[Sequel RAYA]
Kisahnya berlanjut...
Diva mulai merasakan keraguan terhadap hubungannya dengan Alaska yang tengah berada di Jepang. Kuncinya adalah kepercayaan namun Diva hanyalah perempuan biasa dengan segala prasangkanya. Apa ia harus bersikap ego...
Hallo siapa yang kangen? Gak ada, atau gak mau ngaku Wkwk Canda sayang
Hari ini aku update, kalian seneng kan? I hope yes ummm
Sebelum baca, lebih afdol VOTE dulu ya... KOMEN juga sayang oke? Terimakasih
Selamat membaca!
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
RAYA : FIDELITY [BAB 4]
=
Eagle Hell, hampir semua orang yang tergabung dalam dunia gelap mengetahui kelompok tersebut. Kelompok yang disegani sekaligus dihormati. Eagle Hell mampu mendompleng kegiatan ilegal di penjuru dunia. Transaksi yang mulus, penyelundupan yang nyaris selalu lolos dari pemeriksaan. Hampir setiap agent intelligent berusaha mengungkap struktur dan cara kelompok ini berdagang.
Bukan hanya terkenal karena profesionalnya dalam transaksi ilegal namun identitas leadernya juga begitu fenomenal hingga menjadi perbincangan. Terungkapnya bahwa Eagle Hell dibawah kepemimpinan seorang wanita, itu benar-benar membuat semua orang bertanya-tanya. Bagaimana bisa?
Namun di masa kejayaannya, konflik demi konflik dihadapi Eagle Hell. Baik urusan pribadi maupun konflik antar kelompok. Pengkhianatan tidak luput dari kelompok mereka. Kelompok yang dulu bahkan sangat patuh dan taat, perlahan timbul pemberontakan di dalamnya. Eagle Hell sudah pernah mengalami itu.
“Jack, tagih hutang milik Billy Jordan. Sudah cukup lama kita membiarkan pria itu bersikap semaunya. Tawan anak dan istrinya bila perlu.”
Perintah itu datang dari Yosi yang tengah mencoba senapannya.
Jack yang tengah membelakangi Yosi langsung menoleh, meletakkan senapan angin yang ia pegang kemudian mengambil serbet dan membersihkan tangannya. Ia berdiri di sebelah Yosi.
Yosi menoleh pada orang kepercayaan gadis yang sudah ia kenal bertahun-tahun itu. “Kau tampak kacau, apa yang terjadi?”
Kembali Yosi berkata, “Kita sudah mengenal sangat lama. Mungkin yang paling mengenal dirimu adalah Disa, namun aku cukup mengenalmu untuk kurun waktu selama ini.”
Jack menghela napas panjang. “Beberapa minggu belakangan ini yang terjadi di markas sangat asing bagiku,” ungkapnya.
“Aku hidup dan tinggal di markas selama aku bekerja bersama Nona Disa. Sangat tidak nyaman ketika aku merasa markas kita terasa janggal.”
Yosi terkekeh. “Kau tau Jack, tahun lalu ketika Hugo berkhianat. Disa awalnya mencurigai dirimu yang tampak berbeda. Ia begitu mengenalimu hingga dialah orang pertama yang merasa jika ada yang tidak beres, itu semua karena ia melihatmu begitu berbeda.
“Namun kembali lagi, Disa berpikir begitu kritis. Ia percaya padamu bahwa kau tidak akan pernah berkhianat padanya. Dan ya, memang bukan dirimu.”
“Aku masih ingat bagaimana Disa memelukmu, berterimakasih padamu, bahkan menangis tersendu di dadamu ketika kau berhasil menjinakkan bom yang hampir meledakan markas kita,” tutur Yosi.