2. Awal Pertemanan

33 8 4
                                        

Aras membuka gumpalan kertas yang ia tidak tahu darimana asalnya. Setelah ia membukanya, nampak jawaban ulangan matematika hari ini.

"Loh, ini kan jawaban ulangan matematika sekarang. Punya siapa sih ini?" Aras kebingungan.

Sementara itu, Bu Erni menghampiri meja Arsa dan Aras lalu melihat Aras sedang membaca sebuah kertas.

"Aras, kertas apa itu?" Bu Erni langsung curiga jika Aras menyontek.

"Saya juga gak tau Bu," jujur Aras.

"Gak usah bohong kamu. Mana mungkin kamu gak tau, itu kan kertas kamu. Sini Ibu lihat kertasnya." Bu Erni langsung merampas kertas tersebut dari tangan Aras.

Aras panik. Ia takut dituduh menyontek. Namun ternyata Arsa juga panik. Arsa juga takut jika Aras dituduh menyontek karena Arsa tahu yang menyontek bukanlah Aras.

Bu Erni membaca tulisan-tulisan di kertas tersebut lalu terkejut. "Aras, berani-beraninya kamu menyontek. Mana kertas ulangan kamu? Biar Ibu sobek karena kamu udah ketahuan menyontek." Bu Erni marah dan tidak main-main dengan ucapannya.

Aras yang ketakutan hanya diam saja. Ia tidak mau memberikan kertas ulangannya pada Bu Erni.

"Kok diem? Sini kertasnya!" Bu Erni jika sedang marah sungguh menakutkan.

"Saya gak nyontek Bu." Aras berkata jujur.

"Gak usah ngeles. Kamu udah ketahuan menyontek," ujar Bu Erni.

"Tapi kertas contekan itu bukan punya saya Bu. Sumpah Bu, saya gak bohong. Masa Ibu gak percaya sama saya?" Aras membela diri.

Bu Erni berpikir sejenak lalu menghela napas. "Ibu juga sebenernya gak yakin kalo kamu nyontek, karena sejauh ini Ibu gak pernah liat kamu nyontek. Tapi kan kertas contekannya ada di kamu, kalo bukan punya kamu terus punya siapa lagi?" Bu Erni bingung.

"Punya Rommy Bu." Arsa tiba-tiba bicara. Ia sedari tadi tidak tahan untuk membela Aras.

Bu Erni dan Aras sontak menatap Arsa yang tiba-tiba ikut bicara. Mereka menatap Arsa dengan heran.

"Kamu tau dari mana Arsa?" tanya Bu Erni.

"Dari pas awal ulangan, saya udah liat Rommy nyontek ke kertas contekan di kolong mejanya. Terus waktu Ibu mulai jalan ke barisan sini, dia langsung bikin kertas contekan itu jadi gumpalan terus dilempar ke Aras." Arsa memang melihat semua kecurangan Rommy tadi.

Bu Erni terdiam sebentar. Ia bingung apakah perkataan Arsa bisa dipercaya atau tidak. Ia takut Arsa berbohong untuk membela Aras.

Seakan mengerti dengan apa yang Bu Erni pikirkan, Arsa memberikan penjelasan kepada Bu Erni. "Saya lihat kecurangan Rommy tadi dengan mata kepala saya sendiri Bu. Saya gak mungkin bohong Bu. Buat apa saya berbohong untuk membela Aras? Saya masih murid baru di sini dan saya belum terlalu kenal dengan Aras. Tapi saya membela Aras karena Aras memang tidak menyontek Bu." Tentunya Arsa mengumpulkan keberanian untuk berbicara seperti itu kepada wali kelasnya.

Bu Erni sedikit terpukau dengan perkataan siswi berusia sepuluh tahun tersebut yang berani membela temannya yang tidak bersalah. Bu Erni lalu memikirlan kembali perkataan Arsa.

"Sepertinya Arsa memang benar. Lagipula Aras memang gak pernah keliatan nyontek," pikir Bu Erni.

Bu Erni lalu menatap Rommy, Vito, dan Dino dengan tajam. "Serahkan kertas ulangan kalian!" Bu Erni memerintah dengan galak.

Wajah Rommy, Vito, dan Dino pun langsung pucat pasi. "Ampun Bu, saya gak nyontek kok Bu," ujar Dino berusaha melindungi dirinya.

"Halah, kalian bertiga tuh udah satu paket. Pasti kalo Rommy nyontek, Vito dan kamu juga ikut nyontek." Bu Erni memang tahu bahwa tiga sekawan itu selalu kompak dalam menyontek.

Our Hearts (TAMAT) Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang