*****
Hay readers, siap untuk membaca kelanjutan nya?
Jangan jadi pembaca gelap ya! Ingat tinggalkan jejak oke🙂
Selamat berimajinasi 🤗
*****
"Luka terbesar adalah perasaan yang kau pendam."
~GraciaArrasti~
9. Bullying II
Brakk!!
Pintu toilet terbuka. Menampilkan sosok dua lelaki yang memakai jas OSIS. Masing-masing dari mereka membawa sebuah jaket seperti Hoodie. Siapa lagi kalau bukan Gian dan Rifki.
Asti dan Salwa sontak kaget. Begitu juga dengan Rifki dan Gian. Salwa dan Asti pun Lalu menghalangi tubuhnya. Takut di lihat oleh Rifki dan Gian. Betapa seksi nya mereka berdua sekarang.
Terlebih dahulu Gian menutup pintu toilet, takut ada yang melihat mereka berdua yang tidak pantas untuk di lihat.
Rifki pun berjalan menghampiri Asti dan salwa yang terduduk lemas di lantai. Begitu juga Gian.
Tiba tiba, Asti dan Salwa refleks meluk Rifki dan Gian. Tanpa memikirkan seragamnya sekarang.
Rifki dan Gian pun membalas pelukan nya, dan mengelus punggungnya lembut.
Gian yang awalnya khawatir, ada sedikit rasa senang dihatinya, karena tiba tiba saja di peluk oleh Salwa yang kondisinya sekarang seperti. Ekhem. Jarang jarang moment kayak gini. Batin Gian.
"Eh anjir jangan modus Lo berdua." Ucap Salwa, kemudian melepaskan pelukannya. Diikuti oleh Asti.
"Siapa yang meluk duluan coba?" Tanya Gian. Dia yang meluk, dia yang marah. Kan aneh sekali.
"Ya kan itu repleks,"
"Lo kenapa bisa kayak gini?" Tanya Rifki.
Terlihat kekhawatiran dari wajah Rifki melihat Asti, wajahnya pucat, pipinya yang penuh dengan lebam, juga keningnya yang juga mengeluarkan darah. Orang yang sudah melalukan tindakan seperti ini tidak bisa di biarkan.
"Jangan lihat Rifki, itu mata Jelalatan banget sih." Ucap Asti, kemudian memeluk dirinya sendiri. Mengingat kancing bajunya yang hanya menyisakan dua.
Rifki pun meletakan jaket nya, kemudian membuka jas osis nya, lalu menyampaikan nya di pundak Asti.
"Pake dulu jas nya," Ucap Rifki.
"Tapi,"
"Udah pake aja." Potong Rifki.
"Yaudah iya, merem dulu. Kamu juga Gian." Ucap Asti.
Dia pun langsung memakai jas OSIS yang di berikan Rifki. Terlihat kegedean sih, tapi gak papa lah ya, darurat.
"Udah belom?" Tanya Rifki.
"Udah." Sahut Asti.
Kini pandangan Rifki tertuju pada rok yang di pakai Asti. Sadar. Asti pun membelalakkan matanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
SisterHood (On Going)
Romansa(SEDANG DI REVISI, DAN DI ROMBAK ULANG. JADI MOHON MAAF BILA CERITA NYA KURANG NYAMBUNG/ TIDAK SESUAI DENGAN PART NYA) [update sesuai mood🌚] . . . "HEH KALIAN! PERGI SEKARANG DARI SANA!" Teriak pak Majid sambil membawa gergaji dan kapak yang di acu...
