"I can explain this." - Mark
"What have gotten into you?!!" - Wendy
"Semua ini salah paham." - Mijoo
"Apa kau sudah gila?!" - Yoongi
Apa yang akan dilakukan seorang Mark Tuan bila ia dihadapkan pada situasi yang mengharuskannya memilih satu diantara...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Terima kasih sudah mampir untuk makan malam, Yoon. Sudah lama kita tidak banyak mengobrol seperti tadi."
Yoongi tersenyum dan mengacak rambut Wendy pelan.
"Seharusnya aku yang mengatakan itu padamu. Terima kasih untuk makan malamnya."
Wendy mengerucutkan bibirnya ketika Yoongi mengacak rambutnya, namun ia tersenyum ketika pria itu mengucapkan terima kasih padanya. Jujur, Wendy sangat merindukan Yoongi sebagai sahabat baiknya. Dimana pria itu selalu ada disaat ia merasa lelah dengan hari-harinya.
Mendengar kabar Yoongi melanjutkan studi di Inggris setelah lulus sekolah membuat Wendy sangat sedih karena ia akan kehilangan sahabatnya. Belum lagi dengan sikap Yoongi yang menjauhinya ketika ia berpacaran dengan Mark, malah semakin membuatnya sedih. Masa lalu akan kebersamaannya bersama Yoongi membuat Wendy sedikit sentimental dan tanpa sadar meneteskan air mata.
"Lho? Kenapa kamu nangis, Wan?"
Wendy langsung menghapus air matanya ketika Yoongi melihat pipinya basah.
"Aku nggak nangis kok?!" bantahnya membuat Yoongi mendekat dan mengusap kedua pipi chubby-nya dengan kedua ibu jarinya.
"Wan, Wan. Kamu dari dulu emang nggak bisa bohong. Sekalinya bohong pasti ketahuan, kayak sekarang."
Wendy tertegun mendengar suara berat Yoongi tentang dirinya. Ternyata pria itu masih mengingatnya walau mereka sudah lama tak bertemu. Sesaat ia berpikir, suaminya saja belum tentu tahu akan hal ini. Hanya Yoongi yang sudah benar-benar sangat mengenalnya.
"Aku nggak tahu apa yang lagi kamu pikirkan sekarang. Tapi saranku, lupakan semuanya sejenak dan biarkan tubuhmu beristirahat dengan nyaman. Everything will be alright."
Wendy mengangguk pelan mendengar nasihat Yoongi. Walau wanita itu tak mengucapkan sepatah kata pun tentang apa yang mengganggu pikirannya, Yoongi bisa merasakan kegelisahan yang dirasakan Wendy saat ini. Entah apa penyebabnya, namun yang jelas ia akan mencari tahu nanti.
"It's getting late. Thanks for dinner and hope we can grab some coffee and talk again like this. Good night, Seungwan."
Wendy mengangguk dan menatap kepergian Yoongi yang kini telah memasuki mobil dan melaju meninggalkan kediamannya.
"Good night, Yoongi."
****
Sinar mentari pagi menembus masuk melalui jendela apartemen, membuat sang tuan rumah sedikit terganggu akibat cahaya yang cukup menyilaukan mata. Ia pun berbalik ke samping kanannya dan memeluk guling kesayangannya erat.