13. Should I hate you, Mom?

1.6K 293 298
                                        

Kini, Jungkook dan Jiseo tak lagi bertengkar. Meskipun mereka masih saling memukul satu sama lain, nyatanya Jungkook terlihat sangat nyaman merebahkan tubuhnya di atas sofa dengan paha Jiseo sebagai bantalnya. Ia terus mengusak-ngusakkan kepalanya sambil terus menghirup aroma pewangi yang Jiseo pakai.

"Kenapa? kau tidak suka?!"

Jungkook bertanya cukup keras setengah berteriak karena Jiseo nampak menyangga pelipisnya dan tidak mau menatap Jungkook yang mencoba mencari perhatiannya.

"Pacar itu tidak begini," kelinci nakal itu lalu menarik tangan bebas Jiseo lalu meletakkannya di puncak kepala. Membuat gerakan mengusap hingga membuat Jiseo kaget. "Begini! elus elus!" katanya, menggurui.

Jiseo tidak mengeluarkan protes saat Jungkook menuntunnya untuk mengusap rambut hitamnya sampai Jungkook membiarkan tangan Jiseo melakukannya sendiri. Untuk beberapa saat, Jungkook menikmati sentuhan tangan Jiseo sambil tersenyum menang, sampai ...

"Jadi kita pacaran, 'kan?"

Pertanyaan Jungkook sukses membuat Jiseo kesal dan mengacak-acak rambutnya. Alih-alih merapikannya, Jiseo malah menjambak Jungkook hingga mereka lagi-lagi bertengkar karena satu helai rambut Jungkook tercabut.

"Sakit!" ujar Jungkook.

"Aku tidak mau jadi pacarmu! dasar nakal!" gerutu Jiseo kesal.

"Tapi aku mau, kau tidak boleh menolak kemauanku!" balas Jungkook.

"Memangnya kau ini siapa, seenaknya saja mengaturku!" kata Jiseo.

"Pacarku! kau pacarku! tuli, ya?!" Jungkook mulai tersulut emosi. Ia melirik tajam Jiseo lalu menggigit tangan Jiseo yang berhasil ia raih.

Jiseo berteriak, tentu saja. Jungkook benar-benar menggigitnya.

"A! lepas lepas lepas!" ujar Jiseo sambil memukul pundak Jungkook.

Anak itu mengerucutkan bibirnya sesaat setelah ia melepaskan gigitannya. Jungkook lantas memeluk perut Jiseo dengan ekspresi yang masih sama.

"Pokoknya pacar! tidak mau tau!" katanya.

Jiseo tidak mengiyakan ataupun menolak. Ia memijat kepalanya sendiri pusing menghadapi anak kecil dengan tubuh yang lebih besar darinya yang sekarang bergelayut manja di tubuhnya. Ia pun tiba-tiba bangun lalu menatap Jiseo penuh arti. Jiseo benar-benar tidak suka diperhatikan seperti itu sampai akhirnya ia mendengar Jungkook membuang napasnya.

"Kau tidak mau jadi pacarku?" Jungkook bertanya, suaranya berat rendah membuat Jiseo terhenyak.

"Kau sudah tau jawabannya!" jawab Jiseo.

"Ah, aku tau ... kau menyukai Taehyung, 'kan?" rona merah di pipi Jiseo menandakan kalau gadis itu membenarkan apa yang Jungkook katakan. Jungkook mendengus, ia tidak suka kalau miliknya ternyata menyukai orang lain. Jungkook lantas mendorong tubuh Jiseo hingga membentur siku sofa. Ia mengunci tubuh Jiseo dengan lengan kuatnya sampai Jiseo tidak bergerak. Jungkook tidak peduli biarpun gadis itu terus melayangkan protes.

"Jungkook-ah, kau gila?!" Jiseo berteriak, menatap nyalang Jungkook yang sekarang menindihnya.

"Gila? kau bertanya apa aku gila?!" bibir anak itu tersungging. "Kau yang sudah buat aku gila!" ujarnya.

"Jungkook, tolong jangan – "

"Apa? memangnya kenapa? ini kantor ayahku, tidak ada seorang pun yang berani membangkanku kecuali kau, noona!" kata Jungkook. Bocah itu meradang. "Aku menyukaimu, tapi kau malah menyukai orang lain!" ujarnya. Tangannya semakin erat mencengkeram pergelangan Jiseo. "Aku mau menandaimu! kau milikku!" pungkasnya.

PRINCE JUNGOOCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang