[Sequel RAYA]
Kisahnya berlanjut...
Diva mulai merasakan keraguan terhadap hubungannya dengan Alaska yang tengah berada di Jepang. Kuncinya adalah kepercayaan namun Diva hanyalah perempuan biasa dengan segala prasangkanya. Apa ia harus bersikap ego...
Jangan lupa VOTE dan KOMEN!! Tolong koreksi jika ada typo ya... Makasih ^o^
Happy reading ❤
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
—— RAYA : FIDELITY [BAB 2] ——
Hari ini adalah hari pertama Diva bersekolah seperti biasa setelah menjalani Praktik Kerja Lapangan. Seragam putih melekat di tubuhnya. Jaket bomber hitam melengkapi penampilannya.
Diva menaiki motor KLX kesayangannya yang sudah terparkir di halaman depan rumah. Lengkap dengan beberapa bodyguard yang berjaga tak jauh darinya. Setelah memakai helm, ia lanjut menghidupkan mesin motor dan memanaskannya sebentar. Setelahnya segera ia meninggalkan halaman rumah, melewati aspalan perumahan elit yang ia tinggali.
Sampai di parkiran depan sekolah, seperti biasa beberapa murid memandang dirinya. Lebih tepatnya memandang motornya yang mungkin tampak familiar di mata mereka.
Diva melepas helm kemudian menaruhnya di kaca spion. Sedikit ia merapikan rambutnya yang tergerai sebatas ketiak. Diva turun dari motor dengan membawa kakinya melewati tangki motor. Ia memakai celana seperti dulu-dulu.
Ia menyeberang bersama murid-murid, membaur dengan yang lain. Tersenyum ramah kepada siapa saja yang menyapanya.
“Kak Diva, ya?” sapa seorang perempuan berjilbab Rabani putih dengan penuh semangat. Merasa tak mengenal, Diva berspekulasi jika perempuan itu adalah adik kelasnya.
“I-iya,” jawab Diva kaku. Tak lupa menampilkan senyum ramah seperti biasa.
“Akhirnya bisa ketemu,” jerit perempuan bertubuh mungil itu dengan tertahan.
Diva masih berdiri di tempatnya sambil memandang bingung gadis itu. Tiba-tiba gadis itu mengapit tangannya membuat Diva melotot terkejut. Sumpah demi Tuhan, tidak pernah sekalipun Diva dipeluk orang asing.
“Seneng banget astaga,” jerit gadis itu seraya menggoyangkan lengan Diva.
Tak lama kemudian gadis yang tidak diketahui namanya itu berdiri di depannya tepat membuat Diva mencondongkan tubuhnya ke belakang.
“Aku Brina! Keponakan Kak Alaska!” seru gadis bernama Brina itu dengan turut serta membawa nama tunangannya.
“Keponakan?” ulang Diva.
Brina segera mengangguk dengan mantap dan serius. Memandang Diva mendongak karena memang tubuh Brina kecil, mungil seperti anak SD yang baru masuk SMP.
“Kakak cantik banget, pantesan Kak Alaska mau jadi pacar Kakak,” ungkap Brina. “Padahal niat aku kalau Kak Alaska gak punya pacar nanti aku yang jadi pacarnya.”