"Apa kau melihat seorang yang bicara dengan Jungkook sebelum dia pingsan, Sekretaris Kim?"
Pertanyaan Yoongi lantas dibalas gelengan yakin oleh Jiseo. Ia yakin sekali jika tidak melihat siapapun kecuali Jungkook yang jatuh terduduk lemas di lantai depan ruang informasi stasiun.
"Aku bahkan tidak tau mengapa Jungkook bisa tiba-tiba jatuh seperti itu," Jiseo menambahkan. "Aku kembali karena dompetku ketinggalan di flat lamaku, kalau tidak, mungkin aku juga tidak akan bertemu dengan Jungkook," katanya.
"Kau yakin?"
Jiseo mengangguk, menyakinkan Yoongi jika ia mengatakan hal sebenarnya saat ayah satu orang anak itu bertanya. Mereka bedua duduk di cafetaria rumah sakit sambil menikmati remang cahaya menembus kaca-kaca ruangan yang sengaja dibuka. Sejemang, Yoongi membuang napasnya. Ia harus tau apa yang sebenarnya terjadi. Apalagi, ia tidak memiliki kesempatan berbicara dengan Jiseo kalau Jungkook bangun.
"Asistenku mengatakan jika ada seorang yang bicara dengan Jungkook sebelum dia pingsan. Sayangnya, dia kehilangan jejak," Yoongi memijat pertemuan alisnya. "Dia hilang di antara kerumunan orang yang mengelilingi putraku," lanjutnya.
"Apa anda berpikiran kalau orang itu yang menyebabkan Jungkook pingsan?" tanya Jiseo penasaran.
"Tidak, hanya …," kalimat Yoongi terjeda. Ia mengusap air mukanya sendiri. "Oh, apa aku boleh menanyakan satu hal padamu?" Yoongi mengalihkan pembicaraan.
"Ah, tentu …,"
"Mengapa kau memutus mengundurkan diri secepat tiba-tiba?" tanya Yoongi. "Apa ini ada kaitannya dengan Jungkook?" tambahnya.
Jiseo sedikit tergagap. Tidak mungkin ia mengatakan jika sikap Jungkook menurutnya sudah keterlaluan. Alhasil, berbohong adalah satu-satunya cara agar Yoongi tidak bertanya mengapa ia berhenti dari pekerjaannya.
"Aku lebih suka tinggal di rumah," kebohongan untuk kesekian kalinya baru saja Jiseo lontarkan. "Lagipula ibuku akan khawatir jika aku sendirian di Seoul!" lalu kebohongan selanjutnya terungkap.
"Sekretaris …," Yoongi nampak berdehem, ia ingat bila Jiseo bukan lagi staffnya walaupun dirinya belum menandatangani surat pengunduran diri. "Nona Kim, kau yakin?" Yoongi bertanya.
"Ya, lagipula aku merasa kurang cocok dengan pekerjaanku," jawab Jiseo sambil mengusap lengannya. "Aku rasa, aku lebih suka membantu ibuku berkebun," tambahnya diiringi tawa canggung.
"Aku tidak bisa memaksamu tapi jika kau ingin kembali, kembalilah!" Yoongi beranjak dari tempat duduknya. "Surat pengunduran dirimu belum aku tanda tangani, aku menganggapmu mengambil cuti untuk kunjungan singkat dengan keluargamu," jelasnya.
"Tapi sajangnim …," Jiseo mendongak seakan berkata bahwa ia tetap pada keputusannya untuk resign.
"Aku tau aku sangat egois, tapi …," Yoongi seperti berpikir. "Aku tidak pernah melihat putraku sebahagia itu sebelum bersamamu. Aku juga sangat percaya kalau kau bisa membantunya, Nona Kim!" Kemudian Yoongi pergi, meninggalkan pertanyaan memutar di otak Jiseo tanpa jawaban pasti.
"Ah, ayah dan anak tidak ada bedanya!" gerutu sang gadis.
Jiseo menoleh menatap keluar jendela kaca di sampingnya sambil melipat kedua tangan. Berkali-kali ia terdengar menghela napas sebelum memutuskan untuk menghubungi ibunya, memberi tau jika Jiseo akan pulang setelah pekerjaannya selesai. Wanita berambut pendek itu lantas meninggalkan kursinya. Ia rasa, ada yang harus Jiseo bicarakan pada Jungkook kali ini.
"Kau belum tidur?" Jiseo berkata sesampainya ia di ruang rawat Jungkook seraya menghampiri si pemuda.
Jungkook tidak menjawab, pipinya membulat sembari memicing mengawasi Jiseo yang kemudian duduk lalu menyangga kepalanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
PRINCE JUNGOO
Fanfiction[ON GOING] 181030 "Pokoknya, Jungkook itu Bosnya!"- Kim Jiseo Jeon Jungkook, anak satu-satunya dari pengusaha besar Jeon Yoongi. Setelah beberapa kejadian yang ia lewati, anak itu sekarang menjadi dingin, angkuh bahkan ia sangat suka berbuat seenakn...
