Nineteen

53 2 0
                                    

1486 words! Enjoy ;)


1486 words! Enjoy ;)

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


Still Flashback




"I will divorce my wife."



Mijoo menatap Mark horor, ia tak menyangka bahwa pria dihadapannya kini benar-benar akan menceraikan istrinya. Ia tidak ingin menjadi sumber kehancuran rumah tangga orang lain.



"Are you crazy? How can you leave her since she always be there for you until now?" Mark menggelengkan kepalanya.



"I can't bear it anymore, Mijoo. setiap kali aku mengunjunginya, hatiku sakit ketika ia benar-benar tidak mengingatku sama sekali. Ia masih mengingat keluarganya dengan baik dan bahkan sahabat lamanya. Namun ia melupakanku, selamanya..." tanpa sadar, Mark mulai meneteskan air matanya, membuat Mijoo yang menyadari hal itu menatapnya iba.



"Mark..."



"Hahaha, mengapa aku jadi cengeng seperti ini. Aku benar-benar bodoh."





Grep!





Mark terkejut ketika Mijoo langsung memeluknya erat. Kedua tangannya terlihat ragu untuk membalas pelukan wanita itu.



"Aku tidak menyangka, kau mengalami hari-hari berat selama ini, Mark. Maafkan aku..."



Mendengar hal itu, membuat hati Mark menghangat dan perlahan mulai melingkarkan tangannya pada pinggang kecil milik Mijoo.



"I love you, Mark. I'm sorry for being late to say those words to you."



Merasa memiliki secercah harapan, membuat Mark mengecup pucuk kepala wanita itu. ia bahagia, karena bisa mengungkapkan perasaannya pada Mijoo. Walau sangat riskan, ia rela mengorbankan segalanya bagi wanita dihadapannya kini. Karena sosok Mijoo adalah sumber kebahagiaannya dan tujuan hidup barunya.



"It's okay sweetheart... I love you too." Jawab Mark yang langsung mencium kening Mijoo cukup lama.



"Oh iya, kau bilang ada sesuatu yang ingin kau katakan padaku. Apa itu?" tanya Mark setelah keduanya terlarut dalam perasaan masing-masing.



"Ahh itu... kau yakin ingin mendengarnya sekarang? Karena ini akan sangat mengejutkan."



"Katakan saja. Aku siap mendengarnya."



Two Hearts Four Lives [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang