Bara dan Safina kini sudah berada di ruang UKS, keduanya sedang mendapatkan pertolongan pertama oleh sie kesehatan. Ranjang mereka hanya dipisahkan oleh sebuah korden putih.
Suasana di depan ruang UKS mendadak sesak, karena dipenuhi anak OSIS yang sedang berkerumun. Mereka begitu penasaran dengan keadaan Bara dan Safina. Karena keadaan yang semakin tidak kondusif, membuat Niko terpaksa membubarkankan mereka semua.
Bara belum juga siuman, meski semua luka pada tubuhnya sudah diobati.
" Apa perlu kita bawa Bara kerumah sakit ? " Tanya Kevin khawatir.
" Aku rasa kita lihat dulu gimana reaksinya setelah hidungnya diberi sedikit minyak kayu putih. Semisal masih belum sadar, baru kita bawa kesana " Jawab salah seorang anggota sie kesehatan.
Kevin mengangguk pasrah. Dia dan Leo berdoa agar Bara tidak mengalami luka serius.
Setelah hidungnya diolesi minyak kayu putih, perlahan Bara mulai membuka matanya dan sesekali terbatuk-batuk. Dengan cekatan Leo membantu Bara minum air putih menggunakan sedotan, agar tubuhnya menjadi lebih rileks.
" Alhamdulillah awakmu udah sadar. Kita ke rumah sakit ya "
" Nggak perlu Vin. Nanti nyampe rumah aku panggil dokter keluarga aja. Ini udah mendingan kok, cuma perlu istirahat bentar aja. " Jawabnya dengan suara parau.
" Oke kalau gitu aku sama Leo tunggu luar ya, kalau butuh apa-apa awakmu panggil kita. "
Bara mengangguk.
Di ranjang sebelah sie kesehatan sudah selesai membalut tangan kanan Safina dengan perban, kini giliran kakinya yang mendapat perawatan. Baru saja Nana memegang pelan pergelangan kaki kirinya, Safina sudah merintih kesakitan. Mendengar suara Safina membuat Bara yang terpejam refleks membuka mata. Setelah mengompresnya dengan air es, selanjutnya Nana memperban kaki Safina dengan perban khusus keseleo.
" Udah selesai, semisal nyerinya besok atau lusa masih berlanjut kamu mending ke dokter ya "
" Iya Na, makasih banyak ya "
Nana pamit meninggalkan Safina.
Nabila yang sedari tadi terdiam di sudut ruangan, kini berjalan menghampiri sahabatnya itu.
" Kamu udah gpp Saf ?"
" Heem "
" Maafin aku ya, ini semua gara-gara aku ninggalin kamu sendiri disana "
" Nggak ada yang salah, ini semua sudah takdir. Lagian kalau kamu tetap disana, bisa jadi kita berdua terluka dan kita gabisa nolongin Bara. "
Nabila tidak membalas omongan Safina, dia malah memeluk sahabatnya itu dengan erat. Safina tersenyum sambil menepuk-nepuk lembut punggung Nabila. Dia yang tidak sengaja melihat ke arah jam dinding, segera melepaskan pelukannya.
" Bil udah jam 10 malem, kamu mending pulang ya. Besok kan harus masuk pagi "
" Tapi kamu gimana ? "
" Kamu tenang aja, aku sebentar lagi dijemput sama kak Adam. Disini juga masih ada Kevin sama temen-temen OSIS. " Jawab Safina sambil tersenyum.
Untuk kali kedua Nabila dengan berat hati meninggalkan Safina. Dia berpesan pada Safina untuk segera men-chatnya ketika sampai dirumah.
Beberapa saat setelah Nabila meninggalkan ruang UKS, Bara menggeser korden putih yang memisahkannya dengan Safina.
Safina tertegun, dia terdiam melihat muka Bara yang babak belur. Namun disisi lain dia bersyukur karena Bara telah siuman.
Safina berniat membantu ketika melihat Bara berusaha untuk bangun dari posisi tidurnya. Namun Bara justru menepis tangannya. Safina meringis menahan sakit di tangannya. Sementara Bara hanya terdiam sambil memandang telapak tangan Safina yang diperban itu, selanjutnya dia tersenyum sinis.
KAMU SEDANG MEMBACA
KITA TERALIH
Teen FictionPernah nggak kalian ada di posisi layaknya pemeran utama cewek yang sering muncul pada novel remaja? Yap, Itulah yang terjadi pada Safina gadis biasa yang hidupnya berubah, setelah melewati rentetan macam peristiwa. Termasuk berada diantara dua kisa...
