12. Awal Kelas Sebelas

16 5 6
                                        

Dua minggu kemudian...

Kelas 11 ini, Aras sekelas dengan Arsa. Mereka berdua senang sekali saat melihat pembagian kelas di mading sekolah mereka, SMA Tunas Jaya. Saat kelas 10 kemarin, Aras tidak sekelas dengan Arsa. Oleh karena itu, sekarang mereka sangat senang karena bisa sekelas.

"Yes! Kita sekelas Sa!" Aras mengajak Arsa bertos. Mereka bertos ria.

"Akhirnya kita sekelas juga," ucap Arsa senang.

Aras pun memeluk Arsa. Mereka berpelukan sambil melompat-lompat seperti anak kecil.

"Ekhem." Seorang siswa berdeham di belakang Aras dan Arsa.

Aras dan Arsa tidak mendengar siswa tersebut karena masih merayakan kesenangan mereka bisa sekelas.

"Woy! Aras, Arsa!" panggil teman dari siswa tersebut.

Aras dan Arsa pun menoleh ke kedua siswa di belakang mereka.

"Eh, Evan, Ando. Kenapa cuy?" tanya Aras.

"Kalian sekelas ya?" tanya Evan.

"Iya nih," jawab Aras. Aras pun merangkul Arsa.

"Emang kalian dapet kelas apa?" tanya Arsa.

"Kita kelas XI IPA 1," jawab Ando.

"Serius? Gue sama Arsa juga XI IPA 1," ujar Aras.

"Wah, sekelas dong kita," ucap Evan senang.

"Iya nih." Ando menimpali.

Mereka berempat lalu saling tos. Evan dan Ando adalah teman SMP Aras dan Arsa dulu. Dulu mereka berempat pernah sekelas saat kelas delapan. Dan sekarang, mereka berempat sekelas lagi saat kelas sebelas. Aras dan Arsa juga sebelumnya pernah sekelas saat kelas 5, 7, dan 8. Sejak Arsa pindah ke Puncak, mereka berdua selalu satu sekolah.

Setelah murid-murid melihat pengumuman pembagian kelas tersebut, mereka pun bergegas masuk ke kelas baru mereka dan memilih tempat duduk sesuai keinginan mereka.

"Sa, duduk bareng gue ya," ujar Aras yang telah memilih salah satu tempat duduk. Aras pun duduk di kursi tersebut.

"Oke." Arsa duduk di samping Aras. Mereka berdua lalu melihat Evan dan Ando yang baru memasuki kelas.

"Van, Do, sini duduk di belakang kita!" ajak Aras.

Evan dan Ando pun segera menempati tempat duduk di belakang Aras dan Arsa.

"Wih, enak nih kita, duduknya deket-deketan," ujar Evan.

"Yoi bro," balas Arsa.

"Betul tuh, enak. Gue jadi gampang nyontek ke Arsa," canda Ando.

"Heh, nyontek aja yang lo pikirin," balas Arsa. Ando pun nyengir.

"Mending nyontek ke gue Do," ujar Aras.

"Emang kalo gue nyontek ke lo nilai gue bisa bagus?" tanya Ando.

"Bisa." Aras tersenyum jahil.

"Bisa kena remedial maksudnya." Arsa menimpali.

"Nah betul tuh Sa." Aras pun nyengir.

"Yeuu...makanya belajar dong Ras, biar pinter kayak Arsa," ucap Ando.

"Eh Do, ga nyadar diri lo, lo juga harus belajar biar otak lo gak kosong kayak gini," ujar Evan.

"Tau tuh si Ando." Aras menimpali. Ando hanya nyengir.

Karena belum ada guru yang masuk ke kelas mereka, mereka pun lanjut mengobrol.

"Eh Sa, ntar sore main basket bareng yuk!" ajak Aras.

Our Hearts (TAMAT) Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang