22. Jatuh Cinta?

22 3 0
                                        

Aras dan Arsa akhirnya tiba di depan gerbang sekolah mereka.

"Ras, turunin gue di sini aja," pinta Arsa.

"Gak ah, gue mau turunin lo di kelas aja. Kan lumayan Sa kalo lo jalan dari sini ke kelas." Aras tetap ingin menurunkan Arsa di kelas.

"Ya udah deh." Arsa akhirnya menurut. Arsa dan Aras pun melihat Pak Jaya.

"Ras, turunin gue dulu dong bentar. Mau ngobrol sama Pak Jaya," pinta Arsa.

"Oke, gue juga pengen ngobrol." Kali ini Aras menuruti Arsa untuk menurunkan sahabatnya itu dari gendongannya. Mereka lalu mengobrol sebentar dengan satpam sekolah mereka itu.

"Pagi Pak," sapa Arsa kepada Pak Jaya yang sedang berdiri di dekat gerbang.

"Pagi Pak. Baik kan kabarnya?" Aras memang akrab dengan Pak Jaya.

"Baik. Kamu gimana Ras? Tugas prakaryanya udah aman kan?" Pak Jaya mengingatkan Aras pada pengorbanan Arsa kemarin.

"Aman kok Pak, berkat sahabat saya ini." Aras tersenyum memandang Arsa sambil merangkul sahabatnya itu. Arsa pun ikut tersenyum dan balas merangkul Aras.

"Kamu itu emang beruntung punya sahabat kayak Arsa. Kemarin pas dia mau ke luar sekolah pas jam pelajaran itu dia bilang ke Bapak katanya dia mau nolongin kamu. Dia mau ke rumah kamu buat ngambil tugas prakarya kamu yang lupa dibawa. Makanya Bapak izinin dia ke luar sekolah, karena niat dia baik mau nolongin sahabatnya." Pak Jaya tersenyum sambil memandang Aras dan Arsa bergantian.

"Iya Pak, saya beruntung banget punya sahabat kayak Arsa." Aras tersenyum melirik sahabatnya.

"Oh iya Ras, muka kamu teh kenapa luka-luka gitu?" tanya Pak Jaya.

Bukannya Aras yang menjawab, tetapi Arsa menjawab lebih dulu. "Dia abis berantem sama preman-preman Pak. Dia nolongin saya. Tadi preman-preman itu jambret amplop saya yang isinya uang sekolah. Terus Aras ngejar preman-preman itu, berantem deh ujung-ujungnya. Makanya saya juga beruntung punya sahabat kayak dia Pak." Arsa tersenyum memandang Aras. Aras pun balas memandang Arsa sambil tersenyum.

"Oalah, ya udah berarti kalian berdua sama-sama beruntung. Nah, Bapak doain semoga hubungan kalian baik-baik terus ya," komentar Pak Jaya yang senang melihat keakraban Aras dan Arsa.

"Iya Pak, makasih," ujar Arsa.

"Makasih Pak. Kita ke kelas dulu ya Pak, udah mau masuk," tambah Aras.

"Oh iya ya, bentar lagi bel. Ya udah gih kalian ke kelas," balas Pak Jaya.

Aras dan Arsa pun mencium tangan Pak Jaya. Setelah itu, Aras kembali menggendong Arsa.

"Ras, kita ke UKS dulu ya, jangan langsung ke kelas," ujar Arsa.

"Loh kenapa Sa? Lo sakit? Pusing?" Aras mulai cemas.

"Bukan. Udah pokoknya ke UKS dulu deh," pinta Arsa.

"Oke deh." Aras pun menurut. Kini ia berjalan menggendong Arsa menuju UKS.

Sesampainya di UKS, Aras menurunkan Arsa di salah satu tempat tidur.

"Sini Ras, duduk samping gue," ujar Arsa. Aras pun duduk di samping kanan Arsa. Setelah Aras duduk, Arsa turun dari tempat tidur tersebut.

"Loh Sa, mau ngapain?" tanya Aras.

Arsa tidak menjawab. Ia berjalan ke lemari yang berisi obat-obatan dan juga kotak obat. Ia lalu mengambil sebuah kotak obat dan kembali ke tempat tidur.

"Sini gue obatin luka-luka lo. Apanya dulu nih? Pipi dulu aja kali ya," ujar Arsa sambil menyiapkan obat untuk mengobati luka Aras.

"Eh lo ngajak kita ke UKS mau ngobatin gue Sa?" Aras memastikan.

Our Hearts (TAMAT) Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang