6

656 89 6
                                        

Amber POV

Pagi ini terasa sunyi, hanya dentingan suara garpu dan pisau saja yang berbunyi. Hingga akhirnya ibu tiriku berbicara, "Aku ingin hari ini kamu menemui dokter Bruce," ucap Elena. 

Sangat membosankan mendengarnya tak ingin memulai pembahasan yang akan membuat darahku memanas. "Berhentilah membuat kekacuan, Amber. Berhentilah, kumohon." Ku tatap Elena yang berada di depanku. Menaruh garpunya, memilih untuk menceramahiku daripada menghabiskan sarapan roti selainya. Dia bahkan tak bertanya sekalipun mengapa bibir serta wajahku yang memar. Ini bukan pertama kalinya wajahku seperti ini. 

"Bukan urusanmu," jawabku singkat. Aku dan Elena saling bertukar pandang di meja kecil ini. 

"Berhenti mengatakan kalau ini bukan urusanmu! ini menjadi urusanku selama kamu disini, Amber! kamu adalah tanggung jawabku," tatap Elena dengan suara tinggi.

Wajahnya terlihat kesal menahan ledakan di dada serta memijat keningnya. "Kamu adalah tanggung jawabku, jadi berhentilah melakukan hal yang tidak-tidak. Tolong perhatikan dirimu, Amber. Aku tidak ingin kamu terus-terusan pulang pagi, pergi dan pulang semaumu. Seakan-akan kamu tidak memiliki aturan, seakan-akan tidak ada yang menunggu atau memperhatikanmu. " Nadanya seperti memohon, menahan rasa sabar yang luar biasa. 

Aku benar-benar membencinya, selera makanku sudah hilang karena dia, dan juga tambah menghancurkan pagi hariku. "Kamu tahu aku sangat membencimu, Elena. Jadi, jangan mengaturku. Ini adalah rumah ibuku, aku bisa saja mengusir kamu dan Jules dari tempat menyedihkan ini!" Suara ini cukup menegaskan bahwa aku membencinya, tak ingin melihatnya. "aku tidak tahu mengapa memiliki ayah yang bodoh. Yang mudah sekali mendapatkan wanita perusak rumah tangga..."

"Cukup!" Wajahnya memerah, dia mulai marah. "kamu tidak tahu terima kasih, Amber. Aku sudah menghidupimu, memberikanmu makan, sekolah yang layak, membiayai rumah sakitmu! sementara ayahmu masih mendekam di penjara tanpa melakukan apa-apa. Hanya menyerahkan anaknya yang tidak pernah tau rasa berterima kasih dan bersyukur! kamu harus tahu, Amber. Ayahmu menyimpan banyak rahasia yang bahkan tidak ku ketahui, bukan aku yang merusak rumah tangga kalian, tetapi ayahmu terus menggodaku karena ibumu sudah terpengaruh oleh obat-obatan dan mengakibatnya menjadi overdosis..."

"Cukup! Aku tidak ingin kamu membahas tentang ibuku! ibuku... ibuku seperti itu karena kamu terus menerus menganggu ayah, menggodanya hingga ibuku merasa hilang arah! membuat ibuku menjadi gila sedangkan kamu terus merayu ayahku hingga mereka bercerai! memeras harta ayahku tanpa sisa dan kamu menikmatinya sedangkan ibuku tidak lepas dari jarum suntik! menenangkan dirinya, berusaha mengalihkan pikirannya untuk tak memikirkan suaminya yang tak kunjung pulang. Yang  asyik bercinta dengan pacar barunya, diam-diam di kamar ibuku! jadi Elena, kamu dah ayah membunuh ibuku. Dan aku takkan pernah memaafkan semua itu." 

Ku bawa ransel dan jaketku, keluar dari rumah yang seperti neraka ini. "Amber!" Dia memanggilku, mungkin masih ingin berdebat. Menutup pintu, menuruni tangga dengan cepat, memakai jaket dan pergi menuju tempat yang bisa membuatku tenang. 

Kaki ini terus melangkah di tengah kerumunan orang banyak, orang-orang yang sibuk di dalam dunia mereka masing-masing. Ku naiki tangga besi menuju Brownsvill. Suara kereta berhenti, membuka pintu otomatis dan aku masuk ke dalamnya. Kereta bergerak menuju timur Brooklyn. Kereta tak begitu padat, masing-masing orang sibuk dengan urusan mereka, bermain ponsel, mendengarkan lagu, melamun, atau tertidur. 

Aku bangun dari duduk, memegang besi agar tidak terjatuh saat kereta berhenti. Pintu terbuka, melangkah keluar dari kereta. Menuruni anak tangga dengan matahari yang hangat. Bangun-bangunan kota berjajar rapih dengan warna coklat tua. Mobil-mobil terpakir di setiap sisi kanan dan kiri. Alunan musik hip-hop dapat terdengar saat berjalan di Brownsville.

The Night We MetTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang