Ersya dengan nada lemah.

"Lo ada masalah sama Dimas?." Sahut Dino di bangku belakang

Ersya terdiam, tidak sengaja matanya dan Dimas saling bertemu. Nampaknya dia juga sedang menunggu jawabannya.

"Gapapa." Hanya itu yang keluar dari mulut Ersya, kemudian Ersya pergi meninggalkan mejanya, dia keluar dari kelas. Untung saja saat ini sedang free class.

Ketiga temannya menatap Dimas seolah mereka bertanya apa yang terjadi.

"Lo susulin dia Tan, nanti dia kenapa-kenapa." Pinta Dimas

Tania mengangguk dan langsung menyusul Ersya. Dimas tau pasti Ersya masih marah kepadanya, perkataan dia tadi malam memang cukup menyakitkan.

"Lo lagi berantem sama Ersya?." Tanya Fabian.

"Menurut lo?." Tanya Dimas balik.

"Masalah rumah tangga apa lagi nih?." Pancing Dino

"Tagihan listrik mahal?."

"Lo selingkuh sama janda di kompleks lo?."

"Harga beras turun?."

"Harga cabe naik?."

"Tapi kalo mau cabe-cabean banyak tuh di depan kompleks rumah gue." Dino langsung tertawa keras.

"Tadi malem gue makan malem sama-sama di rumah gue, gue ngomong sama dia, abis itu dia pamitan pulang." Jawab Dimas.

"Emang lo ngomong apa." Tanya Fabian

"Gue ngomong kalo cewek kayak dia mana ada yang mau, orang gak waras aja yang khilaf sama dia, gue suruh dia ninggiin badan dikit ya minimal tau diri."

"Bego." Serempak Dino dan Fabian.

"Lo keterlaluan sih Dim, dia tuh cewek, lo harus jaga omongan lo jangan lo kasarin, kena karma baru tau rasa lo." Ucap Dino sedikit dramatis.

"Gue cuman becanda." Sahut Dimas datar.

"Becanda sih becanda Dim, tapi ya nggak kelewatan juga." Cibir Fabian yang duduk di samping Dimas.

Dalam hati, Dimas merenung perkataan yang menusuknya kepada Ersya. Kemudian Dimas berdiri dari duduknya, lalu berjalan keluar dari kelas.

"Mau kemana lo Dim?." Tanya Fabian

"Kantin." Jawab Dimas singkat, lalu meninggalkan kelas menuju kantin.

****

Ersya berjalan menaiki anak tangga ke rooftop, dia ingin menikmati angin dan sedikit melupakan masalah hari ini. Setelahnya dia merentangkan kedua tangannya lebar-lebar, membiarkan angin menerpa wajah, dan tubuhnya serta menerbangkan rambut panjangnya. Mata Ersya terpejam rapat.

Apa gue masih bisa seterusnya lihat semesta.

Perlahan matanya terbuka, ia menatap lurus kedepan. Apa yang sedang semesta rencanakan untuknya. Apakah nantinya semesta akan mengambil dirinya juga.

RUMIT [Hiatus]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang