19

581 84 23
                                        

Hari ini cahaya matahari enggan menghangatkan Kota New York. Awan masih bewarna abu kelabu, salju masih saja turun di bulan Desember. Anak-anak berpipi merah berpakaian tebal masih asyik membuat boneka salju dengan hiasan ranting kayu. Orang-orang dewasa terlihat menghangatkan diri meminum kopi, atau merias pohon natal mereka. Ada juga yang menikmati salju sembari berjalan ke kebun binatang. 

Seperti biasa Amber terlihat sibuk untuk mempersiapkan parade pinguin yang akan di mulai 5 menit lagi. Amber terlihat berkerja keras, terlihat lebih sehat dan semangat. Setidaknya, lingkaran hitam di bawah matanya mulai sedikit menghilang, tubuhnya mulai perlahan berisi, namun yang kurang adalah Amber harus segera pergi ke salon karena rambutnya yang sudah tak karuan. Ya, semua itu karena Krystal. 

Krystal memiliki pengaruh yang kuat di dalam kehidupan Amber. Krystal mulai menjadi bagian dalam hari-hari Amber yang ia lalui. Terkadang, Amber harus masuk ke dalam toilet hanya sekedar Facetime bersama Krystal, berhenti menulis untuk membalas pesan Krystal, menaiki kereta menuju tempat dimana Krystal janjikan untuk mereka bertemu, Amber selalu menuruti apa yang di katakan Krystal, dan itu menjadi salah satu hal yang ia sukai. 

Seorang wanita terlihat mengenakan coat biru dan syal hitam. Rambut hitamnya sedikit memutih akibat salju. Dia melangkah perlahan sembari menatap Amber yang menyiapkan ember berisi ikan segar. Senyuman tergores di wajah wanita berlesung pipi. Langkah kaki di percepat, mungkin tak sabar untuk menemui wanita berparas tampan itu. Pintu belakang terbuka, melangkah hati-hati hingga Amber menyadari kedatanganya. 

Senyuman merekah lebar di wajah Amber. "Jules!" Seketika Amber menghampiri wanita bernama Jules yang tersenyum untukknya. Pelukan hangat di berikan oleh Amber, sedikit membuat pipi Jules menghangat. "Aku merindukanmu." Yap, pipi Jules kini menjadi panas. Mereka berdua saling bertatapan satu sama lain. "Hmmmmh." Jules menatap belakang. "Amber, aku rasa ikan-ikan yang kau jatuhi itu bisa mengurangi cita rasa di mulut pinguin nanti." 

Amber menepuk jidat, langsung mengumpulkan ikan-ikan dan memasukan ke dalam ember yang ia jatuhi. "Hehe terlalu bersemangat. Tunggu sebentar, duduk saja disana. Jangan khawatir, tidak ada singa ataupun macan haha." Jules tersenyum. Duduk di pinggir panggung pentas, merapatkan coat dan syal. Sebuah kotak makan berada di paha Jules dan segelas minuman hangat. Jules tak henti menatap Amber yang berkerja keras. Membuat Jules tersenyum bangga.

"Hei!" Kini Amber duduk disamping Jules. "Kamu kedinginan? sebentar ya!" Amber datang kembali membawa jaket miliknya, jaket bomber hitam. "Pakailah, aku sudah terbiasa akan dingin." Amber memakaikan ke badan Jules. "Terima kasih." Amber mengangguk. Suasana sedikit canggung hingga Amber memberanikan diri untuk bertanya. 

"Aku pikir, kamu masih marah." ucap Amber lesu. Jules diam sejenak, merapatkan kedua alis. "Sedikit, lagipula aku sudah sangat bosan untuk marah padamu." jawab Jules membuat Amber tersenyum sembari menggaruk kepala. "Maafkan aku, Jules. Aku tidak tahu kalau Krystal-" 

"Tidak apa Amber, aku tidak ingin membahas hal itu." Amber mengangguk mengerti. Amber tahu bahwa Jules tidak suka jika membahas tentang Krystal. Amber juga tahu bahwa Jules melarang untuk mendekati seorang Krystal yang dianggap hanya mempermainkan hati Amber.

 "Sekali lagi,aku minta maaf." Jules menghela napas, melihat wajah Amber yang sudah dua hari tak dia lihat. "Akan ku maafkan jika kamu kembali ke rumah. Karena jujur saja, aku merasa takut sendirian." Amber tersenyum memamerkan gigi. "Baiklah, tetapi malam ini aku akan sedikit pulang telat. Selagi kau menungguku pulang, apa kamu tidak ingin memasak masakan enak untukku?" pinta Amber dengan mata memohon.

Jules kembali tersenyum memperlihatkan lesung pipinya yang menawan. "Kamu sedang di hukum, Amber. Bagaimana bisa aku memasakan makanan untuk seseorang yang sedang di hukum?" tanya Jules saling bertatapan. "Tentu saja! karena aku adalah adik kesayanganmu!" Senyuman Jules tak lagi merekah, hanya ada tatapan mata Amber di dalam pikirannya. "Bagaimana latihan baletmu? aku dengar kamu menjadi kandidat." Jules tak lagi menatap Amber, memilih menatap pinguin sedang berbaris. 

The Night We MetTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang