Suasana lorong rumah sakit ini mulai gaduh ketika suara Satya meneriaki para suster dan dokter untuk segera menangani Amaliya yang sudah berlumuran darah. Bahkan, baju Satya yang semula berwarna putih kini berubah menjadi bercak darah yang tak sedikit.
Fahri, Bella, Satya, dan Syifa sedang menunggu di depan ruang UGD. Fahri dan Satya sudah terduduk lemas di lantai rumah sakit yang amat dingin itu. Tangan Satya sudah berlumur darah yang berwarna merah pekat.
Kira-kira satu jam-an, Dokter Sarah baru keluar dari ruang UGD dan hal itu sontak mengalihkan perhatian keempat orang tadi.
Fahri segera berdiri dan bertanya kepada dokter tesebut perihal kondisi Amaliya saat ini.
"Bagaimana kondisi anak saya dok?" tanya Fahri dengan tidak sabaran.
"Kondisi Amaliya sangat kritis, gadis itu mengeluarkan banyak darah, jadi dia membutuhkan donor darah secepatnya. Golongan darahnya A negatif. Bersamaan dengan itu, stok darah golongan A negatif di rumah sakit ini kosong. Apakah bapak, ibu, dan adik-adik ini punya golongan darah yang sama dengan pasien?" jelas Dokter Sarah.
Satya dan Syifa hanya diam, karena golongan darah mereka tak sama dengan golongan darah Amaliya.
"Saya dok,"
"Saya dok,"
Bella dan Fahri mengucapkan dua kata tersebut dengan bersamaan dan hal itu sontak membuat Dokter Sarah bingung harus memilih yang mana.
Fahri menatap Bella dengan tatapan tajamnya dan respon Bella hanya biasa-biasa saja.
"Kenapa kau mengajukan diri?" ucap Fahri.
"Ya mau mendonorkan darah untuk Amaliya lah," balas Bella enteng.
Fahri tersenyum sinis seraya berkata,
"Sejak kapan kau peduli dengan Amaliya? Bahkan kau tak pernah mengurusnya sedari kecil."
"Oh ya? lalu apa bedanya kau denganku? kau juga tak pernah mengurusnya sedari kecil. Right? " Fahri hanya diam tak berkutik. Apa yang dikatakan Bella memang benar adanya.
Satya yang sudah jengah akan pertengkaran mereka pun melerainya.
"Om, tante, bisa nggak kalian nggak usah bertengkar dulu? pikirkan kondisi Liya, dia harus segera mendapatkan donor darah secepatnya. Mohon kerja samanya," mohon Satya.
Fahri dan Bella sama-sama terdiam dan melirik satu sama lain lewat ekor mata mereka.
"Jadi? siapa yang akan mendonorkan darah untuk pasien?" tanya Dokter Sarah lagi.
"Saya saja dok," ucap Fahri.
"Baiklah, mari ikut saya," Dokter Sarah dan Fahri mulai melangkahkan kakinya meninggalkan ruang UGD.
Syifa mulai menghampiri Bella yang duduk di kursi tunggu disertai dengan tatapannya yang kosong.
"Tante," panggil Syifa setelah duduk disebelah Bella.
Bella menoleh dan mendapati Syifa yang sudah duduk manis disebelahnya.
"Apa tante peduli dengan Liya?" tanya Syifa lagi. Bella hanya bisa diam ketika Syifa melontarkan pertanyaan itu. Jujur, Bella sebenarnya peduli namun ada sesuatu yang membuat Bella harus melakukan ini.
"Tante nggak tau Syif," lirih Bella setelah sekian lama terdiam dalam tatapan kosongnya.
"Tante, selama ini Liya tersiksa banget atas perlakuan tante, dia selalu lari ke taman setelah tante marahi atau pas dia nangis. Dia rapuh tante. Dia nggak sekuat yang tante kira. Dia tersiksa tante, dia sakit hati tan." Syifa mengenggegam tangan Bella yang terasa dingin di telapak tangannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Destiny [COMPLETED]
Ficção AdolescenteJika disuruh memilih Amaliya Zahra lebih baik tidak sama sekali terlahir kedunia ini. Terlahir sebagai anak haram yang tak pernah diharapkan oleh pihak manapun membuatnya haus akan yang namanya kasih sayang. Anak dari hasil pemerkosaan yang dialami...
![My Destiny [COMPLETED]](https://img.wattpad.com/cover/222037381-64-k627425.jpg)