Jungkook mengendarai mobil jenis mini van itu dengan keterbatasannya. Ia pernah belajar, hanya saja tidak mahir kemudian berakhir malas namun kali ini Jungkook harus pulang. Ia terpaksa meninggalkan Jeju setelah berhasil mendapatkan keberangkatan terakhir Feri ke Seoul. Jungkook tidak henti-hentinya gelisah, keringat dingin nampak turun bebas melewati pelipisnya. Yang anak itu pikirkan sekarang hanyalah bagaimana ia menyelamatkan orang yang seharusnya tidak terlibat dengan masalalunya meskipun dia tidak pernah melihatnya. Jungkook tidak henti-hentinya menghubungi Jiseo tapi sayangnya nomor Jiseo tidak aktif. Entah wanita itu sudah memblokir nomornya atau sengaja mematikan ponselnya. Jungkook tidak tau pasti. Ia kesal, memukul beberapa kali setir mobilnya, mendesah gusar lalu menghempaskan tubuhnya di kursi kemudi. Jungkook melirik ponselnya yang tiba-tiba berdering, beberapa panggilan masuk dan pesan ia abaikan seolah tak ada lagi yang Jungkook pikirkan selain Jiseo.
Butuh setidaknya 2 jam untuk sampai ke pelabuhan. Setelah kapal sandar kemudian rampdoor diturunkan, Jungkook ikut bergegas bersamaan dengan mobil lain yang juga keluar dari kapal.
"Wah wah, anda memang manipulatif, Nyonya!"
"Dia kembali?!"
"Ya, dengan mudah dia kembali ke Seoul hari ini juga,"
"Tentu saja, putraku memang terbaik, Taehyung-ah ...,"
"Nampaknya begitu," sedikit helaan napas menginterupsi pembicaraan lewat sambungan telepon sebelum kalimat lain terlontar. "Oh, mobilnya sudah keluar, aku tidak mau kehilangan uangku!"
Seringai itu terbit usai telepon dimatikan. Pria dengan kaos hitam dan jaket kulit tersebut menginjak pedal gas mobil automatic pemberian Hara. Ia mengikuti ke mana mobil Jungkook pergi dan terus mengawasinya.
Sementara itu, Jungkook mengendarai mobilnya menuju ke flat yang Jiseo tempati. Pria kecil ini tak ingin kehilangan banyak waktu sebelum ibunya bertindak lebih jauh. Dengan napas tersengal, Jungkook menaiki tangga. Mengetuk keras pintu flat kecil milik Jiseo sembari terus memanggil namanya.
"Noona! ya! kau di dalam?!" teriaknya.
Panggilan itu memicu tetangga flat Jiseo keluar kemudian memaki Jungkook.
"Percuma saja kau mengetuk pintunya keras-keras seperti itu! dia sudah pergi beberapa menit yang lalu! mengganggu saja!" kesalanya.
"Pergi? ke—ke mana?"
"Mana aku tau! dia membawa koper, mungkin saja pindah ke tempat yang baru!"
Tidak ingin menyiakan kesempatan, Jungkook lantas berlari menuruni tangga. Ia bahkan tak ingat bertanya di mana halte bis terdekat yang ada di sana. Pemuda itu berlarian tak tentu arah, melakukan sesuatu yang tak pernah Jungkook lakukan seperti bertanya pada orang asing atau mengucapkan tolong dan terima kasih.
"Sial!"
Jungkook mengumpat, ia merogoh sakunya mengambil ponsel dan mencoba menghubungi seseorang.
"Ayah …,"
"Jungkook, ada apa? mengapa suaramu …,"
"Bukan saatnya Ayah menanyakan keadaanku," kata Jungkook disela napasnya yang menderu. "Aku di Seoul, aku mencari sekretaris Ayah," tuturnya.
"Sekretaris Kim?"
"Apa dia benar-benar mengundurkan diri, Ayah?" tanya Jungkook.
"Ya, dia menyerahkan surat pengunduran diri kemarin, tapi ayah belum menadatanganinya,"
Tubuh Jungkook seakan berubah menjadi kapas setelah mendengar penuturan Yoongi. Kalimat yang sebelumnya akan terlontar seolah berhenti begitu saja di batang tenggorokannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
PRINCE JUNGOO
Hayran Kurgu[ON GOING] 181030 "Pokoknya, Jungkook itu Bosnya!"- Kim Jiseo Jeon Jungkook, anak satu-satunya dari pengusaha besar Jeon Yoongi. Setelah beberapa kejadian yang ia lewati, anak itu sekarang menjadi dingin, angkuh bahkan ia sangat suka berbuat seenakn...
