Dua puluh menit berlalu, namun Aras tak kunjung kembali. Arsa menjadi gelisah.
"Kemana sih tuh anak?" Arsa berdiri dan mulai mencari Aras.
"Aras!" Arsa memanggil nama Aras sambil berjalan mencari Aras.
"Aras, kamu di mana?"
"Ras...Aras!"
"Kemana sih dia? Apa dia udah pulang? Masa dia ninggalin aku? Dasar aneh," Arsa mengomel sendiri.
Arsa lalu berjalan ke danau yang berada di dekat lapangan tersebut. Ia lalu termenung memandangi danau. Ia juga melihat ada sebuah perahu kecil di tepi danau.
"Naik perahu di danau enak kali ya," pikir Arsa. Arsa menghela napas. Ia lalu memikirkan Aras.
"Awas aja tuh anak, kalo dia muncul harus aku kasih pelajaran. Enak aja dia main ngilang gitu," kesal Arsa.
Lagi asyik-asyiknya melamun, tiba tiba...
"Dorr!" Bersamaan dengan suara itu, seseorang memegang pundak Arsa.
"Aaa!" Arsa memekik kaget dan ia lebih kaget lagi saat melihat Aras yang mengagetkannya.
"Ih Aras! Kamu ngapain sih ngagetin aku?" Arsa mencubiti lengan Aras karena kesal.
"Aww, sakit Sa, udah dong!" Aras kesakitan. Arsa pun berhenti mencubiti Aras.
"Habisnya kamu ngeselin sih, ngilang tiba-tiba." Arsa mengerucutkan bibirnya.
Aras malah tertawa melihat wajah lucu Arsa jika sedang kesal.
"Ih kok malah ketawa sih?" Arsa kesal dan heran.
"Muka kamu tuh lucu kalo lagi kesel." Aras lalu mencubit pipi kanan Arsa dengan gemas. Tidak terlalu sakit, mamun berhasil membuat Arsa meringis.
Arsa lalu memegang pipi kanannya. "Ih Aras! Ngapain sih nyubit pipi aku?"
"Gemes aja." Aras menunjukkan cengirannya.
Arsa lalu menghela napas. "Dasar kamu. Tadi kamu ngilang kemana sih? Bosen tau ditinggal sendiri."
"Kemana hayoo?" Aras malah bercanda dengan bertanya balik.
"Ih kok malah nanya balik?" Arsa mulai kesal lagi.
Aras lalu tertawa sehingga membuat Arsa heran. "Sering banget sih kamu ketawa tiba-tiba. Kenapa sih kok ketawa? Aku lagi kesel malah diketawain."
"Sebenernya tuh aku tadi gak kemana-mana. Cuma ngumpet doang sambil liatin kamu dari jauh," ujar Aras sambil nyegir.
"Oh jadi ceritanya kamu mau jailin aku? Pengen bikin aku ketakutan karena ditinggal sendiri gitu?" duga Arsa.
"Iya, dan juga aku pengen liat kamu kesel, lucu tau," ucap Aras tanpa dosa. Aras lalu berlari kabur.
"Wah, kurang ajar nih anak." Arsa lalu mengejar Aras. Mereka berkejaran di sekitar lapangan dan danau. Seolah lupa dengan rasa kesalnya, Arsa malah tertawa-tawa dengan Aras.
Arsa pun berhasil menangkap lengan Aras.
"Nah, ketangkep nih kamu. Mau lari kemana?" Arsa tersenyum puas.
"Kamu kok larinya cepet banget sih Sa. Gimana kalo sekarang gantian aku yang ngejar kamu?" usul Aras.
"Oke, pasti kamu gak bakal bisa nangkep aku." Arsa menyetujui lalu langsung melesat cepat meninggalkan Aras.
"Heh, curang kamu ya, udah langsung lari aja!" protes Aras sambil berlsri mengejar Arsa.
"Biarin!" Arsa tersenyum meledek. Mereka berkejaran lagi. Kali ini, mereka berkejaran lebih lama dari sebelumnya karena Arsa sulit ditangkap.
KAMU SEDANG MEMBACA
Our Hearts (TAMAT)
Teen FictionAras dan Arsa bersahabat sejak kecil. Kian lama, Arsa menyayangi Aras lebih dari sekedar sahabat. Namun sayangnya, ketika mereka remaja, Aras menyukai teman sekolah mereka yang bernama Karyn. Arsa sangat takut kehilangan Aras. Tapi perlahan-lahan Ar...
