08: Pulanglah Baby Ece

115 69 1
                                        

"Kenapa lagi?" Atra muncul dari ruangan pribadinya

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Kenapa lagi?" Atra muncul dari ruangan pribadinya. Ekspresi seperti biasa tak bisa menutupi sepenuhnya bahwa tubuh sedang rapuh. Lagipula, dia sedikit pucat. "Gue denger dari tadi, lho. Ini bukan masalah penting."

"Mas—"

"Den," ujar Atra cepat. "Gue kecewa lu bersikap kayak gini."

Den terbelalak.

"Gue tahu lu lebih muda dari kita. Tapi lu juga anak SMA." Atra tak terlihat berkenan memberi celah untuk pembelaan Den masuk. "Dewasa itu bukan tentang usia, itulah kenapa lu harus menyesuaikan diri sama tempat tinggal saat ini."

Den menggeleng beberapa kali. "Semua gak harus begini, 'kan? Aku ... aku pengen Excellent yang dulu." Dia mendapat perlakuan—yang bisa dibilang—spesial dari sang pimpinan kala itu.

Den masih ingat, Atra selalu mendukungnya. Memberi pujian, menghadiri ke mana pun dia tampil, ada di sisinya kapan pun selagi rekan lain sibuk dengan persiapan prestasi masing-masing.

"Baby Ece masih bayi, beda sama lu. Bahkan lu lebih tua darinya!" Atra semakin gusar. "Lu anak tunggal, dan bungsu di sini. Tapi gak selamanya bakal jadi yang paling muda. Jadi, jangan berani-beraninya kayak gitu lagi!"

"Aku gak ngerti ...." Den agak memelas. "Bukannya kalian sadar, kita mulai salah—maksudnya, ini gak biasa. Makin banyak yang gak biasa!" Dia berganti tegas. "Gak ada artinya kalo Excellent kayak gini!"

Semua mendadak waspada ketika Atra melangkah cepat ke arah Den. Agak menunduk guna memandang lelaki dengan tinggi badan kurang darinya, menambah mematikan sorot tajam yang memancar. "Kalo lu gak suka Excellent kayak gini, keluar sekarang!"

Den tak sanggup menjawab. Tubuhnya gemetaran. Ingin mengalihkan tatapan dari Atra, tetapi sang pimpinan seolah mengeluarkan rantai-rantai tajam yang mencegahnya berpaling.

Yaya mundur telak, sekitar sudah terlalu panas. Berbanding terbalik dengan Sadi, tanpa ragu bergabung bersama dua pemuda si sumber api ruangan. "Bukan cuma Yaya, gue rasa lu juga perlu ngaca. Siapa yang menyesuaikan diri?"

"Sadi, gue logis—"

"Lu pimpinan." Sadi menjaga intonasi, meski ketus. "Lihat masalah dari segala sisi, pilih keputusan yang bijak, dan ....," dia mendadak tegas, kemudian melirih, "lu harus lebih halus."

Atra tertawa remeh. "Lu belain bocah itu?"

Sekian detik, Sadi tak bergeming. Ekspresi tiada goyah yang sejak tadi dipamerkan di depan Atra, tetap hadir. "Lu pikir begitu? Atra—"

"Lu juga gak suka keadaan Excellent sekarang?" Atra menantang. "Omong kosong! Lu gak berhak bilang gitu karena selalu lari dari tugas ... bayi itu! Demi kepentingan lu sendiri, dasar egois!"

Sadi mengerutkan alis rapat-rapat. Sedikit mendekat guna membisik, "Gue udah bilang sejak kemarin. Lu mungkin bisa nyembunyiin dari lainnya, tapi gak kalo gue. Alasan paling mendasar kenapa mau menerima tawaran gila Pak Farid ...."

ExcellentTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang