Esok harinya di sekolah, pelajaran olahraga selesai sebelum jam pelajarannya habis sehingga murid-murid memiliki waktu kosong selama 20 menit sebelum jam istirahat.
"Eh, gimana kalo kita nantang Aras sama Arsa main basket sama kita?" usul Rommy.
"Buat apa Rom?" tanya Dino.
"Bales dendam lah. Emangnya lo terima kemarin lusa kita lari keliling lapangan sepuluh puteran dan ditonton banyak orang?" Rommy memang orang yang mudah dendam, meskipun Aras sama sekali tidak bersalah.
"Oh iya ya," Dino baru sadar.
"Ide bagus tuh Rom. Kebetulan sekarang emang lagi pelajaran olahraga, jadi kita gak masalah kalo mau main basket." Vito menyetujui ide Rommy.
Mereka bertiga lalu menghampiri Aras dan Arsa yang sedang duduk sambil mengobrol di pinggir koridor kelas mereka.
"Woy," panggil Rommy yang membuat obrolan Aras dan Arsa terhenti.
"Ngapain sih lo? Ganggu aja," kesal Aras.
"Kalian berdua udah bikin kita bertiga dihukum lari keliling lapangan. Lo pikir kita gak malu apa?" ujar Rommy.
"Heh, kalo lo malu ya baguslah! Itu kan emang salah kalian, siapa suruh nyontek." Arsa yang tadinya duduk pun langsung berdiri di hadapan Rommy dan mendorong pundak Rommy dengan kasar. Rommy pun sedikit terkejut.
"Heh, anak baru, sok berani banget sih lo, paling kalo gue dorong balik langsung jatoh." Rommy tertawa meremehkan.
"Mau kalian apa sih?" Arsa sangat kesal dengan mereka bertiga.
"Kita mau nantangin kalian main basket. Berani gak?" tantang Rommy.
"Gak berani lah Rom, Aras kan gak bisa main basket, terus anak baru ini kan cewek, gak mungkin jago main basket." Sekarang Vito yang tertawa meremehkan.
"Oh iya, pasti mereka bakal kalah." Dino tersenyum meledek.
Aras pun geram diremehkan seperti itu, namun dirinya tidak berani membalas perkataan mereka. Sedangkan Arsa yang pemberani tidak mampu menahan amarahnya.
"Heh! Kalian tuh jangan ngeremehin orang! Kalian pikir kita takut tanding basket sama kalian? Sorry ya, kita gak takut. Ayo kita tanding sekarang," ucap Arsa dengan berani. Rommy, Vito, dan Dino terkejut dengan perkataan Arsa.
"Wah, ini cewek berani juga," ujar Dino.
"Gak usah sok berani deh lo. Jadi cewek kok kayak cowok banget sih," ledek Vito.
"Ya udah lah, kita tanding sekarang aja biar cepet," ujar Rommy.
"Biar cepet liat mereka berdua kalah," sambung Rommy lagi sambil tertawa. Vito dan Doni pun ikut tertawa meledek.
Arsa sangat kesal dikatai seperti itu. Kedua tangannya terkepal menahan amarah. Aras berusaha menenangkan Arsa.
"Udah Sa, gak usah didengerin." Aras merangkul pundak Arsa sambil menepuk-nepuknya dengan pelan.
Rommy, Vito, Dino, Aras, dan Arsa pun bersiap di lapangan.
"Dino, lo gak usah ikut main deh. Biar adil, dua lawan dua. Ntar kalo lo ikut, mereka kalah. Eh tapi, biarpun dua lawan dua juga gue yakin mereka bakal kalah," perintah Rommy pada Dino sambil mengejek Aras dan Arsa. Aras dan Arsa memasang muka kesal.
"Ras, pokoknya kita harus yakin kalo kita bisa ngalahin mereka. Lo kan udah bisa main basket sekarang. Liat aja nanti pasti mereka kaget lo udah bisa main basket." Arsa berbisik menyemangati Aras.
"Iya Sa, kita pasti bisa ngalahin mereka," balas Aras berbisik.
"Ya udah, sekarang kita mulai aja. Tim yang paling banyak masukkin bola ke ring sebelum bel istirahat bunyi, itu yang menang, oke?" Rommy membuat kesepakatan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Our Hearts (TAMAT)
Roman pour AdolescentsAras dan Arsa bersahabat sejak kecil. Kian lama, Arsa menyayangi Aras lebih dari sekedar sahabat. Namun sayangnya, ketika mereka remaja, Aras menyukai teman sekolah mereka yang bernama Karyn. Arsa sangat takut kehilangan Aras. Tapi perlahan-lahan Ar...
