Kemarin Aras dan Arsa hanya belajar pelajaran Matematika saja di sekolah. Itu juga jam pelajaran terakhir. Pagi kemarin para guru memang masih sibuk mengurusi murid-murid kelas sepuluh yang baru masuk SMA Tunas Jaya dan sebagian guru juga menghadiri rapat tentang tahun ajaran baru. Sehingga seluruh kelas di SMA Tunas Jaya pada pagi kemarin tidak ada pelajaran.
Kemarin siang guru matematika XI IPA 1, Bu Ana, hanya menerangkan sedikit materi lalu memberikan Pekerjaan Rumah (PR). Hari pertama sekolah di tahun ajaran baru memang tidak terlalu berat.
***
Jam enam lewat lima belas pagi Aras telah berada di rumah Arsa. Seperti biasa, Aras selalu mengajak Arsa berangkat sekolah bersama.
"Tunggu dulu ya Ras, Arsa masih siap-siap dulu kayaknya." Bu Ratih tersenyum ramah pada Aras.
"Iya Bu, gapapa." Aras balas tersenyum. Kini ia tengah duduk di sofa ruang tamu sahabatnya itu.
Semenit kemudian, Arsa pun keluar dari kamarnya dan langsung menyapa Aras. Ia duduk di samping kiri Aras.
"Hai Ras," sapa Arsa.
"Hai Sa," balas Aras.
"Mimpi apa Sa semalem? Mimpiin gue ya?" tanya Aras.
"Idih, ngapain gue mimpiin lo," jawab Arsa. Aras pun terkekeh.
"Ya kali aja lo mimpiin gue jadi artis, siapa tau kejadian beneran," ucap Aras percaya diri.
"Gue sih pernahnya mimpiin lo jadi pengemis Ras. Kalo kejadian beneran gimana ya?" canda Arsa.
"Gitu amat Sa, masa gue jadi pengemis. Tapi kalo gue jadi pengemis, lo juga harus jadi pengemis lah." Aras tersenyum santai.
"Ih kok gitu?" tanya Arsa.
"Ya kan lo sahabat sejati gue. Jadi lo harus ikutan jadi pengemis lah." Aras menjawab santai.
"Iya deh iya. Ya jangan sampe kita jadi pengemislah," balas Arsa.
"Yoi. Gue mah jelas bukan pengemis, tapi pemanis," ujar Aras.
"Pemanis? Maksudnya?" tanya Arsa.
"Pemanis hidup lo, ya gak?" Aras menaik-turunkan kedua alisnya.
"Tau ah! Udah yuk sarapan, makanannya udah siap tuh di meja." Arsa mulai kesal. Aras pun terkekeh.
"Iya Tuan Putri, Pangeran mau sarapan kok sekarang," canda Aras.
"Apa lo bilang? Pangeran? Idih, mana ada pangeran suka iseng kayak lo." Arsa tidak terima.
"Ada, kalo lo yang jadi Putrinya." Aras pun nyengir.
"Apaan sih nih Aras? Kan gue jadi baper," gerutu Arsa dalam hati.
"Emang lo mau gue yang Putrinya?" tanya Arsa.
"Mau aja kalo cewek yang tersisa di dunia ini cuma lo doang," iseng Aras.
"Iih, apaan sih lo." Arsa memukul lengan Aras pelan.
"Canda Sa." Aras terkekeh.
"Udah yuk ah, kita sarapan dulu," ujar Arsa.
"Ayo deh." Aras setuju.
Mereka pun beranjak ke meja makan.
"Ayo Sa, Ras, sarapan dulu," ucap Bu Ratih yang telah berada di meja makan.
"Iya Tante," balas Aras.
Kemudian, Pak Tono pun bergabung ke meja makan.
"Eh Aras udah dateng," sapa Pak Tono.
KAMU SEDANG MEMBACA
Our Hearts (TAMAT)
Teen FictionAras dan Arsa bersahabat sejak kecil. Kian lama, Arsa menyayangi Aras lebih dari sekedar sahabat. Namun sayangnya, ketika mereka remaja, Aras menyukai teman sekolah mereka yang bernama Karyn. Arsa sangat takut kehilangan Aras. Tapi perlahan-lahan Ar...
