Setelah pintu mobil tertutup Bara mengusap wajahnya frustasi sambil beberapa kali memukul keras setir mobilnya. Laki-laki itu bersandar di kursi kemudi, menghembuskan napas secara kasar, rahangnya mengatup rapat. Tak lama kemudian mobil hitam itu melesat meninggalkan kompleks perumahan Kevin.
._._._.
Kedua tangan Safina menggenggam erat wastafel. Pandangan matanya semakin kabur tangisnya pun pecah. Satu tangannya yang lain menutup mulut agar suara tangisnya tak terdengar dari luar. Berkali-kali gadis itu menghirup oksigen kuat-kuat seraya memandangi patulan wajahnya dicermin yang tampak tak karuan. Satu per satu ingatan yang telah dilaluinya bersama Bara bermunculan menghantam relung hatinya.
Seperti terjebak dalam kegelapan Safina hanyut dalam kesedihannya. Mendadak semuanya terasa rumit. Gadis itu semakin terisak, napasnya tak beraturan.
Gadis itu sangat sadar sekarang bukan waktu yang tepat untuk meratapi semua ini, karena seharusnya dia sedang berbahagia merayakan ulang tahun Kevin. Namun Safina tak punya kuasa atas perasaannya sendiri. Begitu menyakitkan jika mengingat bagaimana wajah Bara berbinar saat menceritakan hubungannya dengan Luna pada Kevin. Tapi mengapa Safina harus kecewa pada Bara padahal sudah jelas akar semua permasalahan ini adalah asumsi liar yang dia bangun sendiri hanya karena perhatian kecil Bara.
Ternyata memang benar jika seseorang memutuskan untuk jatuh cinta maka dia harus siap dengan segala konsekuensinya.
Getar ponsel di dalam tas membuat Safina tersentak. Gadis itu segera menyeka air matanya kasar kemudian dengan cekatan melepas kerudungnya, menyalakan keran dan membasuh wajah untuk menghapus sisa-sisa air matanya.
._._._.
Kevin merebahkan tubuhnya diatas kasur. Tangan kirinya ia gunakan untuk alas kepala sementara satu tangan yang lain sibuk menyecroll tampilan beranda instagram. Jempolnya seolah otomatis mengetuk simbol hati setiap foto yang terpampang disana. Sementara pikirannya melayang entah kemana. Kevin sudah lama menyadari bahwa ada sesuatu yang berbeda pada sahabatnya tapi dia belum yakin seutuhnya. Entah kenapa kekhawatirannya yang belum pasti itu perlahan mengusiknya.
Pranggggg ...
" Mas Kevin tolong!! "
Refleks Kevin terlonjak dari posisinya. Laki-laki itu membuka pintu kamar lalu berlari ke lantai bawah. Belum sempat kakinya menapaki anak tangga terakhir, Kevin dibuat bingung saat melihat kue tart, tumpeng mini, serta aneka makanan dan minuman tertata rapi meja. Sepasang LCD proyektor juga sudah terpasang.
" SELAMAT ULANG TAHUN !!! " Teriak pak Santoso dan bi Naning.
Otak Kevin masih mencerna apa yang sedang terjadi, hingga akhirnya pandangan matanya tertuju pada gadis yang berdiri paling belakang.
Sebuah senyuman manis terpancar di wajah Safina. " Malah bengong. Cepet turun! Apa perlu dituntun ?? "
Laki-laki itu kembali melangkahkan kakinya sembari memasukan dua tangan pada saku celananya sembari memasang raut wajah datar. " Apa-apaan nih? "
Safina terkekeh geli sementara pak Santoso dan bi Naning berusaha menahan tawa. Mereka bertiga paham betul saat ini Kevin pasti merasa jengkel bukan main.
" Ngambeknya di pending dulu! Sekarang waktunya tutup mata! "
Kevin tak bergeming.
Safina menghela napas lalu berjalan menghampiri Kevin dan menarik ujung lengan kaos laki-laki itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
KITA TERALIH
Teen FictionPernah nggak kalian ada di posisi layaknya pemeran utama cewek yang sering muncul pada novel remaja? Yap, Itulah yang terjadi pada Safina gadis biasa yang hidupnya berubah, setelah melewati rentetan macam peristiwa. Termasuk berada diantara dua kisa...
