14. Please, Save me ...

1.8K 297 163
                                        

Seharusnya, hari itu adalah hari yang paling membahagiakan untuk Jiseo di kantor. Ia bisa bangun pagi, berangkat bekerja menggunakan bis seperti biasa. Mampir ke mini market membeli sandwich dan kopi kaleng kesukaannya lalu bertemu teman-temannya dan mengobrol sebebas yang ia mau. Tidak ada Jungkook, tidak ada anak nakal yang mengganggunya. Bahkan ketika ia berdiskusi dengan rekan sedivisinya, tidak ada yang protes lalu merengek dan memberi perintah seenaknya. Ah, betapa bahagianya Jiseo hari ini. Ia bahkan terlihat semangat saat kepala divisi memintanya membuatkan kopi.

"Jiseo-ya, bagaimana kalau siang ini kita makan udon bersama?" ajak Yuna, salah satu rekan divisi Jiseo, bagian administrasi.

Jiseo mengangguk, mendongak menatap Yuna lalu menanggapinya antusias. Jiseo bahkan berpikir, kenapa ia tidak menolak Jungkook saja sejak awal? anak itu pasti akan menyerah dan tak lagi merusak hidupnya. Namun kesenangan Jiseo tak berlangsung lama. Tepat ketika jam menunjukkan angka 11, saat Jiseo bersiap akan keluar makan siang, seorang dari bagian receptionist kantor menghubunginya.

"Bisakah kau menundanya hingga selesai makan siang? apa ini penting?" jawab Jiseo sedikit kesal

"Tidak bisa Jiseo-ssi, kau sudah ditunggu Jeon sajangnim," ujar sang receptionist.

"Jeon Sajangnim sudah—"

"Asisten Yoo menunggumu di lobby untuk menjemputmu."

Jiseo menyentuh dahinya sendiri. Ia tidak bisa mengelak apalagi marah. Jungkook pasti menggunakan ayahnya untuk memancingnya datang lalu menuruti semua perintah konyolnya. Setidaknya, itulah yang ada di pikiran Jiseo sekarang. Jiseo mengangguk, mengatakan iya lalu pergi setelah memakai blazer coklatnya. Ia juga mengirimkan pesan kepada Yuna untuk berangkat tanpa menunggunya terlebih dulu.

"Selamat siang, Sekretaris Kim," Asisten Yoo membungkuk sopan di depan Jiseo. Ia tau kalau gadis ini berharga untuk Tuan Mudanya.

"Oh, selamat siang ...," Jiseo juga ikut membungkuk. Ia tidak mau dianggap tak sopan dengan Asisten yang kabarnya sudah bekerja hampir 10 tahun dengan atasannya. "Ah, ada apa Tuan menjemputku?" tanya Jiseo.

"Tuan besar meminta saya untuk menjemput anda," jawabnya.

"Ya, maksudku—"

"Kita tidak punya waktu, Tuan besar sedang menunggu anda, Sekretaris Kim ...," potong Asisten Yoo.

Jiseo menghela napas, mengikuti arahan asisten pribadi Yoongi yang membawanya pergi. Sepanjang jalan, ia mencoba bertanya namun yang ia dapat hanyalah jawaban kosong dari asisten Yoo hingga tibalah mereka di sebuah rumah sakit besar tempat dimana Jungkook berada. Jiseo semakin bingung, apalagi saat Asisten Yoo mempersilahkan untuk mengikutinya.

"Silahkan, Sekretaris Kim ...," Asisten Yoo membukakan pintu kaca yang dijaga oleh dua orang staf pribadi Yoongi.

"Ah, terima kasih."

Jiseo berjalan takut-takut. Ia benar-benar tidak tau apa yang sedang terjadi sampai ia melihat Yoongi sedang berbicara dengan seorang Dokter di depan pintu ruang rawat.

"Ada apa ini?" Jiseo bertanya lirih. Ia mempercepat langkah kakinya mendekati Yoongi.

Sadar kalau ada seorang yang datang, perhatian Yoongi teralih. Ia menatap tajam sekretarisnya yang sekarang membungkuk hormat memberi salam.

"Tolong beri tau aku perkembangannya," kata Yoongi menutup pembicaraan dengan Dokter yang kemudian pergi setelah menyapa Jiseo diikuti oleh beberapa orang perawat.

"Jeon sajangnim ...,"

Yoongi terdengar membuang napasnya. Ia berkacak pinggang dan menatap Jiseo yang terus tertunduk di hadapannya.

PRINCE JUNGOOCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang