Haliza keluar dari kamar mandi, ia mengenakan celana hotpants dan kaos berlengan pendek dengan gambar kucing abu abu yang matanya berwarna biru
Ia menghampiri meja make up nya, bertengger cermin, ia menyisir rambut sepunggung nya sambil bersenandung ria
Ya, Haliza bukan wanita munafik, ia juga berhijab masih buka tutup, namun itu jika di dalam rumah Haliza berani berpenampilan seperti ini, karna ia tidak ingin memperlihat kan aurat nya pada lelaki lain, enak saja
Haliza berpendirian ia ingin yang melihat aurat nya nanti hanya suami nya kelak, tidak ada yang lain, jadi suami nya tidak sia sia menikahinya sebab Haliza sangat menjaga semua nya untuk suami nya
Lagi pula, Haliza juga tidak mau membebankan sang ayah, kasihan bukan, ayah nya di dunia sudah capek banting tulang kerja untuk dirinya dan sang bunda, lalu kelak di akhirat sang ayah disiksa di neraka karna kesalahannya yang tidak menjaga aurat
Mungkin sehelai kain adalah hal biasa bagi orang, hanya kain yang menutup bagian kepala namun di akhirat kain itu bisa menutupi nya dari api neraka
Haliza juga bukan wanita alim, maksudnya Haliza juga dulu pernah nakal, ia juga pernah mengumbar aurat nya, tapi itu dulu, setelah ia merenung, ia mendapat ilmu di sekolah Islam nya, maka dari itu ia ingin semakin mendekati sang khalik, bagaimana juga ia harus menutupi aurat nya
"Liz ayo turun nak, makan". Teriakan sang bunda memecah lamunan Haliza, Haliza selalu mengingat saat saat ia tidak menggunakan hijab, begitu memalukan
Haliza bergegas keluar dari kamar nya lalu menuruni tangga, terlihatlah bunda tercinta nya sedang menyusun makanan di meja makan
"Hmmmmm, ikan nya harum Bun, kecium sampe kamar Liza". Ucap Haliza
"Bisa aja kamu, yaudah duduk, cepet makan ya". Ucap Karmila
"Iya bun". Jawab Haliza, ia langsung mendudukan bokong nya di kursi, ia menyiuk nasi dan mengambil lauk pauk nya
Haliza yang melihat sang bunda sedang merapihkan piring pun hendak mengajak bicara
"Ayah kapan pulang Bun?" Tanya nya
Fajar-ayahanda haliza, adalah lelaki berperawakan tinggi, orang Ambon, namun kulit nya tidak terlalu hitam, fajar bekerja sebagai TNI ya mengabdi kepada negara itu sebabnya sang ayah sering keluar kota, dan menyebabkan keluarga kecilnya menanggung rindu
Namun Haliza bangga pada sang ayah, walaupun ia dan sang bunda sering ditinggalkan, namun Haliza senang jika lelaki yang disayangi nya bekerja melindungi negara tercinta
Karmila sang bunda tersenyum mendapat pertanyaan dari anaknya, ia pun menoleh, ia mengelap tangan nya yang sudah beres membereskan piring
Lalu ia menghampiri sang anak, Karmila membelai halus surai anaknya ini
"Kata ayah sebentar lagi tugas nya juga bakal selesai, jadi paling cepet pulang nya Minggu depan". Jawab Karmila lembut
"Serius Bun?" Tanya Haliza tidak percaya
"Iya, insya Allah kalau tidak ada halangan". Ucap Karmila tidak berhenti mengusap rambut hitam anaknya
"Amin, semoga ayah cepet pulang, soalnya Liza udah kangen banget sama ayah". Ucapnya sumringah
Karmila yang melihatnya pun mengangguk sambil tersenyum lembut, tidak hanya Haliza yang merindunya fajar, tetapi dirinya juga, hampir 20tahun menikah, dan tau pekerjaan suami seperti ini, Karmila selalu memaklumi, namun ia sering tertegun jika sudah ditinggal berminggu Minggu, apalagi ia hanya berdua dengan anak semata wayang nya.
--
Tbc.
Have a nice day guys❤️

KAMU SEDANG MEMBACA
She Is Haliza
Genç Kurgu-- "Woii, berisik, gak liat hah ni jalan masih macet". Teriak Haliza nyaring Ya itulah pertemuan pertama mereka, yang menyebabkan Haliza terperangkap dalam kerumitan yang ia ciptakan sendiri Sementara si tampan Sagam memandang wanita nya Sebentar? W...