Aras dan Arsa telah selesai naik perahu di danau. Aras lalu menggendong Arsa dengan kedua tangannya menuju lapangan. Mereka pun melihat Evan dan Ando sedang duduk santai di bawah pohon.
"Woy, tadi kalian kenapa telat?" tanya Aras.
"Tau nih, kalian yang ngajak, kalian yang telat," protes Arsa.
Evan dan Ando pun nyengir.
Evan menjelaskan. "Kita sebenernya udah dateng dari jam tiga, tapi kita sengaja pengen liat kalian main berdua. Makanya tadi pas kalian naik perahu, gue sama Ando ngumpet di balik pohon."
"Wah...kalian tuh bener-bener ya. Ngapain coba ngeliatin gue sama Arsa naik perahu berdua?" taya Aras.
"Ya kita pengen liat keserasian kalian aja." Ando terkekeh.
"Idih, serasi dari mana? Orang gue sama Aras biasa aja kok, ya kan Ras?" Arsa menatap Evan dan Ando, lalu menatap Aras.
"Yoi Sa. Orang kita biasa aja kok." Aras menyetujui perkataan Arsa.
"Halah, jelas-jelas keliatan tadi tuh kalian bahagia banget, kayak orang pacaran tau gak," ujar Evan.
"Udah udah, mereka pasti bakal ngelak terus. Mendingan kita main basket yuk. Dua lawan dua. Gue sama Evan, Aras sama Arsa, gimana?" ajak Ando.
"Oke deh." Aras setuju. Evan dan Arsa juga menyetujuinya.
Mereka lalu bermain basket di lapangan. Aras dan Arsa nampak kompak sekali. Permainan basket pun dimenangkan oleh tim Aras dan Arsa.
"Sa, lo jadi cewek kenapa jago banget main basket dah?" heran Ando. Mereka berempat sedang duduk beristirahat di bawah pohon.
"Gak juga kok. Mungkin karena gue emang suka main basket dari kecil," jawab Arsa.
"Siapa yang ngajarin lo main basket Sa?" tanya Evan.
"Gue." Aras menjawab dengan iseng.
"Idih, apaan sih lo, ngaku-ngaku aja. Yang ngajarin gue main basket tuh Ayah gue, bukan si tukang iseng ini," protes Arsa sambil mencubit pipi kanan Aras.
"Aw! Ih kok jadi lo yang nyubit pipi gue sih? Biasanya kan gue duluan." Meski tadi Aras meringis, tetap saja ia tertawa karena gemas melihat ekspresi Arsa yang menyubit pipinya.
"Biarin, kan lo udah sering nyubit pipi gue duluan," ujar Arsa.
"Iya deh iya." Dengan iseng Aras pun merangkul Arsa yang duduk di sebelah kanannya lalu dengan posisi itu tangan kanan Aras mencubit pipi kanan Arsa.
"Ih Aras! Tuh kan, lo nyubit pipi gue mulu," kesal Arsa.
"Loh, kan gue cuma nyubit sekali Sa." Aras tersenyum iseng.
"Iya, barusan emang sekali. Tapi kan tadi di sekolah lo udah nyubit pipi gue, terus tiap hari juga lo kayaknya nyubit pipi gue mulu deh, " ujar Arsa.
"Ya abisnya gue suka sih." Aras nyengir.
Evan dan Ando yang sedari tadi menonton perdebatan mereka sambil tersenyum iseng pun menggoda Aras.
"Lo suka Ras? Suka sama Arsa ya?" iseng Evan.
"Ciee Aras suka sama Arsa," goda Ando.
"Ih apaan sih kalian. Maksud gue tuh gue suka nyubit pipinya Arsa," jelas Aras.
"Tapi gue emang suka sama Arsa sih." Di dalam hatinya Aras memang mengakui bahwa dirinya menyukai Arsa.
"Tau nih, kalian gak jelas banget deh," ujar Arsa.
KAMU SEDANG MEMBACA
Our Hearts (TAMAT)
Roman pour AdolescentsAras dan Arsa bersahabat sejak kecil. Kian lama, Arsa menyayangi Aras lebih dari sekedar sahabat. Namun sayangnya, ketika mereka remaja, Aras menyukai teman sekolah mereka yang bernama Karyn. Arsa sangat takut kehilangan Aras. Tapi perlahan-lahan Ar...
