Aras dan Arsa menyusuri jalan setapak di perbukitan. Dari jauh Arsa bisa melihat gunung yang berselimut kabut. Lalu dibalik bukit, tempat yang ingin Aras tunjukkan ke Arsa pun telah menanti.
"Ini dia tempatnya. Mungkin kamu udah pernah liat, tapi kamu belom pernah main di sini kan?" Aras yakin Arsa sangat menyukai tempat ini.
"Main di kebun teh? Wah, aku pengen banget! Ayo kita turun Ras!" Arsa sangat senang melihat pemandangan indah di hadapannya. Mereka berada di bukit-bukit kecil. Di hadapan mereka kebun teh terhampar luas. Di kejauhan terlihat gunung beserta kabutnya. Aras dan Arsa lalu menuruni bukit menuju kebuh teh yang berada di bawah bukit dan juga di kaki bukit.
"Pemandangannya indah banget Ras." Arsa sangat antusias dan senang.
"Betul. Di sini tuh emang indah. Syukur deh, kalo kamu suka tempat ini." Aras ikut senang.
Mereka berdua lalu berjalan-jalan menyusuri kebun teh sambil bercanda ria. Mereka juga bermain kejar-kejaran.
"Sa, kita lomba lari yuk! Siapa yang duluan nyampe ke puncak bukit kecil yang di depan kita itu, dia yang menang." Aras menunjuk salah satu bukit kecil di kejauhan.
"Jauh dong," protes Arsa.
"Oh, kamu takut?" Aras tersenyum meledek.
"Enggak, siapa yang takut. Ayo deh, kita lomba." Arsa menyetujui.
Aras lalu memberi aba-aba. "Oke, satu, dua, tiga!"
Mereka berdua lalu berlari secepat mungkin menyusuri kebun teh. Setelah itu, mereka berlari menanjak bukit. Posisi mereka berdua hampir sama. Mereka sudah hampir mencapai puncak bukit.
"Sa, yang menang pasti aku. Udah deh Sa, kamu tuh pasti kalah." Aras memanas-manasi Arsa.
"Enak aja! Yang menang tuh pasti aku." Arsa tidak terima.
Sedikit lagi mereka sampai ke puncak bukit. Namun, sekitar lima langkah lagi untuk mencapai puncak bukit, Arsa tersandung batu sehingga ia terjatuh. Bersamaan dengan itu, Aras telah mencapai puncak bukit.
"Yes, aku menang!" sorak Aras. Aras lalu menengok ke belakang dan melihat Arsa jatuh terduduk.
"Loh Sa, kamu kenapa?" Aras panik.
"Tadi aku kesandung batu." Arsa pun meringis kesakitan. Lutut kirinya berdarah.
"Ya ampun, lutut kamu sampe berdarah gitu. Aku anter kamu ke rumah aku aja ya, gak jauh kok dari sini. Nanti di rumah aku, kita obatin luka kamu, gimana?" tawar Aras.
"Ya udah deh." Arsa setuju.
Aras lalu membantu Arsa berdiri dan memapahnya berjalan pelan-pelan menuju rumah Aras.
Sekitar dua puluh menit kemudian, mereka telah sampai di depan rumah Aras.
"Ayo Sa, kita masuk," ajak Aras.
"Malu ah. Kalo orangtua kamu galak gimana?" Arsa sedikit enggan untuk masuk ke rumah Aras.
"Ya elah, tenang aja, gak apa-apa kok. Mama sama papa aku tuh baik banget orangnya." Aras meyakinkan Arsa.
Tiba-tiba, Bu Risa, mamanya Aras, membuka pintu dan muncul di hadapan mereka.
"Eh, anak mama udah pulang. Dari tadi mama nungguin kamu. Tumben pulangnya lebih lama." Bu Risa tersenyum senang karena anaknya sudah pulang. Aras langsung mencium tangan mamanya. Bu Risa lalu melihat Arsa.
"Wah, tumben Aras ngajak temennya ke rumah. Siapa nama kamu?" Bu Risa tersenyum ramah.
"Nama saya Arsa tante." Arsa tersenyum canggung. Ia lalu mencium tangan Bu Arsa.
KAMU SEDANG MEMBACA
Our Hearts (TAMAT)
Novela JuvenilAras dan Arsa bersahabat sejak kecil. Kian lama, Arsa menyayangi Aras lebih dari sekedar sahabat. Namun sayangnya, ketika mereka remaja, Aras menyukai teman sekolah mereka yang bernama Karyn. Arsa sangat takut kehilangan Aras. Tapi perlahan-lahan Ar...
