Aku tidak tahu apa yang sedang dibicarakan mereka. Aku sedang tidak ingin mendengarkan apa-apa. Aku hanya ingin sendiri dan pergi dari tempat ini. "Dua minggu lagi kita akan melakukan test darah. Aku harap kamu bisa datang, Amber Leverett." Dokter Bruce, jujur saja dia tidak berguna sama sekali. Hanya memberikan obat dan beberapa terapi sialan.
Jules berjalan lebih dulu. Seperti biasanya Jules selalu mendampingi. "Kamu ingin makan siang apa?" tanya Jules. "Burger mungkin?" Kami pergi menuju tempat makan. Salju masih turun siang ini, membuatku harus memakai sweater merah pemberian Jules dan jaket tebal. Sedangkan Jules terlihat memakan coat abu-abu gelap panjang dan topi beanie yang dia ambil dari kamarku, seperti biasa selalu terlihat sempurna walaupun pakaian yang sederhana.
Jules memasukan kedua tangan ke dalam saku coat. "Apa kamu tidak apa-apa?" Jules terlihat banyak diam dari pagi tadi. Mungkin karena Elena sudah tidak pulang selama tiga hari. Ya, Elena mengatakan dia akan mengunjungi ayahku di penjara dan juga mengurus beberapa pekerjaan baru yang dia dapatkan. "Aku baik-baik saja." Senyum Jules yang memperlihatkan lesung pipi. Dia memiliki senyuman yang manis, tapi aku tahu dia berbohong.
"Apa ada yang ingin kamu lakukan hari ini selain makan burger?" Melihat Jules seperti ini cukup sulit. Apalagi, dia sudah mulai berubah. Hanya aku saja yang masih dalam proses yang sulit ku jalani. Jules masih terdiam tak mengatakan apapun, hingga dia menatapku. "Apa kamu marah pada Klause?" Langkah kami terhenti.
"Klause kekasihmu itu?" Jules memasang wajah tak suka, sedikit rasa kesal. "Dia bukan kekasihku, aku tak pernah menyukainya." Ucap Jules begitu tegas. Kedua mata coklat hazel yang lucu. "Aku tidak marah, tenang saja. Aku sudah memaafkan temanmu, mungkin aku akan memaafkan 100% jika sudah memukul wajahnya hingga memar." Jules kembali berjalan menundukan kepala, membuat poninya bergoyang indah.
Kami sudah sampai ke restoran, makan burger sembari menatap luar jendela yang di penuhi salju. Jules menatapku yang sedang mencampur burger dengan kentang secara bersamaan. "Awas tersedak."
Kami berdua menikmati makan siang, Jules terlihat lahap namun sedikit lamban dalam mengunyah. Apakah dia hanya memiliki dua gigi? "Aku pikir Klause adalah kekasihmu." Jules membersihkan bibirnya dengan tisu. "Tentu saja tidak. Hampir saja aku bertepuk tangan saat kamu mengatakan tentang Klause." Senyum Jules.
"Jadi apa yang ku katakan benar semua?" Jules mengangguk. "Aku tidak suka pada Klause, aku hanya menganggapanya teman." Jules meminum minuman soda. "Aku tahu seperti apa seorang Jules Isaias. Aku rasa semua orang akan rela mati-matian untuk bisa makan siang bersamamu. Jadi aku pikir adalah, tidak mungkin orang sepertimu tidak memiliki seseorang yang spesial." Jules menaruh minuman. Menatapku mengabaikan orang-orang yang mulai ramai.
"Tentu saja ada orang yang spesial di hatiku." Tatapan Jules membuatku terhipnotis. Hanya menatapnya, hanya dia. "Wow, luar biasa." Jules menghela napas. Sedikit memeringkan kepala sembari mengaduk-aduk minuman kola. "Itu tidak mudah," Dia kembali menatap begitu lekat. "Karena jika aku jatuh cinta padanya, maka akan menjadi rumit." Senyum Jules kembali menatap minuman kolanya. Hei! apa yang terjadi. Jantungku berdetak cepat, seperti ingin berlari menghindari wanita yang berada di depanku ini. Aku tidak tahu,seperti kehilangan akal sehat. Apa ini? ada apa ini? sial!
Setelah makan siang, kami memutuskan untuk membeli beberapa kebutuhan. Setelah itu kami memutuskan untuk pulang. Kami menggunakan kereta bawah tanah, duduk bersampingan. Aku mendengar Jules yang sedang berbicara pada temanya, berbicara mengenai pesta ku rasa. Jules menaruh ponsel ke dalam saku coat. "Pastinya pesta lebih seru daripada harus pulang ke rumah." Jules tersenyum menggelengkan kepala. Kedua bahu kami saling bersentuhan satu sama lain.
"Jujur saja, aku tidak pernah tertarik dengan pesta. Terlalu bising dan ramai." Jawab Jules. Rambut hitam lurus dan berponi membuat Jules terlihat seperti bonek Sejujurnya, aku memiliki kesamaan dengan Jules, tidak suka keramaian. "Aku pikir selama ini kamu pergi hampir setiap malam untuk berpesta." Jules menggelengkan kepala. Bahu yang melorot seakan begitu lelah. "Aku hanya mencoba untuk melupakan masalah, sama sepertimu. Tetapi tetap tidak meminum alkohol dan melakukan hal bodoh lainya." Ya aku tahu, Jules tidak meminum alkohol. Tidak sepertiku yang hampir setiap hari meminumnya secara diam-diam. Aku bersyukur Jules tidak seperti diriku.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Night We Met
RomantizmSudah terlalu banyak masalah yang Amber hadapi. Hingga tak dia sadari telah membantu seorang wanita yang malah menjadi masalah terbesarnya. Wanita yang mengikuti Amber dan berjanji akan menyembuhkan Amber dari kecanduan obat-obatan dan alkohol.
