You were my first my dream
You were my first my kiss my world
(4Men – First Kiss)
-
Dari barisan pria-pria yang ada dalam hidupnya, Gandhi menempati tempat spesial. Ia selalu menjadi yang pertama dalam hidup Ines. Gandhi orang pertama yang mengajaknya berkenalan—atau mungkin yang dikenalnya—dengan cara tak biasa—setidaknya menurut Ines. Gandhi orang pertama yang mengajaknya menonton rampak kendang, orang pertama yang menciumnya dengan mesra dan gemas, orang pertama yang membuat Ines merindukannya dengan sangat—oh bagian ini paling menyebalkan karena sudah 6 hari Gandhi pergi ke lapangan dan sulit dihubungi. Sebenarnya tidak begitu sulit juga sih karena setiap malam mereka akan video call atau sekadar telpon untuk berbincang sejenak soal hari-hari mereka setelah Gandhi kembali dari tempat surveynya. Tapi tetap saja rasanya aneh ketika Ines harus pergi sendiri ketika ia biasanya pergi ke kantor bersama Gandhi. Wow. Apakah Ines sudah sangat bergantung dengan kehadiran Gandhi?
"Sayaaaang!" suara nyaring yang berasal dari speaker laptopnya membuat Ines terperanjat. Tadi ia sudah membuka laptopnya dan menyambungkan koneksinya kemudian menunggu Gandhi untuk terhubung dengannya dan siapa sangka pria itu muncul dengan teriakan 'sayang' yang membuat jantung Ines berdebar dengan kencang.
"Gagan ih!" sahutnya.
Di sebrang sana Gandhi tergelak, "Kangen Nes," keluhnya.
Ines menghela napas, "Aku juga kangeen. Kemarin-kemarin bawa mobil sendiri, tapi sepi banget gituloh nggak ada temen ngobrol. Akhirnya tadi aku minta Kak Ega anterin aku, tapi tahu nggak. Dia berisik banget."
"Kenapa emang?"
"Sepanjang jalan dia ngomel, katanya 'Makanya jangan lupa sama kakak sendiri. Kalau Gandhi nggak ada, butuh juga kan sama kakak' ppfft. Apa-apaan."
Gandhi tertawa, "Kalau aku ketemu langsung sama Kak Ega, aku bakalan diapain ya Nes?"
Padahal Gandhi hanya berkata tentang pertemuannya dengan Ega, tapi Ines malah berdebar-debar. Bagaimana ya, dia belum pernah membawa seorang pria masuk ke dalam rumahnya dan berkenalan dengan keluarganya, bukan apa-apa... Ines hanya merasa belum yakin dengan mereka, tapi Gandhi ini malah berbeda, rasanya Ines ingin cepat-cepat membawanya ke rumahnya, tapi seiring waktu berlalu... Ines malah asik sendiri dengan Gandhi, dia belum mau membagi Gandhi dengan keluarganya. Ya Tuhan... Ines kenapa sih?
"Kamu bakalan diomelin kayaknya Gan, soalnya udah rebut adeknya dari dia," sahut Ines.
Gandhi terkekeh, "Aku rebut adeknya juga dengan persetujuan adeknya. Adeknya mau juga kok sama aku," sahutnya.
Ines mengangguk, "Ya bener sih, aku emang mau sama kamu."
"Cie, sayang juga nggak?" tanya Gandhi.
Ines menggeleng kuat, "Kalau bilang gitu nanti makin kangen," ucapnya dengan manja.
Di sebrang sana Gandhi tertawa, gemas dan merasa bangga karena bisa membuat Ines merasakan hal yang sama dengannya.
"Sama dong. Mana nggak bisa nyubitin kamu," sahut Gandhi.
"Habis tahu pipi aku kalau dicubitin kamu."
Obrolan malam mereka selalu berlanjut dengan membahas hal yang tak penting sama sekali tapi Ines bahagia, setidaknya ia tetap bisa merasakan kehadiran Gandhi lewat obrolan mereka yang ngalor ngidul.
KAMU SEDANG MEMBACA
Pernikahan Impian
RomanceSetiap orang pasti punya pernikahan impian bukan? Bandung, 31 Maret 2020 Bismillah. Mulai nulis lagi. Semangat! Harus selesai! Harus konsisten! Kupukupukecil
