PART 6 - When I See You

6.5K 941 106
                                        

Whenever I see you, my heart pounds and trembles,

I've never been like this before

When I see your face, I imagine things by myself

I can't keep a straight face

(Sistar – Loving U)


-

-

-


Nes, aku di depan.

Ines tidak pernah mengikuti lomba lari ataupun marathon karena menurutnya itu terlalu melelahkan, tapi membaca pesan Gandhi yang mengatakan bahwa pria itu ada di depan rumah untuk menjemputnya membuat Ines merasa seperti sedang ikut marathon. Tahu kan, begitu kata 'Bersedia, siap, mulai!' dan peluit berbunyi kemudian para pelari segera berlari dengan kecepatannya masing-masing. Dan kecepatan Ines hari ini luar biasa sekali, Ega bahkan mengerjapkan matanya, keheranan karena adiknya pergi begitu saja seraya berlari tanpa berpamitan sama sekali. Namun beberapa saat kemudian Ines kembali masuk ke dalam rumah dan berteriak, "Aku pergi dulu! Kak Ega hati-hati pergi ke tokonya, bye bye."

Ega saja belum menjawabnya, namun Ines kembali menghilang di hadapannya. Ckckck, dasar. Jatuh cinta memang membuat kerja tubuh semakin maksimal rupanya. Siapa sangka Ines yang benci berlari malah terbirit-birit keluar rumah? Ia bahkan lupa dengan sepatu tinggi yang dipakainya. Kalau terkilir, Ega jamin sakitnya pasti akan lama.

Ines berdehem, mengatur napasnya dan membuka pagar rumahnya pelan-pelan. Ia melihat mobil Jeep Gandhi terparkir di sana.

"Morning."

Pria itu keluar dari mobilnya. Berdiri di dekat pintu mobil seraya tersenyum lebar pada Ines.

Astaga. Ada apa ini? Kenapa melihat Gandhi yang menjemputnya dan tersenyum seperti ini membuat Ines senang bukan main?

"Hai Gan, Good Morning."

"Udah siap? Nggak ada yang ketinggalan?" tanyanya.

Ines mengangguk, "Aku selalu prepare dari semalem, jadi nggak pernah ada barang yang ketinggalan," sahutnya. Ia masuk ke dalam mobil Gandhi dan mendengar pria itu berkata, "Cocok banget dong sama aku."

"Cocok apanya?" tanya Ines.

Gandhi meliriknya dan berkata, "Aku kalau siap-siap nggak pernah teliti. Pokoknya HP dan dompet yang utama, kalau di kantor mau survey sih yang siapin ya admin lapangan, aku tinggal pergi doang. Jadi aku butuh banget orang yang siap-siapnya kayak kamu."

Gadis itu menatap Gandhi seraya memiringkan kepalanya, "Butuh yang beres-beres aja nih jangan-jangan?"

Gandhi tertawa, "Aku sih tergantung kamu nangkepnya gimana," katanya.

"Emang kamu lempar apaan, harus aku tangkep."

Well, Ines merasa geli sendiri dengan apa yang baru saja ia katakan. Benar kata Ayas, masa PDKT itu masa paling menggelikan, bahkan nyaris menjijikan. Bukan apa-apa, para pihak juga tahu maksud dari masing-masing, cuma ya pura-pura bego aja. Atau mungkin lebih tepatnya menahan untuk GR karena kalau Ines GR dan maksud Gandhi bukan seperti yang dipikirkannya, rasanya akan sangat memalukan?

Ah, tuhkan. Ines mikir apa sih?


****


"Aku nggak yakin makan yang berkuah di pagi hari gini dan kuahnya santan," ucap Ines seraya menatap mangkuk di hadapannya yang berisi seporsi lontong kari untuk sarapannya bersama Gandhi.

Pernikahan ImpianTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang