4

735 110 6
                                        

Seperti biasa Krystal terlihat duduk di pinggir lapangan basket ditemani udara musim gugur. Senyum merekah di wajahnya. Hari ini Krystal mengenakan jaket kulit hitam dengan hiasan kancing berwarna silver, dipadukan dengan kaos putih transparan yang terlihat jelas dalaman berwarna hitam. Skinny jeans dengan sepatu keds putih yang sudah tak terlalu putih lagi. Krystal meneguk minuman soda untuk membasahi tenggorokannya yang terasa kering. "Buku apa itu?" Krystal menatap Mara yang duduk di bagian bawah dengan cemilan keripik kentang. 

"Boleh kupinjam bukunya?" tatap Jarl dengan rambut barunya yang berwarna Rose Gold.

"T.I.D.A.K." Jawabku dengan senyum singkat. 

"Siapa yang memberikan hadiah buku pada seorang Krystal Claire Frost? haaha," tawa Sven menggema di udara. 

Nilam berbaring santai dengan menjadikan paha Sven sebagai alasnya. "Buku itu spesial. Kalau tidak spesial, mana mungkin dia terus memegangnya seharian! bahkan, dia membawanya ke dalam toilet." 

Mara menatapku dengan serpihan keripik kentang di kaos merahnya. "Apakah di dalamnya ada ganja?" Mereka semua menatapku. Berharap memang benar-benar ada. 

Aku menatap mereka dengan malas. "Jangan gila. Ini punya seseorang." Mereka ber-AH ria sembari mengangguk mengerti. 

"Ku kira kita bisa sedikit berpesta," sedih Jarl. 

Nilam bangun dari rebahannya dan menatap buku di tanganku dengan tatapan meneliti. "Darimana kamu dapat buku itu?" Wajahnya seperti tersadar akan sesuatu. 

Aku menatap buku ini dan tidak tahu harus berkata apa. "Hmm mendapatkannya saja." Nilam mendekatiku, duduk disampingku. "Buku itu." Mata Nilam tak lepas dari buku yang dipegang olehku. 

"Buku itu adalah buku yang kami pelajari di kelas literatur. Kami memiliki tugas untuk mencatat dan mengelola sebagai penelitian, seperti dirimu tetapi jauh lebih sulit. Buku itu milik Pak Robin dan dia memberikannya kepada Amber sebagai penghargaan karena... asal kamu tahu, dia itu cukup pintar di kelas kami."

Ku tatap Nilam, "Mengapa kamu tidak memberitahuku bahwa kamu sekelas dengan Amber?"

Nilam balas menatapku, dengan menyipitkan matanya "Apakah itu penting? lagi pula, siapa Amber?" nadanya meremehkan.

Ku hela nafas, "Lalu?"

Nilam melanjutkan, "Dan dia mendapatkan suatu kehormatan untuk membaca serta meneliti buku itu yang akan dia jelaskan di depan kelas. Akan tetapi, dua hari yang lalu dia tak membawanya, tak juga mengumpulkan tugas, dan kemudian diusir dari kelas. Robin sangat kecewa pada Amber, karena bukunya hilang saat dia berjaga di perpustakaan, asal kamu tahu, Robin sangat terobsesi dengan buku-bukunya." Jelas Nilam. Jantungku berdebar kencang, ku pegang erat buku ini. 

"Dan..." Nilam menatap Krystal dan buku ditanganya secara bergantian. "Buku itu sepertinya milik Amber. Mengapa bisa ada di tanganmu?" Krystal mengigit bibir bawahnya merasa bingung. Tak mungkin dia menceritakan kalau dirinya meminjam pada Amber. 

Mara menatap bingung, "Ada apa dengan wajah itu?" 

Jarl dan Sven hanya diam. Nilam kembali menatap, "Jangan bilang kamu mendekati Amber hanya karena kamu tidak ingin terus melihat wajah Audrey." 

Aku hanya menggelengkan kepala hingga mataku tak sengaja menatap Amber yang berjalan menuju belakang sekolah dengan memasukan kedua tanganya ke dalam jaket hitam. "Aku harus pergi."

Nilam memegang tanganku, menatap dengan serius. "Kami semua sudah memperingatkan padamu untuk tidak mendekati Amber, Krystal." Nilam bersunguh-sungguh, tetapi maafkan aku. 

The Night We MetTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang