HALLO... I'm back!!
Aku minta maaf bgt buat yg nunggu cerita absurd ini walaupun aku jg g tau ada yg nunggu ato gak.
Karena ada problem yg 'cukup' serius aku gak bisa Up dan ide ilang semua karena g bisa aku save di hp huhu... Dan mungkin buat beberapa minggu ini aku belom bisa Up tepat waktu, jadi mon maap kalo molor ya...
Happy reading....
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
."PAGI EVERYBODY!!"
TAK!
Adib mengaduh kesakitan saat tangan putih Samuel mendarat kasar di belakang kepalanya.
"Mulut lo bisa kalem nggak? Di rumah orang bacot bener."
"Tau tuh pantat panci!" Tambah Mark.
"Apa lo gantungan kolor?!"
"Dih?! Atap gosong!"
"Woy!! Malah bala semua di depan pintu. Mau ikut sarapan nggak?" Tawar Dion melerai pertikaian. Tak usah ditanya bagaimana tanggapan mereka, sudah pasti mereka ikut walaupun sudah makan dirumahnya masing-masing. Ingatlah kata gratis...
Dengan kompak mereka duduk di area meja makan dengan tertib.
"Wihhh orang kaya makannya berlian, Bro. Mewah." Kagum Mark menelaah seisi meja.
"Bacot, tinggal makan juga!" Jawab pedas Galang yang dihadiahi cibiran Mark yang duduk disampingnya dan akhirnya mereka mulai hanyut dengan makanan masing-masing.
Hari ini mereka akan liburan di salah satu villa milik keluarga Galang setelah melakukan musyawarah tegang dengan Sang Ayah, tentunya.
Tadi malam tiba-tiba saja Galang bertanya tentang Johan penjaga villa yang dulu berkerja dengan Ayahnya, entah mengapa tiba-tiba Galang menanyakannya. Ia hanya patuh saat Galang memaksa membawanya kesana.
Setelah sarapan, mereka mulai pergi menggunakan mobil Dion.
Lamanya 2 jam mereka sampai ditujuan, mobil Dion memasuki area villa.
Semua tertegun saat mengedarkan pandangan mereka disekeliling villa. Kumpulan pohon Pinus yang berada di sepanjang jalan yang memberikan kesan indah jika dilihat, dan sesalnya mereka baru menyadari saat sudah sampai. Bahkan Galang dan Dion saja ikut terpegun dengan keadaan sekitar villa yang benar-benar baru untuk mereka.
Mereka memasuki villa yang terlihat kosong namun bersih karena terawat. Merehatkan diri di sofa adalah kegiatan yang dilakukan Dion, sedangkan Mark, Adib, dan Samuel menerkam makanan yang ada di dekat mereka dengan hikmat. Galang? Ia mencari seseorang yang menjadi salah satu tujuannya kesini.
Tak butuh waktu lama untuk mencari, Galang menemukan Johan__yang ia panggil dengan sebutan paman Jo__sedang membersihkan taman belakang Villa.
"Paman Jo!" Merasa terpanggil, Johan membalikkan tubuhnya dan melihat Galang berdiri dengan senyumannya.
"Tuan Muda?" Lirihnya memastikan.
Galang mendekat dan langsung memeluk Johan erat. Tentu dengan rasa rindu Johan membalas pelukan Galang.
"Ini benar-benar Tuan Muda Galang?" Tanyanya memastikan saat mereka menyudahi acara lepas rindu mereka.
Galang mengangguk pasti, "Iya."
"Oh Ya Tuhan__Paman benar-benar rindu dengan Tuan Muda. Paman pikir Tuan Muda tidak akan kesini. Tuan Muda bahkan sekarang sudah sangat besar ya?" Johan tersenyum haru melihat perubahan Galang saat terakhir kali mereka bertemu, tepatnya beberapa hari setelah kematian Nyonya Riharja. Ia terlihat baik-baik saja.

KAMU SEDANG MEMBACA
The Restraint
RandomHarta adalah salah satu penyebab munculnya perselisihan. Begitupun apa yang terjadi pada keluarga ini. Banyak masalah yang terjadi didalamnya, namun hanya satu penyebabnya. *Cerita ini hanya fiktif belaka, jika terjadi persamaan tokoh dan lainya moh...