"Ini Bu, prakarya saya." Aras pun meletakkan rumah-rumahannya di meja guru.
"Lama banget sih kamu ngambilnya. Bahkan Ibu udah manggil absen 2 dan absen 1 untuk maju. Tinggal kamu sama Arsa yang belom, karena Arsa masih di UKS kan katanya." ujar Bu Lita.
"Maaf Bu, tadi saya ngebenerin rumah-rumahannya lagi, jadinya lama," ucap Aras.
"Ya sudah, sekarang kamu jelaskan bahan-bahan dan cara membuat rumah-rumahan kamu itu," perintah Bu Lita. Aras lalu menjelaskan bahan apa saja yang dibutuhkan untuk membuat rumah-rumahan tersebut beserta cara membuatnya.
"Sekarang, kamu tengok Arsa di UKS deh. Kalo dia udah sehat, suruh ke kelas ya, Ibu mau nilai tugas prakarya dia," ujar Bu Lita.
"Baik Bu." Aras pun segera keluar kelas.
Nampak Arsa sedang duduk di bangku koridor depan kelasnya. Aras langsung duduk di samping kiri Arsa.
"Sa, lo gapapa? Masih cape ga? Lo tadi lari ya, bukan jalan?" tanya Aras khawatir.
"Enggak kok, gapapa. Lari gitu doang mah kecil." Arsa berusaha untuk tidak membuat Aras khawatir.
"Astaga, lo gak usah lari harusnya, biar gak cape. Tetep aja itu kan jauh Sa, lari bolak-balik gitu. Kaki lo gak pegel apa?" Aras tetap cemas.
"Gapapa elah, pegel dikit doang. Gue kan lari biar cepet sampe sekolah lagi," jawab Arsa. Mendengar itu, Aras merasa aneh dengan Arsa.
"Bentar deh, lo kan lari. Lari lo pasti cepet kan. Kok lo sampe sekolah lagi lama?" heran Aras.
Arsa pun merutuki ucapannya tadi. "Astaga...gue bodoh banget sih. Harusnya gue gak bilang kalo gue lari. Kan kalo lari harusnya gue cepet sampe sekolah lagi. Tapi gara-gara gue jatoh, jalan gue bahkan lebih lambat dari jalan biasa."
"Sa, kok diem? Lo emang tadi kemana aja? Kok lama banget?" tanya Aras lagi.
"Kan gue tadi abis dari UKS dulu rada lama," jawab Arsa.
"Oh iya ya, lo kan tadi pusing ya? Sekarang gimana? Udah mendingan? Kok lo udah tau lagi pusing malah nekat ke rumah gue sih?" Aras mencemaskan Arsa.
"Udah kok, gapapa. Gue nekat ke rumah lo ya karena gue udah gak pusing." Arsa tersenyum kecil untuk menandakan bahwa ia baik-baik saja.
"Oh iya, tadi kan lo izin keluar kelas gara-gara sakit perut, udah gak sakit perut lagi kan sekarang?" tanya Aras.
"Udah enggaklah. Buktinya gue udah bisa lari-lari ke rumah lo." Arsa sebenarnya tidak enak karena membohongi Aras dari tadi.
"Oh oke deh. Gue tuh khawatir banget sama lo tau gak." Raut wajah Aras memang sedari tadi terlihat cemas dengan kondisi Arsa.
"Makasih, udah khawatirin gue." Arsa tersenyum.
Aras menggeleng. "Enggak Sa, gue yang berterima kasih sama lo. Makasih banget ya Sa, lo udah nolongin gue. Lo penyelamat gue." Aras tersenyum sambil memegang kedua tangan Arsa dan menatap sahabatnya itu.
"Sama-sama Ras." Arsa ikut tersenyum. Mereka pun berpelukan.
Setelah itu, Arsa bertanya pada Aras. "Oh iya Ras, lo ngapain sekarang ada di luar kelas?"
Aras pun baru ingat jika ia disuruh Bu Lita untuk memanggil Arsa ke kelas. "Astaga...gue baru inget. Gue kan disuruh Bu Lita manggil lo ke kelas buat ngumpulin tugas prakarya lo."
"Yeuu...pikun banget sih lo," ledek Arsa bercanda.
"Maklum, masih muda." Aras terkekeh.
"Apaan sih lo, gak nyambung," balas Arsa. Aras pun hanya nyengir.
KAMU SEDANG MEMBACA
Our Hearts (TAMAT)
Fiksi RemajaAras dan Arsa bersahabat sejak kecil. Kian lama, Arsa menyayangi Aras lebih dari sekedar sahabat. Namun sayangnya, ketika mereka remaja, Aras menyukai teman sekolah mereka yang bernama Karyn. Arsa sangat takut kehilangan Aras. Tapi perlahan-lahan Ar...
