Para pengurus fanspage DARK ICE sedang melakukan berbagai aktivitas di rumah mereka. Ada yang sedang menulis artikel, memasak, bermain game, menonton film, bahkan bermain dengan kucing peliharaan.
Saat itu Adit, Zico dan Kevin sedang sibuk membuat artikel untuk diunggah di fanspage horor mereka. Hingga ponsel milik Adit tiba-tiba berbunyi, menandakan ada seseorang yang menghubunginya. Saat diperiksa, tertera nama kakak tirinya di layar ponsel tersebut.
"Hallo?"
"Dit, aa sama teteh mau pergi ke kondangan sampai maghrib nanti. Bisa tolong jagain Gio bentar gak? Nanti aa ke situ ya,"
"Tapi ..."
"Udah ya, assalamualaikum,"
Belum sempat Adit menjawab, kakaknya itu langsung cepat-cepat menutup teleponnya. Padahal tadinya Adit ingin menolak permintaannya. Ia cukup sibuk saat ini, mana mungkin ada waktu untuk mengasuh keponakannya yang sangat nakal itu.
"Kakak lu mau nitipin anaknya disini?" tanya Zico ketika Adit menutup ponselnya.
"Iya nih, mana kerjaan kita masih banyak," jawab Adit cemberut.
"Suruh yang lain aja buat ngasuh keponakan lu," usul Kevin yang masih terpaku pada layar laptop.
Tok tok tok!
Suara ketukan pintu mengalihkan perhatian mereka. Adit bergegas bangun dan membukakan pintu. Berdiri sosok kakak tirinya sambil menggandeng seonggok makhluk kecil yang merupakan anaknya sendiri. Adit bergidik ngeri saat melihat sosok anak kecil yang ia anggap mirip iblis itu.
"Dit, titip Gio ya. Aa mau cepet-cepet pergi nih,"
"Ih, kenapa gak diajak aja sih si Gionya?"
"Eits, anggap aja kamu latihan ngasuh anak. Siapa tau bentar lagi kamu mau nikah muda,"
'Cuih. Boro-boro nikah, menjalin hubungan pacaran aja rasanya sangat malas,' gerutu Adit dalam hati.
"Yaudah. Dek, papa tinggal dulu ya," ucap kakak Adit sambil mencium tangan anaknya.
"Kebalik njir, harusnya Gio yang cium tangan aa," protes Adit saat melihat perilaku konyol kakaknya itu.
Kakaknya itu lalu berlalu meninggalkan sang anak bersama Adit. Tak lupa, ia pun memberikan sejumlah uang sebagai imbalannya. Adit menghela nafas panjang, betapa malas sekali rasanya jika harus mengurus anak iblis ini.
Gio langsung berlari masuk ke dalam seorang diri, meninggalkan Adit yang sedang menutup pintu. Sang paman, yaitu Adit, langsung bergegas mengejarnya sebelum ia merusak salah satu barang di rumah ini.
"Heh, lu jangan nakal ya. Kalau nakal, gua bakal potong burung lu sampe rata!" ancam Adit kepada keponakannya itu.
"Tapi aku ga punya burung. Punyanya ayam," jawab Gio polos. Adit hanya beristighfar agar mendapatkan kesabaran dari yang maha kuasa.
"Yaudah, sana main. Tapi jangan sentuh barang apapun di rumah ini. Gua masih ada kerjaan,"
Adit pun meninggalkan Gio sendirian di ruang tengah sambil menyalakan televisi. Tanpa ia sadari, Gio malah melenggang pergi ke dalam kamar Januar. Akhirnya, suara teriakan melengking langsung terdengar tak lama setelah itu.
"Aaaarghhhh! Lu anak siapa sih?! Biadab banget ih! Berani-beraninya pipisin tas pororo gue!"
Adit yang mendengar keributan dari arah kamar Januar pun langsung cepat-cepat menghampirinya.
"Ada apa sih?" tanya Adit saat sampai di ambang pintu kamar itu.
"Ni anak siapa sih, dit? Tadi tiba-tiba datang terus buka celana. Kirain mau ngapain, eh malah pipisin tas pororo gue. Dipikir tas gue jamban apa?!" gerutu Januar sambil mengelap tas kesayangannya itu.

KAMU SEDANG MEMBACA
UwU Family | DARK ICE
Gizem / GerilimBerbagai misteri akan terpecahkan dengan cara yang sangat 'uwu' oleh kesepuluh remaja luar biasa dengan warna yang berbeda.