Part 3

100 52 3
                                    

heyyo!

.
.
selamat membaca
.
.

"Beberapa tahun telah berlalu kini Delia tumbuh menjadi gadis berparas cantik nan anggun namun siapa sangka di balik keanggunanya, Delia tumbuh menjadi pumbunuh berdarah dingin"

hari demi hari berlalu kini Delia tengah Melanjutkan Sekolahnya di jenjang yang lebih tinggi disalah satu universitas yang berada di tengah-tengah kota.

Delia yang tengah menyusun rapi lembar demi lembar tugas yang telah ia selesaikan dan akan segera dikumpulkan kepada dosen pembimbing.

"Lia lukisan lo dah selesai?" tanya Naomi

"Udah, Yokk ke Cafe Alera sma Vina udh nungguin dari tadi" Ajak Delia

"yokk lah"

Selama di perjalanan, tiada hentinya mereka berbincang. Suasana hening, saat Naomi bertanya membuat Delia diam tak berkutik.

"Eh ortu lo ada di rumah gak? Ceritain dong gimana keluarga lo."

stir yang di genggam oleh Delia tercengkram kuat, tubuh yang gemetar, bibirnya kelu. Pertanyaan itu, pertanyaan yang sangat-sangat ia benci, pertanyaan yang membawanya di masa lalu yang ia tak perna inginkan. Naomi yang tak mendapat jawaban, menoleh kearah Delia. Mata Delia yang hanya tertuju di depan tak merespon, apakah ia salah bicara? Pikir Naomi.

Suasana di dalam mobil milik Naomi entah mengapa menjadi canggung.

"E-em maaf Lia, kalau pertanyaan gue sa-"

"gue ngak punya ortu." Jawaban itu neluncur saja dari bibir Delia.

"M-m-maaf Lia."

Delia melirik melalu ekor mata,
"Gak papa. gue cmn tggl berdua doang sama nenek" sahut Delia singkat

"hm gitu yah" Ucap Naomi mengangguk paham

Naomi tampak tak ingin lagi menggali lebih dalam Tentang siapa sabenarnya sahabat barunya, lagi pula menurut naomi itu tidak penting, Delia kembali menyetir dan berusaha untuk menggendalikan pikirinya.

sesampainya mereka Di parkiran cafe yang tak jauh dari kampus, terlihat dari dalam cafe dengan dinding kaca transparan, nampak Alera dan Revina yang tengah menunggu Sahabatnya.

"Udah lama nunggunya?" Ucap Delia ketika sudah berada di belakang sahabatnya

"nga kok baru ajah"sahut Revina

"Teman baru yah?" tanya Alera pada Delia

"kenalin ini Naomi sefakultas sama gue"sahut Delia memperkenalkan Naomi

"hai gue Revina panggil vina aja"ucap Revina sembari mengajak Naomi berasalaman

"gue Naomi" ucapnya dengan senyuman hangat di wajahnya

"Gue Alera terserah mau manggil siapa" ucap alera sembari memperlihatkan senyum tipis di wajahnya

beberapa waktu berselang Mereka berempat tampak nyaman dengan obrolan mereka.

Cleeeeekkk...
suar pintu cafe terdorong menandakan akan ada yang masuk.
Delia mendongkak, terlihat pria berpakaian serba hitam tengah berjalan ke arah Kasir.

"siapa dia? kenapa aura wajahny--"
"tidak!"

Delia terdiam dan terus memperhatikan Pria misterius yang masih berdiri di hadapan kasir.

"terima kasih" Ucap pria misterius itu setelah mendapatkan Coffee pesanannya lalu beranjak pergi.

"Gue duluan yah, gue ngak enak badan"ucap Delia

"biar gue anter" Sahut Naomi

"nga usah kalian lanjut ajah, Dahh" ucap Delia nampak terburu-buru.

Dengan Setengah berlari Delia menyusul Pria misterius yang baru saja memasuki gang kecil yang di penuhi lumut, sialnya Delia hanya mendapati Jalan buntu.

"Sial!" Delia mengumpat

"Aku tau kau akan Datang nona" suara serak Seorang pria

Delia membalikan badannya, matanya menatap sinis pria tersebut, jantungnya berdetak tak karuan.

"aku harap dengan ini kau akan menebus dosa-dosamu" Ucap Delia sembari mengikat rambut ikal Sepinggang miliknya.

.
.
.
Sekiaaannnnnn~~~
.
.
.

See you neat part
jangan lupa vote and komen:)
byby!

DELAWA [SLOW UP]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang