10: Kupon Ulang Tahun

105 61 5
                                        

Dering favorit para siswa—bel istirahat pertama—berbunyi sepuluh menit lalu

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Dering favorit para siswa—bel istirahat pertama—berbunyi sepuluh menit lalu. Raven duduk di pinggir lapangan. Meneguk botol air minum usai satu permainan bola basket. "Rekanmu dilihat, oper yang bener!"

Remaja-remaja masih terus bermunculan dari lorong kelas. Kebanyakan menuju kantin di sekeliling lapangan. Tak hanya makan, para gadis biasa melihat tontongan nomor satu mereka—Raven di tengah arena basket.

Selain berjuta pasang mata siswi mengamati, kerap ada sorot elang ikut mengawasi anggota terdepan tim basket. Namun, hari ini orang itu, Dario, tak terlihat.

Raven meminta temannya menggantikan di babak kedua ini, sedangkan dia hanya memberi arahan dan komentar. "Masih inget simulasi pergantian strategi mendadak yang kita bahas kemarin, 'kan? Lakuin yang bener dong!"

"Sorry, Rav. Sekali lagi."

"Perhatiin beneran! Kalo udah ada yang ngasih kode, kalian langsung ganti strategi." Raven memekik. "Makanya, perhatikan rekan-rekan kalian!"

Mereka memiliki beberapa strategi yang telah disusun dan masing-masing memiliki kode berbeda. Raven menegaskan hal itu, serta terus memberi masukan agar tiap pergantian dilakukan secara halus.

"Yang gue inginkan, semua tahu kapan strategi diganti, strategi baru mana yang dipake, dan harus ngapain. Semuanya dilakukan tanpa ada kesalahan komunikasi, kayak-kayak kita ngomong lewat pikiran. Paham?" Raven menatap mereka satu persatu. "Istirahat aja dulu."

Raven meladeni beberapa tos keren dari temannya, sebelum meneguk botol air lagi.

"Rav, lu tahu gak?" Hasbi, si pemain basket terbaik kedua—dia yang kerap menjadi kapten apabila Raven berhalangan mengikuti latihan—merebut botol minum Raven, kemudian menyiramkan ke atas kepalanya.

Raven menatap tajam seraya menoleh perlahan. Namun, Hasbi mengabaikannya. "Dies Natalis SMA Jagadhita tahun ini kayaknya gak bakal ngundang artis dari luar."

"Maksud lu?"

Hasbi mengacak rambut basahnya. "Semua sesi hiburan dari hari pertama sampai puncak bakal diisi sama musisi sekolah kita. Tiga sampai empat band tampil bergantian."

"Apa yang dipikirin OSIS." Raven memutar bola mata malas. Padahal, SMA Jagadhita memiliki Dario Alan Edwardo sebagai investor. Tinggal mengurus proposal, mereka bisa mencairkan dana lebih-lebih.

"Rav, permainan berikutnya, lu ikut ya?" Rekan lain menghampiri. "Gue tahu apa yang ada di otak lu itu brilian, tapi gue gak paham kalo gak dipraktekin."

Raven mengalihkan pandangan. "Hasbi pasti bisa."

"Kenapa gue? Elu kan kaptennya." Hasbi menyenggol agak kasar pemuda itu.

"Arahan gue udah cukup! Anak TK juga pasti paham!"

"Mana ada?" Hasbi meninggikan suara.

"Ayo, Kapten Raven!" Lainnya ikut meminta agar dia bergabung, juga seisi tim. Kehadiran Raven di tengah permainan selalu meningkatkan semangat mereka sampai membara. Hal ini yang dirindu.

ExcellentTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang